Surabaya,JatimUPdate.id - Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, mengatakan pembukaan Rumah Aspirasi Golkar Surabaya dan Retret Kader Partai Gerindra Surabaya untuk mematangkan kesiapan mereka menyongsong Pemilu mendatang.
"Jadi memang menurut saya yang terkait manuver Golkar dan Gerindra
menunjukkan bahwa keduanya tidak ingin kehilangan momentum ya dalam mempersiapkan diri menyambut pemilu mendatang." kata Bimo, kepada Jatimupdate, Jum'at (14/11).
Baca juga: Dosen Unesa: Sekda dari Luar NTB Bisa Jadi Kunci Netralitas dan Stabilitas Birokrasi
Dari sudut pandangnya, Golkar maupun Gerindra menyadari tidak mungkin melakukan persiapan saat menjelang pemilu.
Sehingga Rumah Aspirasi maupun Retret Kader, merupakan fondasi awal menata nafas panjang mereka agar tidak kehilangan momentum.
"Karena persiapan itu harus dimulai atau harus dari saat ini, tidak dalam waktu dekat gitu ya, sehingga mereka tidak kehilangan momentumnya. Akan tetapi ini kan perlu nafas panjang ya," jelas Bimo.
Bimo menganggap Rumah Aspirasi Golkar merupakan strategi ofensif untuk merebut ruang publik dan memperkuat penetrasi akar rumput.
Baca juga: Kos-kosan Harus di Jalan Raya, Pengamat: Ekonomi Lokal Senjang, Pengusaha Kecil Termarjinalkan
Sementara Gerindra memilih jalur konsolidasi menguatkan internal melalui retret kader hingga penataan basis data.
"Golkar tampil agresif menghidupkan mesin politiknya lebih awal, melalui pembukaan Rumah Aspirasi dan konsolidasi kader muda di lapangan. Ini strategi ofensif merebut ruang publik dan memperkuat penetrasi akar rumput." tutur Bimo
"Gerindra memilih jalur konsolidasi, terkesan lebih menarik menguatkan internalnya dulu. Retret kader hingga penataan basis data bersama dispendukcapil," urai Bimo.
Baca juga: Pengamat Ingatkan Pemkot: Abai Situs Sejarah Lemahkan Identitas Kota Pahlawan
Langkah ini, tambah Bimo, Gerindra ingin fokus pada penataan struktur dan keakuratan basis dukungan terlebih dahulu.
Kendati begitu, beber Bimo, cara ini sangat krusial menjaga stabilitas dan ketangguhan partai.
"Gerindra mengindikasikan lebih fokus memastikan ketertiban struktur dan keakuratan basis dukungannya dulu,
sebelum memasuki fase kompetisi terbuka. Strategi ini bisa dipandang lebih tenokratis ya, tapi juga justru krusial bagi partai besar yang ingin menjaga stabilitas dan daya tahan organisasinya," demikian Ken Bimo Sultoni. (RoY)
Editor : Yuris. T. Hidayat