Higemura : KEK ataupun Zona Ekonomi Industri Tembakau Mesti Berkorelasi Dengan Keberadaan Suramadu

Reporter : Deki Umamun Rois
Ketua Higemura H. Muhlis Ali duduk bersama Tokoh Masyarakat Madura, Achsanul Qosasih (foto Muhlis Ali for JatimUPdate.id)

Malang, JatimUPdate.id - Himpunan Generasi Muda Madura (Higemura) mengingatkan motivasi dan upaya mewujudkan Kawasan Ekonomi Khusus ataupun Zona Ekonomi Eksklusif Industri Tembakau mesti sinergi dan berkorelasi dengan Keberadaan infrastruktur Jembatan Madura yang punya misi besar untuk jadi pengungkit Perekonomian Madura.

Ketua Umum Higemura, Muhlis Ali menyatakan dukungan penuh atas inisiasi dan inisiatif sejumlah kalangan guna memberikan nilai tambah lebih besar atas komoditas unggulan warga Madura, Tembakau dalam kontek Kawasan Ekonomi Khusus ataupun Zona Ekonomi Eksklusif Industri berbasis komoditas Tembakau.

Baca juga: Matangkan Program Sekolah Desa, Graha Yakusa Foundation Bedah Kurikulum

"Ide mewujudkan KEK maupun Zona Ekonomi Eksklusif Industri berbasis Tembakau mesti linier dengan ide besar Alm Pak Noer [Mohammad Noer] dan Pak Imam Utomo, dua sosok Gubernur Hebat Jawa Timur, yang berada dibalik Jembatan Suramadu yang diharapkan jadi Pengungkit Perekonomian Madura dan Jatim," kata Muhlis kepada Redaksi JatimUPdate.id pada Selasa dini hari (25/11/2025), saat perjalanan dari Malang menuju Sumenep.

Muhlis mengingatkan semangat besar Pak Noer bagaimana beliau bersumpah agar Jembatan Surabaya-Madura bisa terwujud tersebut.

"Pak Noer pernah bersumpah akan berenang dari Ujung Surabaya dan Kamal Madura, bila Jembatan Suramadu tidak diwujudkan. Alhamdulillah beliau tidak jadi melaksanakan sumpah nadzarnya itu bahkan jadi saksi Jembatan Suramadu diresmikan pada Juli 2009 lalu itu. Semangat ini mesti kita warisi secara benar," ungkapnya.

Lebih jauh Muhlis Ali juga mengingatkan figur lain yang berjasa atas terbangunnya infrastrujtur antar pulau Jawa dan Madura sepanjang 5,6 km itu yaitu Gubernur Jatim periode 1998-2003 dan 2003-2008 Imam Utomo.

"Dalam sejumlah pidatonya, Pak Imam Utomo selalu menyinggung tentang 5 pengungkit perekonomian Provinsi Jatim pada periode keduanya."

Lima pengungkit perekonomian itu terdiri atas program Gardutaskin, Jalur Lintas Selatan, Pasar Induk Agrobisnis- Puspa Agro.

Baca juga: JK : Apel Relawan PMI Jatim Mesti Tumbuhkan Kembali Jiwa Kesetiakawanan Sosial dan Gotong Royong.

"Pengungkit kelima yaitu terbangunnya Jembatan Surabaya-Madura atau Suramadu. Mimpi banyak pihak keberadaan Jembatan Suramadu bukan hanya sekedar infrastruktur fisik, hanya untuk mobilitas penumpang, tetapi mesti jadi pengungkit perekonomian, jadi media logistik dan lainnya," kata Muhlis Ali.

Lebih dalam, kata Muhlis, harapan Pak Imam Utomo atas keberadaan Jembatan Suramadu, mesti jadi landasan terwujudnya KEK maupun Zona Ekonomi Eksklusif Industri berbasis Tembakau.

"Saya secara khusus mengikuti geliat aspirasi sejumlah stakeholder pertembakauan dan industri tembakau agar punya instrumen lebih baik dalam kontek pemberdayaan ekonomi sehingga muncul ide tentang Kawasan Ekonomi Khusus Tembakau dan berbagai diskusi telah tergelar. Hegemura tetap komitmen untuk mendukung demi mencari way out atas berkembangnya industri rokok yang pro ekonomi kerakyatan. Pada kontek ini Hegemura terlibat aktif," ungkap tokoh Madura yang kini bermukim di Kabupaten Malang Selatan itu.

Muhlis Ali menyebutkan ide tentang KEK Industri berbasis Tembakau yang dilontarkan stakeholder pertembakauan maupun ide Zona Ekonomi Eksklusif tembakau dari Tokoh Madura yang kini jadi legislator DPR RI, Said Abdullah, tidak perlu dipertentangkan mesti dicari titik temu agar model skema terbaik yang akan diwujudkan.

Baca juga: Muhlis Ali dan Graha Yakusa: Rumah Belajar Aktivis Masa Depan

Lebih dalam Muhlis Ali mengingatkan bahwa potensi perekonomian di Madura ini sangat beragam.

"Madura itu tidak hanya identik dengan komoditas Tembakau saja, ada juga komoditas garam karena Pulau Madura juga identik dengan Pulau Garam. Selain itu ada jagung, juga dulu pernah ada rencana perkebunan Tebu, bahkan ada rencana pendirian Pabrik Gula di Madura. Dan potensi minyak dan gas yang besar yang mesti juga berdampak besar pada warga Madura secara khusus dan Jawa Timur secara umum," ujarnya.

Secara khusus, Muhlis Ali mengingatkan lebih dalam tentang pepatah lama yang dulu seting dilontarkan oleh sesepuh ulama terkenal Madura KH Bahauddin Mudhary yang merupakan ayah kandung tokoh Madura, Achasul Qosasih.

"Pepatah itu berbunyi Madura mesti Terra Ta' Ademmar artinya Madura mesti jadi Terang mesti tidak ada lampu. Yang punya filosofis berdasarkan pesan tersirat dari alm KH Baha [KH. Bahauddin Mudhary] bahwa Madura dan warganya mesti berdampak pada lingkungan sekitar. Makna filosifis yang dalam atas Terra' Tak Ademmar," tegas Muhlis Ali. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru