Lamongan, JatimUPdate.id – Upaya inovatif Pemerintah Desa Sekaran, Lamongan, dalam mengkonversi masalah sampah menjadi sumber keuntungan ekonomi kini mendapat dukungan penuh dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Selasa, (25/11/2025).
Baca juga: Musdes LPJ BUMdesa Merdeka Desa Selokbesuki Kec. Sukodono, Kab. Lumajang Tuntas Terselenggara
Melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (PTJSL), PNM secara resmi menjalin kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sekar Sejahtera Sekaran untuk merevitalisasi unit budidaya maggot di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Sekar Manfaat Sekaran.
Tuntaskan Sampah, Bidik Keuntungan
Kepala Desa Sekaran, H. Isman Afandi, menyatakan optimisme tinggi terhadap program ini, dia berharap pengelolaan sampah melalui budidaya maggot ini dapat menjadi solusi efektif untuk menghabiskan tumpukan sampah desa.
"Kami berharap pengelolaan maggot ini tidak hanya menuntaskan persoalan sampah, tetapi hasilnya juga bisa dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan," ujar Kades Isman.
MOU Diteken, PNM Ungkap Sejarah Pengabdian
Komitmen kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara TPS 3R Sekar Manfaat dengan PT. Permodalan Nasional Madani (PNM).
Pimpinan PNM Cabang Lamongan, Anang Fatkur Rohman, dalam sambutannya, menyingkap sejarah PNM yang didirikan Pemerintah Indonesia pada tahun 1999 dengan misi mulia: mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK).
Baca juga: Baksos, Pembagian Bibit Pohon, Khitan Massal dan Pelayanan Publik Warnai HPN oleh PWI Lamongan
"Revitalisasi budidaya maggot ini adalah bagian dari komitmen PNM melalui Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (PTJSL), bekerja sama dengan BUMDes Sekar Sejahtera," jelas Anang Fatkur Rohman, menegaskan peran PNM dalam pemberdayaan masyarakat.
Maggot: Siklus Kilat, Potensi Besar Pakan Ternak
Kegiatan peluncuran dan penandatanganan kerja sama ini dihadiri oleh unsur penting dari PNM, Pemerintah Desa, BUMDes, serta antusiasme tinggi dari warga masyarakat.
Sementara itu, dari ranah akademisi, pihak Universitas Islam Lamongan (Unisla) diwakili oleh Bapak Khafid, S.Pt. (menggantikan Ibu Dr. Wahyuni). Ia memaparkan keunggulan maggot, yakni siklus budidayanya yang sangat cepat, hanya membutuhkan waktu 21 hari.
"Mengingat siklus yang cepat ini, maggot sangat potensial dan perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk diolah menjadi aneka makanan ternak yang bernilai ekonomis tinggi," kata Khafid.
Baca juga: KDMP Made Lamongan Resmi Beroperasi, Suplai Pangan hingga Jalin Kemitraan dengan Bulog
Visi Integrasi Sektor: Dari Sampah ke Pendapatan Desa
Direktur BUMDes Basuki Rahmad, yang didampingi oleh Ketua TPS 3R Sekar Manfaat Bpk. Moh. Amin, S.Pd., mengungkapkan visi ambisius pasca-kerja sama ini.
"Kami berharap program pengelolaan sampah di TPS melalui budidaya maggot ini dapat terintegrasi secara menyeluruh dengan berbagai sektor. Mulai dari peternakan ayam, perikanan (seperti ikan patin, bawal, mujair, dan koi), hingga sektor pertanian (melon dan anggur)," ujar Basuki Rahmad.
Integrasi ini, menurutnya, diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis yang solid dan berkelanjutan, yang pada akhirnya akan menjadi sumber utama peningkatan pendapatan desa. (wb/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat