PWI Malang Raya : Kota Malang Punya Succses Story, Koperasi Hindia Belanda, Bernama Koperasi Tumapel

Reporter : Deki Umamun Rois
Ketua PWI Malang Raya Cahyono bersalam Komando dengan Peneliti Senior Sygma Research and Consolting, Yuristiarso Hidayat (foto kanan) Halaman buku 10 Tahun Koperasi dengan foto kantor Koperasi Tumapel dan Kondisi Bekas Kantor Koperasi Tumapel saat ini.

Malang, JatimUPdate.id - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, Cahyono merasa takjub setelah mengetahui bahwa di era Hindia Belanda, 1932, di Wilayah Malang telah berdiri sebuah Koperasi Sekunder bernama Pusat Koperasi Kredit Toemapel (Tumapel) dengan sedikitnya 56 unit koperasi primer yang dibawahinya.

Bahkan, Cahyono semakin terkejut bahwa, tapak jejak kehebatan koperasi era kolonial itu ternyata bekas kantor Koperasi Tumapel itu masih berdiri megah meski sudah berubah fungsinya menjadi kantor sebuah bagian dari kementrian RI.

Baca juga: Mendes Dorong Pertumbuhan Kopdes, Minimarket Diminta Stop Ekspansi

"Saya menjadi semakin bangga menjadi Arek Malang, karena ternyata Kota Malang memang penuh dengan balutan sejarah besar, ada Kanjuruhan, ada Tumapel dan Singosari. Dan terkini ada Koperasi Tumapel yang telah beraktivitas kredit serta simpan pinjam di era Hindia Belanda pada kisaran 1930 an," kata Cahyono di sela-sela acara Penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Jatim Angkatan 59 yang diikuti 33 jurnalis di Kampus IKIP Budi Utomo Malang pada Minggu (30/11/2025).

Kota Malang Era Hindia Belanda Adalah Pusat Koperasi Hebat

Pemahaman terkait sejarah koperasi tua Tumapel itu, kata Cahyono, setelah dirinya mendapatkan sebuah buku lama tentang sejarah koperasi di Indonesia.

"Buku kuno itu ternyata ditulis oleh RM Margono Djojohadikusumo dengan judul 10 Tahun [1930-1940] Koperasi yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1941. Buku ini kami peroleh dari adik-adik peneliti  SRC [Sygma Research and Consulting]. Maturnuwun untuk buku penting ini," kata Cahyono yang mengapresiasi atas kegigihan para peneliti muda Sygma Research dalam menelisik dan menapaki jejak sejarah Koperasi-Koperasi era Hindia Belanda itu.

Secara khusus, Cahyono juga sempat menunjukkan keterkejutannya mana kala mengetahui bahwa Eyang Presiden RI Ke-8 itu, RM Margono Djojohadikusumo ternyata saat membersamai dan mengembangkan koperasi desa, lumbung desa, bank desa itu bermukim di Kota Malang.

"Jadi sangat wajar bila era itu Pusat Koperasi Tumapel dengan 56 koperasi primer itu ternyata dibina oleh tangan dingin RM Margono saat bermukim di Kota Malang. Alhamdulillah, peneliti Sygma Research ternyata juga sudah menemukan bekas bangunan kantor Koperasi Tumapel yang kini infonya jadi kantor ATR/BPN Kabupaten Malang. Ini penemuan bersejarah," ujar Cahyono bersemangat.

Secara khusus, informasi keberadaan jejak koperasi Tumapel itu, kata Cahyono, menjadikan pengurus PWI Malang Raya menjadi semakin semangat guna mengembangkan institusi sokoguru perekonomian Indonesia dengan nafas usaha bersama itu.

"Alhamdulillah, PWI Malang Raya sudah memiliki Koperasi Wartawan, hal ini jadi terkoneksi dengan sejarah masa lalu dan misi besar PWI Pusat yang juga akan mendorong keberadaan wadah koperasi wartawan di seluruh PWI di Indonesia," tegasnya.

Lebih jauh Cahyono semakin menyakini bahwa kengototan dan keseriusan Pemerintah Pusat untuk mendorong keberadaan Koperasi Desa dan Koperasi Kelurahan Merah Putih menjadi motor perekonomian di level bawah khususnya di Desa dan Kelurahan mesti didukung oleh semua pihak.

"Program KDMP dan Koperasi Kelurahan MP mesti didukung oleh semua kalangan termasuk para jurnalis. Meski di era modern ini tantangan dan kendalanya juga banyak, namun dari cerita dan informasi para peneliti Sygma Research yang telah berkeliling di tapal kuda (Lumajang, Jember, Bondowoso), Madura dan Banyumas, Jawa Tengah, maka kalau era Penjajahan Hindia Belanda saja Koperasi bisa tumbuh subur, masak era Indonesia Merdeka berumur 80 tahun menuju Indonesia Emas 2045, tidak bisa sukses," ungkap Cahyono seolah bertanya dengan penuh optimis.

Koperasi Harus Dikembangkan dengan Skema Pentahelix

Cahyono menyatakan pihaknya juga berencana untuk berkomunikasi dengan para pihak guna ikut mendorong berkembangnya koperasi di Malang Raya khususnya koperasi desa merah putih.

Baca juga: Pemerintah Pastikan Dana Desa untuk Kopdes Merah Putih Tak Ganggu Pembangunan Desa

"Keberadaan KDMP dan Koperasi Kelurahan MP mesti didukung setidaknya oleh 5 stakeholder atau bahasa kerennya Pentahelix dimana salah satu aktor dan stakeholder itu adalah pers, media massa dan jurnalis yang mesti terlibat dalam mensukseskan program KDMP dan Koperasi Kelurahan MP itu. Jurnalis tidak hanya pada fungsi kewartawanannya saja, tapi juga mesti terlibat sebagai anggota koperasi," ujar Cahyono yang berkeinginan untuk menggelar acara seminar atau sarasehan agar geliat progres KDMP dan Koperasi Kelurahan MP di Malang Raya bisa lebih progresif.

Letak Lokasi Koperasi Tumapel

Sementara itu, CEO Sygma Research and Consulting, Ken Bimo Sultoni menyatakan pihaknya masih perlu lebih mendalami lagi lokasi pasti untuk bekas kantor Koperasi Tumapel. Karena dari hasil penelusuran data sejarah memang ada perkembangan.

"Yang jelas Sygma Research memastikan lokasi bekas kantor Koperasi Tumapel itu berada di kawasan Jalan Kawi atau dulunya disebut Kawi Street. Awal dari struktur bangunan yang tampak depan menunjukkan itu di bangunan Kantor ATR/BPN, namun ada data baru yang didapat tim riset SRC bahwa lokasi bekas kantor itu adalah kini jadi gedung Bank Rakyat Indonesia. Semuanya mesti didalami dan di verifikasi," kata Ken Bimo yang juga staf pengajar di Fisip Universitas Negeri Surabaya, pada Redaksi JatimUPdate.id, Selasa pagi (2/12/2025).

Pernyataan ini sekaligus pelurusan dan bentuk ketelitian serta keseriusan Sygma Research and Consulting dalam akurasi data sehingga menunjukkan bahwa SRC terus memvalidasi data lapangan dengan literasi data kepustakaan.

Catatan Redaksi JatimUPdate.id menyatakan bahwa dukungan atas keberadaan institusi koperasi desa dan koperasi kelurahan saat ini semakin besar, meski proses untuk memberikan transformasi informasi dan pengetahuan koperasi harus juga semakin meluas di masyarakat dan itu jadi ranah jurnalis dan media massa. 

Redaksi JatimUPdate.id dan Sygma Research and Consulting (SRC) sejak Oktober 2024 telah getol melakukan penelitian dan riset sejarah baik tentang figur RM Margono Djojohadikusumo serta tentang legacynya yaitu BNI 1946, koperasi, lumbung pangan, bank desa di sejumlah wilayah baik Jatim dan Jateng.

Baca juga: Desa Kesulitan Lahan untuk KDMP, Pemerintah Siapkan Regulasi

Selain itu, Redaksi JatimUPdate.id dan Sygma Research juga mulai menggali bahwa kehebatan koperasi era Hindia Belanda itu merupakan kerja sejumlah pihak yang jadi motor penggeraknya.

Figur-figur itu diantaranya, Raden Arya Wiratmadja, pendiri Koperasi pertama di Purwokerto, Banyumas pada 1895. Drs Mohammad Hatta, seorang konseptor Koperasi di Indonesia yang menuangkan pikirannya dalam pasal 33 ayat 1, 2, dan 3 UUD 1945 yang jadi dasar regulasi perekonomian dan koperasi di Indonesia modern.

Sosok lainnya yaitu dr Soetomo, pendiri Budi Utomo, Indiche Study Club dan Perhimpunan Indonesia Baru itu adalah peletak dasar pergerakan organisasi bentukannya itu untuk membentuk, menggerakkan keberadaan koperasi sebagai organisasi pemberdayaan ekonomi kaum pribumi.

Dr Sutomo-lah yang mendorong organisasi pergerakan nasional kala itu khususnya pada 1912 an untuk bersama-sama menggerakkan koperasi sebagai alat perjuangan memerdekakan ekonomi bangsa pribumi sehingga sejumlah organisasi kemasyarakatan kala itu menjadikan koperasi sebagai misi diantaranya Serikat Dagang Islam yang kemudian jadi Serikat Islam.

Partai Nasionalis Indonesia dan Muhammadiyah juga diketahui mendirikan koperasi-koperasi untuk wadah perekonomian para anggotanya diera penjajahan Hindia Belanda, karena diketahui bahwa Koperasi juga merupakan bagian dari Kebijakan Politik Etis Pemerintah Kerajaan Belanda dibidang ekonomi selain sektor pendidikan dan politik.

Sosok lainnya yang berjasa adalah RM Margono Djojohadikusumo yang dengan sangat otentik mewariskan ke publik Indonesia jejak sejarah melalui buku 10 Tahun 1930-1940 koperasi yang berisi catatan kegiatan, sejarah koperasi dan seputar perkembangan koperasi era Hindia Belanda hingga rekam jumlah koperasi sekunder dan koperasi primer yang terekam hingga 31 Desember 1940 itu. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru