Oleh: Novia Adibatus Shofah
Baca juga: Mematahkan Mitos, Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Pergerakan
UIN Sunan Ampel Surabaya
Surabaya, JatimUPdate.id - Pada, Sabtu (20/12/2025), acara bertajuk Bedah Buku & Creative Workshop Ekofeminisme - Body Mapping digelar di Auditorium IFI East Surabaya, Kompleks AJBS.
Buku Senjata Kami adalah Upacara Adat membaca krisis ekologis sebagai relasi yang bersifat siklis antara masyarakat adat, pemerintah atau penguasa, dan korporasi, yaitu relasi yang kerap timpang dan merugikan tubuh serta alam.
Acara ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pertama bedah buku Senjata Kami adalah Upacara Adat, dan sesi kedua diisi dengan workshop kreatif body mapping.
Kegiatan ini menghadirkan Siti Maimunah selaku narasumber, penulis buku, dan Direktur Mama Aleta Fund, serta para penanggap dari beragam latar belakang, yaitu jurnalis Heti Palestina, peneliti Emma Alfa Nadia (Universitas Airlangga), seniman Peni Citrani P, serta Rossy You selaku puan adat Papua.
Dalam pemaparannya, Siti Maimunah menjelaskan bahwa buku Senjata Kami adalah Upacara Adat lahir dari pengalaman para perempuan adat yang berada di garis depan menghadapi perusakan lingkungan, kekerasan struktural, dan ekspansi industri ekstraktif.
“Kerusakan alam bukanlah nasib atau takdir, melainkan hasil dari keputusan politik, kebijakan negara, dan kepentingan ekonomi,” ujarnya.
Dampak dari kerusakan tersebut, menurutnya, paling nyata dirasakan oleh tubuh, terutama tubuh perempuan dan anak-anak, mulai dari kesehatan hingga hilangnya sumber pangan. Selain itu, Maimunah juga menegaskan tentang prinsip hidup.
“Kami tidak menjual apa yang tidak bisa kami buat.” Ia menjelaskan bahwa manusia tidak menciptakan pohon, hutan, atau gunung, sehingga tidak memiliki hak moral untuk menjualnya.
“Karena kita tidak bisa menciptakan pohon, maka kewajiban kita adalah merawatnya. Hutan dan tubuh kita tidak terpisahkan,” katanya, bagi Maimunah, merusak hutan sama artinya dengan melukai tubuh manusia itu sendiri.
Salah satu gagasan yang juga menarik perhatian peserta adalah tafsir baru atas ungkapan patriarki kuno tentang konsep 3R sumur, dapur, dan kasur.
"Sekarang, perempuan sudah tidak lagi mengamini konsep 3R seperti dahulu," ungkap Maimunah.
Dalam tafsir baru, sumur dimaknai sebagai ruang konservasi air dan keberlanjutan kehidupan, dapur sebagai ruang kedaulatan pangan, dan kasur sebagai praktik self-care yang sering diabaikan yaitu mulai dari tidur yang cukup dan berkualitas hingga perhatian pada kesehatan tubuh perempuan.
Baca juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba
Tafsir ini, menurutnya, bukan bentuk domestikasi perempuan, melainkan politik perawatan yang selama ini diabaikan.
Dalam konteks ekofeminisme Islam, Maimunah juga mengutip pemikiran Nur Rofiah selaku akademisi bidang tafsir dan pendiri Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI) mengenai hak-hak hakiki perempuan yang berangkat dari 5 pengalaman biologis yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, dan menopause, serta 5 pengalaman sosial yaitu stigmatisasi, subordinasi, marjinalisasi, kekerasan, dan beban ganda.
Pengalaman-pengalaman tersebut, menurutnya, justru harus dijadikan dasar keadilan dalam relasi gender dan tafsir keagamaan.
Diskusi berkembang melalui tanggapan para penanggap. Heti Palestina, seorang jurnalis, menyoroti minimnya suara perempuan adat dan komunitas akar rumput dalam pemberitaan lingkungan.
Ia menilai media masih terlalu sering memusatkan perhatian pada data dan proyek, sementara pengalaman hidup warga terdampak jarang diangkat.
Emma Alfa Nadia, peneliti dari Universitas Airlangga, menyinggung bencana ekologis yang terjadi di tiga provinsi pulau Sumatera. Ia menjelaskan bahwa banjir bandang di wilayah tersebut tidak bisa lagi disebut sebagai bencana alam semata.
“Banjir itu tidak hanya membawa air dan lumpur, tetapi juga batang-batang kayu gelondongan. Kerusakan paling parah justru disebabkan oleh terjangan kayu-kayu yang hanyut di arus deras,” ujarnya.
Menurut Emma, kondisi ini merupakan akibat langsung dari kerusakan hutan dan buruknya tata kelola lingkungan.
Baca juga: Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan
Berdasarkan catatan WALHI dan hasil analisis Greenpeace Indonesia menyatakan bahwa bencana ekologis Sumatera disebabkan oleh perubahan bentang ekosistem penting seperti perusakan hutan, alih fungsi lahan di wilayah DAS, dan diperparah oleh krisis iklim.
Selain itu, Emma juga menekankan peran luar biasa perempuan dalam kehidupan. Ia menyebut bahwa perempuan memiliki ethics of care. Hal itu terbukti melalui peran perempuan yang sejak awal telah berbagi kehidupan dengan anak sejak masih di dalam rahim, kemudian berbagi kembali saat melahirkan melalui air susu ibu, dan terus berbagi sepanjang hidupnya.
“Perempuan itu hebat dan luar biasa karena sejak awal hidupnya adalah tentang berbagi,” katanya.
Dari perspektif seni dan budaya, Peni Citrani P menekankan bahwa perjuangan ekologis tidak hanya disuarakan melalui tulisan, tetapi juga melalui tutur dan tradisi lisan. Ia menilai cerita, mantra, nyanyian, dan ingatan lisan merupakan medium penting dalam membangun kesadaran ekologis.
"Saya itu bergetar jika mendengarkan sebuah mantra," katanya. Karena itu, literasi ekologis perlu dilakukan tidak hanya melalui teks, tetapi juga melalui praktik tutur yang hidup di masyarakat.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Rossy You, Puan Adat Papua, yang menegaskan bahwa bagi masyarakat adat, tubuh manusia, tanah, dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika alam dirusak, tubuh manusia ikut menanggung dampaknya.
Sesi kedua acara diisi dengan creative workshop body mapping, di mana peserta diajak memetakan pengalaman tubuh sebagai ruang refleksi personal dan kolektif. Melalui metode ini, tubuh diperlakukan sebagai sumber pengetahuan dan kesadaran ekologis, bukan sekadar objek.
Di tengah krisis ekologis yang kian nyata di Indonesia akhir-akhir ini, acara ini mengingatkan bahwa mungkin jawaban tidak selalu datang dari kebijakan besar, melainkan dari cara paling mendasar yaitu mulai dengan merawat, mendengar, dan tidak menjual apa yang tidak bisa kita ciptakan. (wb/red)
Editor : Redaksi