Proyek KRL Surabaya Raya Dimulai 2027, Anggaran Capai Rp5,4 Triliun

Reporter : M Aris Effendi
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, saat jumpa pers (doorstop) dengan awak media.

 

Surabaya, JatimUPdate.id, – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan pembangunan tahap pertama proyek Kereta Rel Listrik (KRL) Surabaya Regional Railway Line (SRRL) akan dimulai pada 2027.

Baca juga: Rel KA Kalisat–Bondowoso–Panarukan Dibahas Serius, Dishub Jemput Bola ke Kemenhub

Tahap awal pembangunan difokuskan pada koridor Stasiun Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo, dengan nilai anggaran mencapai Rp5,4 triliun.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, menjelaskan bahwa proyek SRRL merupakan inisiatif pemerintah pusat yang dijadikan percontohan transportasi publik berbasis energi hijau di enam kota besar Indonesia. Proyek ini akan didanai melalui pinjaman lunak dari Jerman.

“Ini proyek pusat sebagai percontohan public transport green energy di enam kota besar. Untuk Surabaya Raya akan lebih agresif, dengan kontrak fisik pertama ditargetkan mulai 2027 atau 2028 untuk koridor 1A, yakni Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo,” ujar Nyono usai pertemuan dengan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Jumat (9/1/2026).

Nyono mengungkapkan, desain awal proyek koridor Surabaya–Sidoarjo yang semula menggunakan konsep jalur layang (elevated track) kini diubah. Jalur KRL akan memanfaatkan double track di atas lahan milik PT KAI, yang berdampingan dengan rel eksisting.

“SRRL nanti menggunakan lahan KAI yang berdampingan dengan rel yang sudah ada, bisa di sisi kanan atau kiri. Untuk konsep elevated, itu nanti direncanakan pada proyek LRT dengan pendanaan dari Inggris,” jelasnya.

Baca juga: Gempa Guncang Jawa Timur, Sejumlah Operasional Kereta Api Tertunda

Penandatanganan Detail Engineering Design (DED) untuk koridor 1A dan 1B dijadwalkan dilakukan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada akhir Januari 2026.

Koridor 1A diprioritaskan karena tingginya mobilitas warga Surabaya–Sidoarjo yang mencapai sekitar 300 ribu penumpang per hari. Sementara koridor 1B (Stasiun Gubeng–Stasiun Pasar Turi) akan dikerjakan menyusul, setelah proses relokasi dan ganti untung warga yang menempati lahan PT KAI selesai.

“Setelah koridor 1A dan 1B rampung, dilanjutkan ke segmen dua dari Stasiun Pasar Turi ke Stasiun Babat Lamongan, termasuk Gresik. Lalu koridor ketiga Wonokromo–Sidoarjo–Mojokerto,” paparnya.

Baca juga: Dishub Jatim Lakukan Penyesuaian Layanan Trans Jatim Koridor Malang Selama Mujahadah Kubro NU

Seluruh pendanaan proyek SRRL Surabaya Raya akan bersumber dari APBN melalui pinjaman lunak bank pembangunan Jerman, Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW). Sementara APBD Jawa Timur akan digunakan untuk mendukung penyesuaian teknis di daerah, khususnya pembenahan perlintasan sebidang.

“APBD Jatim nanti digunakan untuk membenahi perlintasan-perlintasan sebidang yang perlu penyesuaian atau pemunduran,” pungkas Nyono.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berharap proyek SRRL dapat menjadi solusi transportasi massal yang cepat, ramah lingkungan, dan terjangkau, sekaligus memperkuat konektivitas kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan. (roy/ries)

Editor : Ibrahim

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru