Aroma 2029 di Surabaya: Armuji, Kandang Banteng, dan Manuver Dini Kekuasaan

Reporter : Miftahul Rachman

Tahun 2026 baru saja merekah. Namun di Surabaya, aroma politik 2029 sudah mulai tercium tajam. Belum ada deklarasi, belum ada baliho raksasa, tetapi gerak-gerik politik perlahan keluar dari bayang-bayang. Kota Pahlawan kembali menjadi arena, dan satu nama mulai sering disebut dalam bisik-bisik politik: Armuji.

Arek Suroboyo tulen ini bukan pendatang baru. Puluhan tahun ia mengarungi pahit getir politik Surabaya, jatuh bangun, diserang, bertahan. Kini, banyak kalangan menilai Armuji berada di titik paling strategis sepanjang kariernya. Ia menjabat Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, partai pemenang pemilu di kota ini, yang oleh banyak orang disebut sebagai kandang banteng.

Baca juga: Surabaya Butuh Pengelolaan Lumpur Tinja, Ciptakan Iklim Sehat di Permukiman

Di titik itulah peluang dan ancaman bertemu.

Sebagai figur yang mengakar dan memiliki kendali struktural partai, Armuji dipandang sebagai kandidat kuat menuju Pilkada Surabaya 2029. Dan seperti hukum besi politik: semakin besar peluang seseorang, semakin dini pula upaya untuk menjegalnya.

Serangan itu tak datang dalam bentuk baliho tandingan atau pernyataan terbuka. Ia hadir perlahan, lewat narasi. Lewat pemberitaan. Lewat forum-forum diskusi.

Dalam beberapa pekan terakhir, nama Armuji kembali dikaitkan dengan kasus bimtek DPRD Surabaya, perkara lama yang telah bergulir bertahun-tahun lalu dan sudah menghasilkan putusan hukum bagi para pelakunya. Kini, kasus itu kembali diangkat, dengan Armuji ditempatkan sebagai saksi. Status yang secara hukum tak menyatakan kesalahan, namun secara politik sarat makna.

Pemberitaan pun mengalir deras. Narasinya nyaris seragam, menghubungkan Armuji dengan korupsi masa lalu, seolah waktu tak pernah bergerak. Sebuah branding lama yang dihidupkan kembali.

Tak berhenti di ruang redaksi, dinamika itu merembes ke ruang diskusi publik. Sebuah forum bertajuk “Apa Kabar Surabaya”, yang sejatinya digagas sebagai catatan kritis atas pemerintahan Eri Cahyadi–Armuji, berubah arah. Fokus diskusi perlahan mengerucut, dan Armuji kembali menjadi sasaran utama.

Di awal forum, diputar video testimoni warga. Namun bagi banyak peserta, wajah dan suara di dalam video itu bukanlah warga biasa, melainkan jurnalis media online lokal yang selama ini dikenal aktif mengkritik Armuji. Sebuah pengaburan identitas yang memantik tanda tanya, kritik atau konstruksi opini?

Baca juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba

Di kalangan wartawan Surabaya, beredar cerita bahwa forum tersebut merupakan kolaborasi kepentingan antara sebagian jurnalis dan seorang legislator yang disebut-sebut menyimpan ambisi besar menuju kursi Wali Kota Surabaya 2029. 

Sosoknya bukan nama asing di DPRD, dikenal memiliki sumber daya kuat dan jejaring luas. Menariknya, lanskap ini semakin kompleks karena media yang paling agresif menguliti Armuji diketahui dimiliki oleh seorang politisi PDI Perjuangan, anggota DPRD Jawa Timur, sekaligus putra mantan Wali Kota Surabaya. Di mata pengamat internal partai, modal politik dan historis itu cukup untuk membuka jalan merebut kendali DPC, jika Armuji tergelincir. Dan tentu saja, tiket menuju 2029 menjadi hadiah utamanya.

Sementara itu, sang legislator lain yang disebut-sebut berada di lingkaran manuver juga merasa punya bekal. Modal finansial kuat, status pengusaha, serta posisi di partai penguasa membuat ambisinya kian terang. Branding mulai dibangun. Jurnalis dirangkul. Opini publik diarahkan.

Untuk sementara, kepentingan-kepentingan itu tampak sejalan. Mereka bersekutu dalam satu tujuan: menghadang Armuji sejak dini.

Namun para pemain ini seolah lupa satu hal penting, Surabaya bukan kota netral. Ia adalah kandang banteng. Dan Armuji bukan figur yang lahir kemarin sore. Basisnya mengakar, jejaringnya panjang, dan pengalaman politiknya ditempa oleh konflik.

Baca juga: Isyaratkan Bersedia Jabat Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri: Kader Harus Siap Perintah Partai

Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa menyerang siapa, melainkan: apa yang terjadi jika Armuji memilih bergerak?

Akankah ia tumbang oleh manuver dini, atau justru mereka yang bersekutu yang akan pontang-panting ketika panggung politik sesungguhnya dibuka?

Surabaya baru memasuki bab awal. Dan seperti biasa, politik kota ini tak pernah sepi dari drama. Kita tinggal menunggu, siapa yang kelak tersungkur, dan siapa yang bertahan hingga 2029.

*)Oleh Ferdiansyah, wartawan senior di Surabaya 

Editor : Ibrahim

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru