Eco Enzim: Solusi Inovatif Pengelolaan Sampah Kota Batu

Reporter : Deki Umamun Rois
Sejumlah ibu-ibu tengah memproduksi Eco enzim. Eco enzim adalah cairan serbaguna hasil fermentasi kulit buah dan sisa sayuran yang sering dianggap limbah.

 

Kota Batu, JatimUPdate.id —Aroma menyengat dari tumpukan sampah organik dan asap pekat dari incinerator sering kali menjadi tantangan di tempat pengelolaan sampah.

Namun, TPS3R Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, menghadirkan solusi inovatif dengan memanfaatkan cairan fermentasi bernama eco enzim.

Cairan ini tak hanya menekan polusi udara, tetapi juga berkontribusi mengurangi emisi gas metana, penyebab utama pemanasan global.

Eco enzim adalah cairan serbaguna hasil fermentasi kulit buah dan sisa sayuran yang sering dianggap limbah.

Di TPS3R Dadaprejo, cairan berwarna cokelat ini menjadi senjata andalan dalam mengatasi bau sampah, mengurangi emisi karbon, hingga menjadi pupuk organik.

Ketua TPS3R Dadaprejo, Sunarto, menjelaskan bahwa cairan eco enzim diproduksi secara mandiri dan diaplikasikan langsung di lapangan.

Salah satu penggunaannya adalah sebagai campuran air untuk disemprotkan ke incinerator.

“Eco enzim membantu mengurangi pekatnya asap dari incinerator, sehingga menekan kandungan emisi karbon yang mencemari udara,” ujar Sunarto.

Selain itu, cairan ini juga dimanfaatkan untuk mengatasi bau pada tumpukan sampah organik dan mencegah gangguan vektor penyakit, seperti lalat.

Bahkan, eco enzim dapat digunakan sebagai pupuk organik dan pestisida nabati, yang mendukung konsep ekonomi sirkular.

Untuk memperluas dampak positif eco enzim, TPS3R Dadaprejo mengadakan pelatihan pembuatan eco enzim yang didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu.

Pelatihan ini melibatkan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPS3R serta pengelola bank sampah di seluruh Kota Batu.

Gung Endah, seorang praktisi eco enzim sekaligus mentor pelatihan, memperkenalkan “rumus paten” pembuatan eco enzim, yaitu 1:3:10.

Rumus ini terdiri atas satu bagian gula (molase atau gula merah), tiga bagian sampah organik (kulit buah/sayuran), dan sepuluh bagian air, yang difermentasi dalam wadah tertutup selama tiga bulan.

“Rumus ini hasil penelitian Dr. Rosukon Poompanvong dari Thailand selama 30 tahun. Ilmu ini diberikan secara cuma-cuma kepada kita yang peduli lingkungan,” ungkap Gung Endah.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami pentingnya memanfaatkan sampah organik sebagai bahan dasar eco enzim.

Jika dibiarkan tanpa pengelolaan, sampah organik dapat membebani tempat pembuangan akhir (TPA) dan menghasilkan gas metana yang memicu pemanasan global.

Eco enzim telah membuktikan efektivitasnya dalam pengurangan emisi gas metana di TPA Tlekung, Kota Batu, yang menjadi proyek percontohan sejak Februari 2021.

Sebelum disemprot dengan eco enzim, kadar gas metana di TPA tersebut mencapai 1.600 ppm (parts per million).

“Setelah disemprot secara rutin, kadar metana turun drastis menjadi 600 ppm,” jelas Gung Endah.

Penyemprotan dilakukan selama 1,5 tahun, yang tak hanya menurunkan kadar metana tetapi juga mengendalikan bau di sekitar TPA. Namun, operasional TPA Tlekung akhirnya ditutup pada Agustus 2022 karena kelebihan kapasitas.

“Penutupan itu sempat memicu protes masyarakat karena bau yang muncul akibat overkapasitas dan penghentian penyemprotan eco enzim,” kenang Gung Endah.

Upaya TPS3R Dadaprejo dalam memanfaatkan eco enzim adalah langkah nyata dalam mengubah sampah organik dari masalah menjadi solusi.

Dengan melibatkan masyarakat melalui pelatihan dan aplikasi langsung, TPS3R berhasil menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Langkah ini juga menjadi bagian dari aksi mitigasi iklim yang sangat penting, mengingat emisi gas metana dari sampah organik adalah salah satu penyebab utama pemanasan global.

Eco enzim telah membuktikan bahwa solusi sederhana yang berbasis komunitas dapat memberikan dampak besar dalam mengatasi isu lingkungan.

Dengan rumus yang mudah diterapkan, cairan ini tidak hanya mengurangi bau dan emisi gas berbahaya, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah organik.

Melalui inovasi seperti ini, Kota Batu menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah yang efektif dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat, teknologi sederhana, dan komitmen kolektif untuk menjaga lingkungan. (dek/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru