Oleh : Aslim Akmal
Pemerhati Budaya dan Situs - Makam Kuno khususnya Islam
Baca juga: Lewat Buku Sejarah Religi, Sidoarjo Perkenalkan Branding Baru “Bumi Aulia”
Surabaya-Kudus, JatimUPdate.id - Doeloe, pada tahun 70-an, "makam" menjadi salah satu tempat favorit bagi anak-anak menara bermain layangan. Setiap saya ikut bermain, selalu ada pesan dari ibu, "ati-ati, nok kono akeh pathok". Yang dimaksud Makam adalah sebutan tempat yang keberadaannya di sebelah barat pesarean Sunan Kudus, yang penuh kuburan. Waktu itu, kami tidak pernah tahu siapa saja yang dikuburkan di tempat ini.
Saya mulai membiasakan ziarah ke pesarean Sunan Kudus mulai tahun 80-an. Pada awalnya diajak Bapak setiap malam Jumu'ah, kemudian menjadi kebiasaan secara mandiri. Ziarah kepada Sunan Kudus sudah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat ratusan tahun lalu.
Beragam bentuk nisan yang berada di komplek pesarean Sunan Kudus tidak pernah menjadi perhatian saya saat itu. Hanya tulisan di papan nama yang diletakkan di nisan kepala, yang sering menjadi sasaran pandangan, seperti "Garwo Kangjeng Soenan Koedoes", "Pangeran Pontjowati Panglima Tertinggi Angkatan Perang", dan seterusnya, sebagai penanda orang yang dimakamkan di kuburan itu.
Awal 2023, saya mulai mengenal berbagai tipologi nisan setelah bertemu dengan Bp. Dr. H. Sariat Arifia. Beliau lebih dahulu, yaitu lima tahun sebelumnya sudah melakukan penelitian mendalam. Bahkan menulis sejarah Fatahillah.
Sejak tahun 2023 itu lah, saya mulai diajak beliau menyusuri wilayah Pantai Utara Jawa dan napak tilas sejarah baru perkembangan Islam di Jawa. Sampai dengan sekarang, semua wilayah tersebut sudah kami datangi. Kami memprioritaskan situs² yang umumnya disebut Walisanga.
Baca juga: Kolonel Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia yang Tak Banyak Dikenal Publik
Pada akhir tahun 2024, kami meneliti makam² kuno di Madura. Selama tiga hari kami berada di Madura. Dengan penuh perasaan senang dan kagum karena kami menjumpai nisan² yang indah dan elok, kami mendata berbagai bentuk atau tipoligi dan jenis nisan. Kegiatan ini menguras tenaga dan pikiran, karena letaknya saling berjauhan dan adanya nisan lama dan baru yang terkadang sulit dibedakan.
Berbagai pengalaman dalam penelitian ini, sering kami tuliskan di berbagai media sosial, seperti facebook, instagram, dan tiktok. Ada sisi positif dan negatif setelah kami unggah di medsos itu. Sisi positifnya, hasil kajian kami dinilai membuka wawasan dan wacana baru bagi sebagian masyarakat, yang selama ini dipendam dalam-dalam di benak dan perasaan dan selalu menjadi teka-teki.
Sedang sisi negatifnya, kajian temuan kami dianggap sebagai usaha mengaburkan sejarah. Komentar negatif ini biasanya berasal dari orang-orang dengan pemikiran "pathok bangkrong", pemikiran yang sudah lama dibentuk oleh "dongeng", terutama yang bersumber dari serat babad tanah jawi.
Kami selalu berpegang pada filosofi, "Sejarah adalah Tertulis". Tulisan di nisan (inskripsi) telah lama luput dari perhatian orang-orang. Jangankan membacanya, melihat saja terkadang tidak pernah. Saya memakluminya, karena membaca inskripsi bukan hal yang mudah, karena beraksara Arab dengan jenis khat yang rumit, dan perlu kesabaran karena harus dibaca berulang-ulang serta teliti. Selain huruf Arab, ada dua macam huruf lagi yang sering dibuat inskripsi nisan, yaitu Jawa dan Hanzi (Cina).
Baca juga: Belajar Islam Lewat Sejarah
Hampir 90% lebih nisan-nisan di Pantura Jawa tidak berinskripsi. Kalau pun ada, inskripsi ini sifatnya singkat, sebatas kalimat tauhid atau Allah dan Muhammad beraksara Arab, dan tidak ada nama. Karena itu, kami sering tertawa sendiri ketika ada yang bertanya, "niki makame sinten? (Ini makamnya siapa?), karena kami dikira bisa berkomunikasi dengan ahli kubur.
Ada cerita yang menarik saat kami meneliti sebuah nisan di Madura. Ada relief ornamen yang rumit di bagian keliling jirat bertingkat, setelah kami pelototi, subahanallah, relief ornamen tersebut ternyata ukiran asmaul husna. Memang, terkadang inskripsi justru terbaca ketika posisi kami sedang agak jauh dari makam.
Sesuatu yang kami rasakan pada saat meneliti nisan-nisan adalah seperti ada yang menuntun dan mengarahkan. Dan Allah Ta'ala selalu memberikan kemudahan dan pertolongan ketika kami sedang mengalami kesulitan. Temuan-temuan kami ini tidak ujug-ujug atau tiba-tiba. (Red)
Editor : Redaksi