Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual

Reporter : Redaksi
Ponirin Mika

 

Oleh : Ponirin Mika

Baca juga: Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Dua Fungsi Pendidikan, Wariskan Nilai dan Siapkan Khalifah Masa Depan

Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Pembina Kajian Sirah Nabawiyah Raluna Coffe Paiton, Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id.

 

 

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Puasa sering kali terjebak dalam pemaknaan yang sempit, yakni sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Padahal, jika kita menyelami lebih dalam, puasa adalah sebuah instrumen spiritual yang dirancang untuk membentuk karakter dan mengendalikan gejolak nafsu manusia yang tak terbatas.

Banyak orang terjebak dalam pemahaman puasa Ramadan sebagai rutinitas tahunan yang bersifat mekanis. Selama perut tidak terisi dan dahaga tidak membasahi tenggorokan, mereka merasa kewajiban telah gugur. Namun, esensi puasa sebenarnya jauh melampaui urusan biologis tersebut; ia adalah upaya penyucian jiwa secara menyeluruh.

Dalam perspektif ini, puasa seharusnya menjadi media pengendali agar kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan tercela.

Menahan diri dari asupan fisik hanyalah pintu masuk untuk menahan diri dari perilaku yang merusak tatanan moral, seperti prasangka buruk, fitnah, dan tindakan yang merugikan sesama.

Kejernihan hati adalah target utama. Tanpa pengendalian terhadap prasangka dan ucapan, puasa kehilangan ruhnya.

Tindakan dan ucapan harus suci dan terkendali agar energi spiritual kita tetap fokus pada pengerjaan kebaikan, bukan habis digunakan untuk meladeni ego dan emosi negatif.

Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Tekankan Pentingnya Menghadirkan Hati

Imam Al-Ghazali, dalam mahakaryanya Ihya Ulumuddin, memberikan klasifikasi yang sangat tajam mengenai tingkatan orang berpuasa. Beliau membaginya menjadi puasa orang awam (saumul 'umum) dan puasa orang khusus (saumul khusus), sebuah pembagian yang relevan sepanjang zaman.

Puasa orang awam, menurut Al-Ghazali, hanya terbatas pada pemenuhan aspek legal-formal. Tingkatan ini hanya fokus pada menahan makan, minum, dan hubungan badan. Meski secara fikih puasa ini dianggap sah, secara spiritual ia masih berada di permukaan dan belum menyentuh esensi transformasi diri.

Sebaliknya, puasa orang khusus adalah tingkatan di mana seseorang mampu menahan seluruh anggota tubuhnya dari perilaku tercela. Mata tidak melihat yang dilarang, telinga tidak mendengar gunjingan, dan lidah tidak berucap dusta. Inilah puasa yang sesungguhnya karena melibatkan seluruh dimensi kemanusiaan.

Sering kali kita melihat fenomena di mana perilaku seseorang tidak berubah meski ia sedang berpuasa. Kemarahan tetap meledak, kejujuran diabaikan, dan keserakahan tetap mendominasi. Hal ini menunjukkan bahwa puasa tersebut barulah sebatas ritual pemindahan jam makan, bukan latihan pengendalian diri.

KH. Moh. Zuhri Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, menegaskan bahwa puasa bukan hanya soal teknis waktu makan. Beliau menekankan bahwa puasa adalah sarana latihan agar keinginan dan nafsu kita tetap terkendali, bahkan ketika bulan Ramadan telah berakhir.

Nafsu manusia ibarat kuda liar yang jika tidak dilatih, akan menyeret pemiliknya ke arah yang berbahaya. Puasa hadir sebagai kekang bagi kuda tersebut. Dengan merasakan lapar, manusia diajak untuk menyadari kelemahannya dan mengendalikan ego yang sering kali merasa paling berkuasa.

Baca juga: Alfamart Konsisten Hadirkan Program Sosial Tahunan Warteg Gratis Ramadan 2026

Latihan ini sangat penting karena keinginan manusia sering kali bersifat impulsif. Jika setiap keinginan fisik langsung dipenuhi, maka daya tahan mental seseorang akan melemah. Puasa membangun ketahanan itu, menciptakan jeda antara keinginan dan tindakan agar akal tetap menjadi pemimpin.

Jika puasa hanya dimaknai sebagai rutinitas, maka yang tersisa hanyalah rasa letih. Kita perlu menggeser paradigma dari "puasa sebagai beban" menjadi "puasa sebagai kebutuhan" untuk membersihkan sampah-sampah batin yang menumpuk selama sebelas bulan lainnya.

Integrasi antara ketaatan fisik dan ketaatan batin adalah kunci. Kesucian tindakan harus berjalan beriringan dengan kosongnya perut. Inilah yang akan melahirkan pribadi yang bertakwa, yaitu individu yang memiliki kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap gerak-geriknya.

Pada akhirnya, keberhasilan puasa seseorang dapat diukur dari bagaimana ia berperilaku setelah matahari terbenam dan setelah Ramadan usai. Apakah ia menjadi lebih empati, lebih jujur, dan lebih mampu menahan diri? Ataukah ia kembali menjadi pribadi yang didikte oleh nafsu rendahnya?

Mari kita jadikan puasa kali ini sebagai momentum untuk naik kelas dari golongan awam menuju golongan khusus. Dengan menjadikan puasa sebagai laboratorium pengendalian diri, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga menemukan jati diri yang lebih suci dan tenang sesuai perintah Allah SWT. (red)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru