catatan ramadhan, wiedmust-11ramadhan

Manajemen Masjid: Antara Amanah dan Asal Jalan

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Oleh :  widodo p.hd

pengamat keruwetan sosial

Baca juga: Masjid Award 2025, DMI Jatim Beberkan Fungsi dan Tantangan Masjid

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Ada yang bertanya, “Seberapa perlu manajemen masjid?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi sesungguhnya menohok. Karena hampir semua masjid sudah punya pengurus: ada ketua, sekretaris, bendahara, seksi ini-itu.

Ada PHBI, ada panitia Ramadan, ada proposal, ada kotak infak. Artinya apa? Secara struktur, masjid sudah dikelola.

Tapi struktur belum tentu sistem. Jabatan belum tentu manajemen.

Belajar dari Masjid Jogokariyan Jogyakarta, yang dikelola dengan rapi, transparan, dan terukur. Di sana, kas masjid diumumkan terang-benderang.

Program berjalan bukan karena musiman, tapi karena perencanaan. Jamaah merasa memiliki, bukan sekadar numpang sujud.

Lalu kita bertanya ke diri sendiri: masjid kita dikelola atau sekadar dijaga?

Sering kali pengurus merasa cukup dengan rutinitas: azan, iqamah, Jumat, PHBI, selesai.

Padahal masjid bukan hanya tempat ibadah mahdhah. Ia pusat syiar, pusat sosial, bahkan pusat pemberdayaan umat. Kalau hanya buka-tutup pintu, itu bukan manajemen, itu piket.

Apa saja yang harus dimenej?

Keuangan.

Infak Jumat bukan uang receh. Itu dana umat. Harus ada perencanaan, laporan rutin, evaluasi. Transparansi bukan gaya-gayaan modern, tapi bentuk amanah. Jangan sampai pepatah berubah: uangnya jelas terkumpul, jelas pula hilang akunnya.

Program.

Baca juga: Masjid Al Badar Mulai Terapkan K3L: Dari Air Wudhu hingga Latihan Pemadaman Api

Masjid perlu agenda tahunan, bukan sekadar agenda insidental. Remaja masjid hidup atau mati? Kajian rutin ada atau hanya saat Ramadan? Masjid yang hidup bukan yang kubahnya tinggi, tapi yang kegiatannya terasa.

SDM.

Ini yang sering sensitif. Banyak masjid diisi pengurus sepuh dan uzur. Mereka adalah penjaga nilai dan marwah. Tapi operasional butuh energi muda. Kolaborasi itu keniscayaan. Yang sepuh memberi arah, yang muda berlari. Kalau semua hanya duduk rapat tanpa aksi, masjid bisa jadi seperti mimbar kosong: ada panggung, tak ada gerak.

Fasilitas dan Keamanan.

Sound system bukan alat adu volume. Perlu aturan pemakaian. Air wudhu harus lancar. WC bersih. Karpet terawat. Kendaraan jamaah aman. Sudah terlalu sering kita dengar motor hilang saat tarawih. Orang datang cari pahala, pulang cari BPKB.

Profesional? Ya.
Perlu digaji? Ya.

Menggaji marbot, teknisi, petugas keamanan bukan berarti masjid berubah jadi perusahaan. Itu penghargaan atas kerja. Jangan sampai kita ringan membayar dekor panggung tabligh akbar, tapi berat menggaji orang yang bersihkan toilet setiap hari.

Masjid memang bukan lembaga usaha. Tapi dalam tata kelola, ia tak boleh kalah dari lembaga usaha. Bedanya cuma satu: orientasi. Perusahaan mengejar profit, masjid mengejar manfaat.

Baca juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Karena sejatinya, pengurus masjid bukan pemilik masjid. Mereka hanya pemegang amanah sementara. Jabatan itu bukan simbol kehormatan, tapi beban pertanggungjawaban

Kalau manajemen kuat, masjid jadi pusat peradaban kecil.
Kalau manajemen lemah, masjid hanya jadi bangunan besar dengan aktivitas minimal.

Jangan sampai kita bangga pada kubah yang mengilap, tapi lalai pada laporan yang tak lengkap. Jangan sampai kita rajin rapat, tapi sepi evaluasi.

Sebab pada akhirnya, masjid bukan hanya tempat orang sujud. Ia tempat umat berharap. Dan harapan, kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berubah jadi kekecewaan.

Nah, sekarang pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak”.

Tapi: sudah berani belum kita mengelola masjid secara sungguh-sungguh. (red)

 

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru