Dari Senyum Tulus Hingga Kisah Lalat Penyelamat Imam Suyuti

Reporter : Ponirin Mika
KH Moh Zuhri Zaini

 

 

Baca juga: KH. Moh. Zuhri Zaini: Zakat Adalah Benteng Harta dan Pembersih Jiwa

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Sedekah sering kali diidentikkan dengan pemberian materi atau harta benda.

Namun, dalam pengajian Kitab Nashoihud Diniyah di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Selasa (04/03/26), KH Moh Zuhri Zaini menegaskan bahwa hakikat sedekah jauh lebih luas.

Beliau mengingatkan bahwa tutur kata yang baik, sikap yang menyejukkan, hingga upaya memasukkan kegembiraan ke dalam hati sesama mukmin adalah bentuk sedekah yang bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Kiai Zuhri menggambarkan situasi mencekam di Padang Mahsyar kelak, saat manusia dibangkitkan dari kubur dalam keadaan lapar, haus, dan letih.

Di tengah keputusasaan tersebut, tidak ada yang dapat menolong selain amal perbuatan, khususnya sedekah.

"Sedekah itu dapat menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api," ujar Kiai Zuhri mengutip sabda Rasulullah SAW.

Beliau menjelaskan adanya balasan yang nyata dari Allah SWT bagi mereka yang ikhlas: Siapa yang memberi pakaian kepada orang lain di dunia, Allah akan memberinya pakaian di akhirat.

Baca juga: Kiai Zuhri Zaini: Menuju 'Ibadurrahman' dengan Jalur Istiqamah

Siapa yang memberi makan karena Allah, ia akan diberi makan di akhirat. Siapa yang memberi minum dengan tulus, Allah akan dipuaskan dahaganya di hari penghakiman.

Kiai Zuhri juga menyoroti pentingnya meluruskan niat. Sedekah diperbolehkan jika tujuannya untuk menyenangkan orang lain, namun menjadi terlarang jika tujuannya adalah memuaskan diri sendiri melalui pujian atau riya.

Beliau juga mengingatkan agar kebaikan tidak dilakukan secara "musiman" (terikat waktu tertentu), karena konsistensi adalah cermin dari keikhlasan.

Sebagai inspirasi, beliau mengisahkan keteladanan Kiai Abdul Lathif, ayah dari ulama legendaris KH. Moh. Kholil Bangkalan. Meski hidup dengan ekonomi pas-pasan, Kiai Abdul Lathif tak pernah putus bersedekah dengan niat agar putranya menjadi orang alim.

Baca juga: Kiai Zuhri Zaini; Qiyamul Lail sebagai Kunci Kesehatan Jasmani dan Rohani

Berkat keikhlasannya, beliau dikaruniai putra yang kemudian menjadi guru dari ulama-ulama besar di nusantara.

Kiai Zuhri mengimbau agar umat tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Beliau menceritakan kisah Imam Suyuti yang mendapatkan kemuliaan di alam kubur bukan semata karena banyaknya kitab yang ia tulis, melainkan karena pernah membiarkan seekor lalat hinggap dan minum di penanya saat sedang menulis.

Bahkan, tindakan sederhana seperti seorang dosen yang rutin memberi makan semut di belakang rumahnya pun dihitung sebagai sedekah yang setara dengan memberi makan manusia.
"Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi.

Setiap perbuatan baik adalah sedekah, dan apa yang nampak remeh di mata manusia, bisa jadi sangat besar di hadapan Allah," pungkasnya. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru