catatan ramadhan wiedmust-16ramadhan

Gym Sepi Saat Puasa, Meja Takjil Justru Penuh Sesak

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Oleh : widodo, p.hd

pengamat keruwetan sosial

Baca juga: Guru Besar UIN Madura Pakai Pendekatan Analisis Astronomi Untuk Wahyu dan Fenomena Langit saat Turun al-Qur’an

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Bulan puasa sudah lewat separuh jalan. Lebih dari 15 hari.

Artinya dua hal mulai terasa: pahala mulai menumpuk, dan timbangan mulai… mencurigakan.

Bagi yang biasa olahraga, ini masa yang agak membingungkan. Mau olahraga takut haus. Tidak olahraga takut badan berubah dari “atletis” menjadi “estetis… kalau dilihat dari jauh dan pakai lampu redup.”

Fenomena lain juga mulai terlihat di bulan Ramadan ini.

..
Treadmill berdiri sendirian seperti menunggu jodoh. Dumbbell berjejer rapi seperti prajurit yang ditinggal komandannya pulang kampung.

Sepeda statis terlihat pasrah, mungkin juga sedang bertanya dalam hati: “Salah saya apa?”

Tapi kalau gym sepi, jangan salah.
Keramaian sebenarnya pindah ke tempat lain.

Meja takjil.
Di sana kolak, gorengan, kurma, es buah, dan teh manis berdiri berjajar seperti pasukan yang siap diserbu. Kalau di gym orang menghitung kalori yang dibakar, di meja takjil orang menghitung:

“Ini gorengan keberapa ya…?”

Padahal sebenarnya olahraga saat bulan Ramadan tetap bisa dilakukan. Puasa bukan berarti tubuh harus diparkir seperti motor mogok di pinggir jalan.

Kuncinya sederhana: atur waktu, turunkan ego.

Waktu terbaik olahraga biasanya 30–45 menit sebelum berbuka. Kenapa? Karena kalau tiba-tiba terasa lemas, haus, atau dunia mulai berputar seperti kipas angin nomor tiga… kita tinggal bilang dalam hati:

sabar sebentar lagi azan.

Pilihan kedua adalah setelah berbuka, biasanya satu sampai dua jam setelah makan. Ini waktu favorit bagi mereka yang ingin olahraga dengan tenaga penuh, bukan tenaga mode hemat baterai.

Soal jenis olahraga juga jangan sok heroik. Ini bulan puasa, bukan seleksi pasukan komando.

Baca juga: Lorong Paseban, Anak Muda, dan Senja Ramadan

Cukup yang ringan sampai sedang saja: jalan cepat, sepeda santai, stretching, atau latihan bodyweight ringan.
Kalau biasanya angkat beban 100 kilo, ya di bulan puasa tidak apa-apa turun jadi 60 kilo. Ingat pepatah baru anak gym:

“Lebih baik angkat beban sedikit daripada angkat galon karena pingsan.”

Yang juga penting adalah sahur yang benar. Jangan sahur seperti balas dendam kepada nasi padang.

Pilih makanan yang memberi energi lebih lama: karbohidrat kompleks, protein, buah, dan cukup air.

Karena kalau sahurnya cuma mi instan dan teh manis, biasanya jam sebelas siang sudah mulai muncul gejala klasik pekerja kantoran saat puasa:
menatap jam setiap lima menit… sambil berharap waktu bisa dipercepat oleh doa orang yang lapar.

Masalah terbesar sebenarnya bukan saat olahraga.
Masalah terbesar biasanya datang setelah azan maghrib.

Semua niat sehat yang tadi siang disusun rapi langsung diuji oleh kalimat sederhana dari tuan rumah:

“Silakan ditambah… masih banyak.”

Di situlah iman, niat olahraga, dan ukuran celana mulai bernegosiasi.

Baca juga: RHU Masih Nekat Buka Saat Ramadan, Baktiono: Satpol PP Harus Konsisten Lakukan Penindakan 

Karena kalau dihitung secara ilmiah, olahraga ringan selama 30 menit mungkin membakar sekitar 200 kalori.

Tapi saat berbuka… yang masuk kembali kadang 2.000 kalori plus gorengan satu piring.

Maka lahirlah pepatah baru bulan puasa:

“Siang hari badan membakar kalori, malam hari kalori membalas dendam.”

Jadi kalau gym terlihat sepi selama Ramadan, jangan langsung menyalahkan kemalasan.

Bisa jadi orang-orang sebenarnya tetap berjuang menjaga kesehatan.

Hanya saja medan perangnya berbeda.
Bukan lagi di depan treadmill.

Melainkan di depan meja takjil yang penuh godaan. 😄💪

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru