Oleh: Uswatun Hasanah, S.E,
Baca juga: Hari Kartini 2026, Gubernur Khofifah Ajak Bergerak Bersama Turunkan Angka Kematian Ibu
Aktifis Perempuan dan Praktisi Pendidikan Kabupaten Malang
Malang, JatimUPdate.id - Mengingat sejarah Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya di bidang pendidikan, refleksi Hari Kartini bukan sekadar ritual tahunan mengenakan kebaya.
Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat tentang pentingnya intelektualitas sebagai bentuk emansipasi yang paling murni.
Hari Kartini sering kali terjebak dalam romantisme seremonial. Padahal, jika kita membedah surat-suratnya, seperti yang termuat dalam Door Duisternis tot Licht, esensi perjuangan Kartini adalah perang melawan stagnasi pemikiran.
Pendidikan bagi Kartini bukan sekadar akses menuju literasi, melainkan alat untuk meruntuhkan tembok-tembok feodalisme dan patriarki yang menganggap perempuan sebagai objek pelengkap.
Kartini tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah, tetapi juga hak perempuan untuk berpikir secara mandiri.
Di sinilah keterkaitan antara perempuan, pendidikan, dan warisan Kartini di era modern menjadi sangat relevan.
Pendidikan sebagai Alat Pembebas
Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar cara untuk mendapatkan gelar, melainkan senjata untuk memutus rantai tradisi yang membelenggu. Pada masa lalu, perempuan dipingit secara fisik. Di masa kini, “pingitan” itu hadir dalam bentuk stigma sosial, beban ganda, dan keterbatasan akses terhadap ruang pengambilan keputusan.
Dahulu, pendidikan diperjuangkan agar perempuan mampu membaca dan menulis untuk memahami dunia luar. Kini, pendidikan berfungsi agar perempuan memiliki otoritas atas tubuhnya, keputusan finansial, dan peran sosialnya.
Di era modern, pendidikan bagi perempuan adalah tentang kedaulatan. Perempuan yang terdidik memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan atas hidupnya sendiri, mulai dari pilihan karier, pengelolaan kesehatan reproduksi, hingga partisipasi dalam ekonomi global.
Ibu sebagai Madrasah Pertama: Intelektualitas Domestik
Sering kali muncul pertanyaan, “Untuk apa sekolah tinggi kalau ujung-ujungnya ke dapur?” Pandangan semacam ini justru mengkhianati visi Kartini.
Masih ada narasi usang yang membenturkan pendidikan tinggi perempuan dengan peran domestik. Perspektif ini merupakan bentuk “pingitan gaya baru”.
Dalam pandangan Kartini, perempuan adalah pendidik pertama bagi generasi penerus. Seorang ibu yang memiliki wawasan luas, logika yang runtut, dan literasi yang baik akan melahirkan anak-anak yang tangguh secara mental dan intelektual.
Menganggap pendidikan tinggi menjadi sia-sia hanya karena seorang perempuan memilih fokus di ranah domestik adalah pola pikir yang merugikan. Pendidikan perempuan merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa.
Baca juga: Cantiknya Kartini TPS: Hadir Percaya Diri Dalam Berbagai Peran
Dengan demikian, pendidikan tinggi bagi perempuan tidak pernah sia-sia, baik ia memilih menjadi wanita karier maupun ibu rumah tangga. Kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas asuhan di dalam rumah, yang melibatkan peran perempuan, tentunya dengan dukungan peran laki-laki.
Aksesibilitas dan Tantangan Struktural di Era Digital
Meski secara angka partisipasi sekolah perempuan telah meningkat pesat, tantangan baru tetap muncul.
Masih ada kesenjangan gender, terutama dalam persepsi bahwa sains dan teknologi merupakan domain laki-laki. Selain itu, di tengah banjir informasi, perempuan juga dituntut menjadi garda terdepan dalam menyaring hoaks dan memberikan edukasi publik.
Sejarah mencatat bahwa Kartini berjuang melalui korespondensi, sebuah bentuk teknologi komunikasi pada zamannya. Di abad ke-21, perjuangan tersebut harus diteruskan melalui penguatan literasi digital.
Perempuan hari ini mungkin tidak lagi dipingit secara fisik, tetapi banyak yang “terpingit” oleh algoritma, hoaks, dan standar ganda di media sosial.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan akses pendidikan yang merata hingga ke pelosok, di mana pernikahan dini masih sering menjadi jalan pintas akibat rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.
Menuju Kepemimpinan Berbasis Intelektualitas
Perempuan dan pendidikan bukan hanya soal menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga mencetak pemimpin. Warisan Kartini adalah keberanian untuk berpikir berbeda dan melampaui batas kebiasaan.
Baca juga: Pusdek Bicara Soal Polemik Promosi Kadis DLH Kab. Malang Yang Putra Bupati Malang
Di berbagai sektor, mulai dari sains, politik, hingga ekonomi, kehadiran perempuan yang terdidik membawa perspektif yang lebih inklusif dan empatik. Pendidikan membekali perempuan untuk tidak hanya ikut dalam sistem, tetapi juga mengubah sistem yang masih diskriminatif.
Refleksi Hari Kartini tahun ini harus membawa kita pada satu kesadaran: pendidikan bagi perempuan adalah investasi peradaban.
Ketika seorang laki-laki dididik, ia menjadi individu yang terpelajar. Namun, ketika seorang perempuan dididik, sebuah generasi terselamatkan.
Menghormati Kartini berarti terus mendukung ruang aman bagi perempuan untuk bermimpi, belajar, dan memimpin tanpa harus merasa bersalah atas kodratnya.
“Pendidikan adalah tangga menuju kemandirian, dan kemandirian adalah fondasi dari kehormatan seorang perempuan.”
Pada akhirnya, perjuangan perempuan harus bermuara pada satu kesadaran kolektif: pendidikan adalah kemerdekaan. Selama masih ada perempuan yang dipaksa berhenti sekolah, selama masih ada stigma bahwa perempuan tidak perlu pintar, maka perjuangan Kartini belum usai.
Menghargai Kartini bukan dengan meniru pakaiannya, melainkan dengan meniru keberaniannya untuk terus belajar, meski dunia pada masanya memintanya untuk diam.
“Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar kalimat puitis, tetapi sebuah ramalan intelektual bahwa hanya melalui ilmu pengetahuan perempuan akan benar-benar merdeka.
Tugas kita hari ini adalah memastikan cahaya yang dinyalakan Kartini tetap menyala, bahkan lebih terang dari sebelumnya.
Editor : Redaksi