Emper Omah Rungkut  Surabaya, 01 Mei 2026

Urip iku Urup: Mendudukkan Kembali Martabat Buruh Peradaban

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto

Baca juga: Kapolda Aceh Saksikan Gelar Simulasi Pengamanan May Day

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Wasekjen IDEI 


Surabaya, JatimUPdate.id - Setiap tanggal 1 Mei, ritual tahunan itu kembali hadir. Gelombang massa dengan atribut serikat, kepalan tangan yang mengudara, dan tuntutan kesejahteraan memenuhi ruang publik. Kita terbiasa menyempitkan definisi "buruh" hanya pada mereka yang berkeringat di lantai pabrik, yang berkutat dengan deru mesin, atau yang terikat pada target-target produksi manufaktur.

Namun, di tengah riuh rendah tuntutan hak-hak normatif tersebut, kita sering abai pada satu entitas penting dalam struktur sosial kita: para buruh peradaban.

Secara terminologis, buruh adalah mereka yang menukarkan tenaga, waktu, dan pikirannya demi sebuah nilai tambah. Dalam spektrum ini, guru dan dosen sejatinya berdiri di garda depan. Jika pekerja industri menghasilkan komoditas, maka pendidik menghasilkan manusia.

Jika pabrik mengandalkan presisi mesin, maka ruang kelas mengandalkan presisi nurani dan kedalaman intelektual.

Inilah manifestasi nyata dari falsafah Jawa, Urip iku Urup. Hidup itu (hendaknya) menyala. Pendidik adalah nyala api yang membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan bagi orang lain. Namun, persoalannya, apakah api tersebut tetap bisa menyala jika "bahan bakarnya"—yakni apresiasi dan perlindungan terhadap martabat mereka—sering kali diabaikan?

Bengkel Peradaban

Menganggap guru dan dosen semata-mata sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" adalah sebuah glorifikasi yang berbahaya. Narasi tersebut sering kali menjadi pembenaran untuk memaklumi rendahnya kesejahteraan mereka. Kita harus mulai berani menyebut mereka sebagai "buruh intelektual". Sebutan ini tidaklah merendahkan; justru mendudukkan posisi mereka pada realitas bahwa mereka adalah pekerja profesional yang kontribusinya menentukan kualitas "produk" nasional bernama generasi masa depan.

Setiap ruang kuliah dan bangku sekolah adalah bengkel peradaban. Di sana, karakter ditempa dan logika dipertajam.

Pekerjaan ini jauh lebih rumit daripada merakit mesin otomotif. Kesalahan di lini produksi pabrik mungkin hanya menghasilkan barang cacat yang bisa didaur ulang.

Baca juga: Presiden Prabowo Beri Taklimat Selama 3 Jam Kepada Komandan Satuan TNI Tahun 2026

Namun, kesalahan dalam mendidik akan menghasilkan "kecacatan" kolektif sebuah bangsa yang dampaknya baru akan terasa puluhan tahun kemudian.

Investasi, Bukan Beban Biaya

Bagi para pemangku kebijakan, Hari Buruh seharusnya menjadi momentum redefinisi terhadap pembangunan manusia. Kemajuan sebuah bangsa tidak bisa hanya diukur dari panjangnya jalan tol atau megahnya gedung perkantoran. Indikator kemajuan yang paling hakiki adalah martabat manusianya.

Sering kali, institusi pendidikan melihat kesejahteraan pendidik sebagai beban biaya (cost). Pola pikir ini sangat menyesatkan. Penghormatan terhadap hak-hak dosen dan guru, penyediaan ruang tumbuh, serta jaminan kesejahteraan yang layak adalah investasi jangka panjang.

Sebuah institusi yang hebat tidak dibangun oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mutakhir, melainkan oleh manusia-manusia di dalamnya yang merasa dihargai.

Negara harus hadir untuk memastikan bahwa tidak ada lagi cerita tentang guru honorer yang upahnya hanya cukup untuk makan beberapa hari, atau dosen yang terhimpit beban administratif hingga kehilangan gairah untuk meneliti. Martabat peradaban suatu bangsa tercermin dari bagaimana bangsa tersebut memperlakukan para pendidiknya.

Baca juga: Presiden Prabowo Peringati Hari Buruh Bersama 400.000 Buruh Di Silang Monas

Penutup

Pada akhirnya, peradaban dibangun oleh kerja kolektif. Ada keringat di pabrik, ada riset di laboratorium, dan ada dedikasi di ruang kelas. Semuanya adalah bagian dari satu ekosistem yang sama.

Memberi penghormatan kepada guru dan dosen di Hari Buruh adalah bentuk pengakuan bahwa kerja intelektual adalah kerja keras yang nyata.

Kita perlu memastikan bahwa nyala api dalam falsafah Urip iku Urup itu tetap berpijar kuat. Sebab, jika api para pendidik ini padam karena kelelahan dan ketidakadilan, maka masa depan bangsa ini akan berjalan dalam kegelapan.

Selamat Hari Buruh bagi seluruh penggerak nadi bangsa. Di tangan kalian, peradaban ini ditenun.



Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru