Tuan, Politik Jangan Cuma Ramai di Flyer

Reporter : Redaksi
Flyer Rini-Fikser dan Armuji-Arif Fathoni

Catatan Redaksi - Munculnya flyer pasangan figur politik Rini Indriyani - Fikser, dan Armuji - Arif Fathoni sebelum tahapan Pilwali Surabaya dimulai memang bisa dibaca sebagai strategi cek ombak.

Nama dilempar ke publik, respons masyarakat dipantau, lalu percakapan mulai dibangun perlahan. Cara seperti ini lazim dalam politik modern.

Baca juga: Flayer Armuji-Arif Fathoni Cuma Lempar Isu dan Bikin Polling Terbuka

Tetapi publik Surabaya harus cerdas tak cuma jadi penonton dari permainan persepsi semacam itu.

Sebab yang dibutuhkan warga  bukan cuma wajah baru di baliho atau desain flyer yang ramai beredar di media sosial. 

Yang lebih penting mereka berani menawarkan solusi di tengah kompleksnya problematika kota bukan cuma visi-misi saja.

Di saat wong cilik masih sibuk memikirkan harga kebutuhan pokok, ancaman penertiban tempat usaha hingga sulitnya mencari penghasilan, elite politik malah mulai sibuk memanaskan panggung pencitraan lebih dini.

Ironisnya, politik cek ombak kerab kali lebih cepat membangun elektabilitas daripada membangun gagasan.

Baca juga: Pakar Unesa Sebut Flayer Rini-Fikser Cuma Cek Ombak dan Political Marketing

Padahal Surabaya tidak kekurangan figur populer. Namun yang sering dilupakan justru keberanian bicara jujur soal masalah kota.

Misalnya ketimpangan ekonomi, ruang hidup wong cilik, banjir, kemacetan, hingga wajah pembangunan yang kadang terasa lebih ramah terhadap pencitraan dibanding kebutuhan masyarakat bawah.

Maka dari itu, publik perlu lebih kritis membaca kemunculan flyer-flyer politik semacam ini. 

Baca juga: Jelang Iduladha, Armuji Tekankan Hewan Kurban di Surabaya Harus Lolos Tes Kesehatan

Jangan sampai politik hanya sebatas simulasi mencari popularitas secara visual tetapi miskin arah.

Sebab terlalu dini menjual pasangan politik tanpa gagasan yang jelas hanya akan membuat Pilwali berubah menjadi kontestasi kemasan, bukan pertarungan ide untuk masa depan kota.

Akankah sejarah politik lokal berulang kali menunjukkan, kota tidak pernah benar-benar berubah hanya karena wajah di baliho berganti.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru