Surabaya, 31 Mei 2026

Kicaumania: Tentang Burung, Tentang Kita

Reporter : Redaksi
Dr. Agus Andi Subroto

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto

Baca juga: SRC Nilai Langkah UB Jadikan MBG “Living Laboratory” sebagai Strategi Tepat di Tengah Pro-Kontra

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan 

 

 

Kota Surabaya, JatimUPdate.id - Pagi belum benar-benar purna ketika suara cetrek-cetrek jempol dan telunjuk mulai bersahutan di teras-teras rumah. Di sana, di balik jeruji bambu yang rapi, seekor Murai Batu dan Cucak Hijau sedang dipuja layaknya diva.

Namun, beberapa waktu terakhir, keriuhan itu menemukan lagu temanya: sebuah tembang bertajuk "Kicaumania" dari Ndarboy Genk.

Lagu ini adalah sebuah anomali yang manis. Di saat industri musik kita kerap terjebak dalam upaya mengejar tren global yang seragam, Ndarboy justru memotret realitas "akar rumput" yang sangat spesifik.

Hasilnya mengejutkan: ia melampaui batas geografis dan bahasa. Fenomena ini seolah mengukuhkan kembali sebuah tesis lama: bahwa sesuatu yang digali dari kedalaman lokalitas, sering kali justru memiliki jalan paling lempang menuju resonansi universal.

Dunia Kicaumania sesungguhnya adalah sebuah mikrokosmos sosial yang unik.

Baca juga: Gali Potensi MC Muda, HIBE MC Competition 2026 Sukses Hipnotis Ribuan Pengunjung Food Junction

Di arena "gantangan", struktur kelas sosial yang biasanya kaku di ruang kantor atau birokrasi tiba-tiba meluruh. Kita bisa melihat seorang lelaki necis bersitegang secara sehat dengan seorang kuli bangunan demi menilai kualitas irama dan volume suara burung.

Di sana, hierarki jabatan tunduk pada satu otoritas tunggal: kicauan yang jernih dan mental bertarung sang burung.

Gantangan menjadi ruang publik yang sangat egaliter. Ia adalah oase di tengah kehidupan modern yang semakin individualistik dan terfragmentasi.

Di era ketika kita bisa terhubung dengan siapa saja lewat layar kaca namun tetap merasa kesepian, komunitas Kicaumania menawarkan sesuatu yang mulai langka: kehadiran fisik dan kehangatan yang autentik. Ada jabat tangan yang nyata, kepulan asap rokok yang berbagi, dan tawa kolektif yang tak bisa diwakili oleh deretan emoji.

Menariknya, gema lagu ini tak berhenti di perbatasan desa atau kota. Ia melintasi batas negara, masuk ke ruang-ruang digital di berbagai belahan dunia. Mengapa? Mungkin karena ia menyentuh satu kebutuhan dasar manusia yang paling purba: kebutuhan untuk memiliki kelompok, kebutuhan untuk diakui, dan kegembiraan sederhana dalam merawat kehidupan.

Baca juga: Keselamatan Masa Depan Menjaga Sistem Kerja, Bukan Sekadar Tempat Kerja

Keberhasilan lagu ini bukan sekadar keberuntungan algoritma. Ia adalah hasil dari kemampuan "membaca" sekeliling. Ia membuktikan bahwa inspirasi tidak harus selalu datang dari peristiwa-peristiwa monumental atau tokoh-tokoh besar. Ia hadir dari kemampuan melihat makna di balik rutinitas memandikan burung atau sekadar mengganti pakan di pagi hari. Kicaumania mengajari kita bahwa hobi, pada titik tertentunya, adalah sebuah jangkar identitas.

Bagi mereka yang jeli, fenomena Kicaumania adalah sebuah cermin kecil yang memantulkan wajah masyarakat kita. Sebuah wajah yang rindu akan kebersamaan, yang merayakan persahabatan tanpa memandang kasta, dan yang menemukan kebahagiaan dalam harmoni kecil di teras rumah.

Pelajaran terbesar dari keriuhan ini adalah tentang ketajaman rasa. Kita diingatkan bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya tidak pernah kekurangan cerita. Yang sering kali kurang adalah kepekaan kita untuk menangkapnya. Mungkin, di balik setiap burung yang berkicau lantang, ada pesan sunyi bagi kita: bahwa untuk menjadi bermakna, kita tak perlu menjadi orang lain. Kita hanya perlu berani menjadi diri sendiri, merayakan apa yang dekat, dan setia pada akar di mana kita tumbuh.

Selamat pagi. Mari mendengarkan sekitar, sebelum dunia menjadi terlalu bising oleh suaranya sendiri.



Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru