Oleh Septivan Wismo Pratama
Mahasiswa Program Studi Linguistik Indonesia, Fakultas ilmu Sosial Budaya dan Politik.
Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, Dosen UPNVJT Berikan Kuliah Tamu di SSVIT Bangkok
Surabaya, JatimUPdate.id - Tepat satu minggu lalu, agenda harian saya yang sudah penuh sesak dengan target tugas magang dan tumpukan tugas studi independen dari kampus, mendadak terasa semakin menantang.
Di tengah pusaran deadline tersebut, saya memutuskan untuk mengambil langkah berani: berkompetisi dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) internal UPN Veteran Jawa Timur 2026.
Banyak rekan yang bertanya, bagaimana mungkin membagi fokus ketika waktu 24 jam rasanya selalu kurang? Bagi saya, ini bukan tentang memaksakan diri, melainkan tentang seni menavigasi energi dan prioritas.
Baca juga: Perkuat SDM Kader, Ansor Jatim Bahas Kerjasama Strategis dengan UPN
Menjalani tiga peran sekaligus—mahasiswa magang yang dituntut profesional, mahasiswa tingkat akhir yang dikejar tugas akademik, dan seorang peserta lomba—memaksa saya menerapkan disiplin ranah yang ketat. Pagi hingga sore hari adalah waktu penuh untuk instansi magang.
Malam harinya, saya mengaktifkan logika akademik untuk tugas kuliah. Di sela-sela transisi itulah, ruang spiritual saya asah. Saya masih ingat betul momen babak penyisihan, duduk tegak di kursi di depan mic, berusaha melantunkan ayat suci dengan tenang meski pikiran ikut terbagi.
Keikutsertaan ini bukan sekadar mengejar predikat juara, melainkan sebuah jeda spiritual yang justru mengembalikan kejernihan berpikir saya di tengah hiruk-pikuk tugas.
Baca juga: Mahasiswa Linguistik UPN Veteran Jatim Teliti Fonologi Jawa di Keraton Yogyakarta
Perjuangan itu membuahkan hasil yang tidak disangka; saya dinyatakan lolos babak penyisihan dan berhak melaju ke grand final. Momen grand final itu sungguh berbeda. Saya tidak lagi duduk di kursi, melainkan duduk bersila di atas karpet merah di panggung utama, di bawah sorotan lampu dan tatapan hadirin.
Di grand final itulah, saya mengerahkan seluruh kemampuan terbaik yang saya miliki. Namun, garis takdir menetapkan bahwa kali ini saya belum berhasil membawa pulang piala juara. Bahwasanya saya tidak dapat juara; itu bukanlah sebuah kegagalan.
Grand final di karpet merah itu memberi saya perspektif baru, bahwasannya kemenangan sejati adalah keberanian untuk bertumbuh, adaptif terhadap tekanan, dan kedewasaan untuk menerima bahwa proses adalah pencapaian tertinggi, bukan hanya sekadar hasil akhir. (red)
Editor : Redaksi