Arloji 14 Hari di Jalan Yos Sudarso

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi,Jatimupdate.id
Ilustrasi,Jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Gedung DPRD Kota Surabaya kembali menjadi panggung bagi riuhnya suara perubahan. 

Gabungan mahasiswa dari HMI, GMNI, GMKI, dan IMM tidak hanya datang membawa pengeras suara dan kepalan tangan. 

Namun membawa arloji imajiner yang terus berdetak, sebuah ultimatum  berkekuatan 14 hari kalender kerja agar para wakil rakyat segera menindaklanjuti tuntutan mereka.

Tenggat waktu ini jelas bukan hanya gertakan sambal di atas mimbar. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh kaum intelektual muda ini. Sebab bisa jadi mereka sudah jemu dengan ritual demonstrasi yang berakhir antiklimaks. 

Selama ini, skenario aksi kerap kali serupa di berbagai daerah. Massa datang, pimpinan dewan keluar menemui, lembar kesepakatan ditandatangani di bawah jepretan kamera, lalu setelahnya berkas tuntutan dibiarkan berdebu di dalam laci. 

Ultimatum dua minggu ini merupakan upaya paksa untuk memutus rantai formalitas birokrasi tersebut.

Bagi parlemen di Jalan Yos Sudarso, stopwatch digital yang dinyalakan mahasiswa merupakan ujian nyali sekaligus pembuktian fungsi representasi yang sesungguhnya.

DPRD Surabaya tidak bisa lagi memakai jurus klasik "menampung aspirasi" untuk menenangkan massa seketika. 

Komitmen yang telah disampaikan harus segera dikonversi menjadi langkah politik yang riil. 

Meski isu yang dibawa mahasiswa berada di ranah kebijakan pusat, DPRD Surabaya wajib memaksimalkan fungsi representasinya, menyusun rekomendasi resmi ke Senayan, mendesak kementerian terkait, dan mengawal aspirasi ini agar tidak menguap begitu saja di tingkat daerah.

Redaksi melihat bola panas saat ini sepenuhnya berada di anggota dewan. Mengabaikan alarm 14 hari sama saja dengan memelihara mosi tidak percaya dan membiarkan ketegangan baru meletup. 

Jika dalam dua pekan ke depan tidak ada langkah konkret, maka jangan salahkan mahasiswa jika mereka kembali mengetuk gerbang parlemen dengan gelombang massa jilid dua yang jauh lebih besar. 

Waktu terus berjalan, dan mungkin publik Surabaya juga sedang ikut menghitung mundurnya.