Emper Omah Rungkut Surabaya, 01 Juli 2026

Catatan Emper Omah: Lanskap di Seberang Papan Nama

Reporter : Redaksi

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto

Baca juga: Polda Jatim Gelar Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Teguhkan Semangat “Polri untuk Masyarakat”

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan.

 

Rungkut, Surabaya, JatimUPdate.id - DI Rungkut, pagi sering kali datang tanpa upacara. Ia menyelinap di antara uap kopi yang mengepul dari cangkir porselen di emper rumah, saat Surabaya masih menyisakan sisa-sisa embun yang enggan beranjak.

Di saat-saat seperti itulah, saya membiarkan sebuah "server memori" di dalam kepala melakukan tugas rutinnya: mengaduk-aduk laci pengalaman, menyusun kembali serpihan peristiwa yang terserak, lalu menerjemahkannya menjadi deretan aksara.

Ada sebuah kegelisahan yang tertangkap sensor memori itu pagi ini. Sebuah pertanyaan yang barangkali terdengar purba, namun tetap relevan: Untuk apa sebenarnya pendidikan kewirausahaan itu dipancangkan di ruang-ruang kelas kita?

Selama bertahun-tahun mengajar, saya menyaksikan sebuah reduksionis yang ganjil. Kewirausahaan sering kali disempitkan maknanya sebatas pada "papan nama".

Mahasiswa datang dengan imajinasi tentang kedai kopi yang riuh, toko daring yang sibuk, atau etalase busana yang gemerlap. Seolah-olah, seseorang baru sah menyandang gelar entrepreneur jika ia memiliki sepetak lapak atau selembar akta notaris atas namanya sendiri.

Padahal, kita tahu, kewirausahaan bukanlah soal alamat sebuah toko. Ia adalah sebuah "bentang alam" di dalam kepala.

Ia adalah cara pandang—sebuah gaze—yang sanggup menangkap peluang di tengah belukar masalah. Ia adalah gairah menciptakan nilai (value) di saat orang lain hanya diam menunggu titah.

Di titik ini, saya teringat Carol S. Dweck. Baginya, keberhasilan bukan sekadar soal bakat yang beku, melainkan growth mindset—sebuah pola pikir yang lentur, yang memandang tantangan bukan sebagai tembok, melainkan tangga.

Baca juga: Lawatan Akademik ke Melaka

Sayangnya, kurikulum kita sering kali terjebak pada hal-hal yang bersifat mekanistik. Kita sibuk mengajari mahasiswa menyusun business plan yang rapi, menghitung angka-angka di break even point, atau membedah kotak-kotak di Business Model Canvas.

Semuanya penting, tentu saja. Namun, jika pendidikan hanya berhenti di sana, kita sebenarnya hanya sedang melatih para teknisi pembuka usaha, bukan membangun arsitek pemikiran kewirausahaan.

Seorang mahasiswa yang kelak memilih berkantor di sebuah gedung pencakar langit sebagai karyawan, tetap bisa menjadi seorang pengusaha dalam maknanya yang paling hakiki.

Ketika ia menawarkan inovasi, memangkas inefisiensi, atau melahirkan solusi bagi perusahaannya, ia sedang mempraktikkan apa yang disebut Gifford Pinchot III sebagai intrapreneurship. Ia mungkin bukan pemilik modal, tapi ia adalah pemilik "api" kreativitas.

Begitu pula dengan seorang dosen. Ia tak butuh sebuah kedai untuk disebut berjiwa wirausaha. Cukuplah baginya menghasilkan riset yang menyentuh nadi persoalan masyarakat, mengejar hibah kompetitif dengan gigih, atau melahirkan metode ajar yang memanusiakan manusia. Di sana, ada penciptaan nilai. Di sana, ada kewirausahaan.

Maka, mungkin sudah saatnya universitas berhenti sekadar menghitung berapa banyak alumni yang sukses membuka "lapak usaha". Ukuran yang lebih mendesak adalah: Berapa banyak lulusan kita yang mampu menjadi pemecah kebuntuan? Berapa banyak yang berani memimpin perubahan di tempat mereka berpijak?

Baca juga: Merawat Jejak Bung Karno, Menghidupkan Sejarah di Kota Surabaya

Bangsa ini mungkin memang butuh pengusaha. Namun, ia jauh lebih lapar akan jutaan manusia dengan entrepreneurial mindset.

Sebab, tidak semua orang harus menjadi nakhoda di kapal miliknya sendiri, namun setiap orang wajib menjadi pencipta manfaat bagi samudra kehidupan di sekelilingnya.

Pagi di Rungkut mulai menghangat. Kopi di gelas saya pun mulai mendingin. Namun, semoga cara kita memandang makna kewirausahaan tak pernah membeku pada angka dan papan nama. Kewirausahaan adalah keberanian membuka kemungkinan-kemungkinan baru—sebuah ikhtiar untuk hidup yang lebih bermakna.

Selamat menikmati pagi.



Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru