Mengajarkan Bung Karno Penting, Tetapi Sejarah Jangan Kehilangan Keseimbangannya
Catatan Redaksi - Rencana Pemerintah Kota Surabaya menjadikan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo sebagai materi ajar bagi siswa SD dan SMP patut diapresiasi.
Di tengah semakin pudarnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah bangsa, menghadirkan tokoh proklamator sebagai bagian dari pembelajaran merupakan langkah yang memiliki nilai edukatif.
Bung Karno memang bukan hanya Presiden pertama Republik Indonesia. Namun penggali Pancasila, proklamator kemerdekaan, sekaligus sosok yang berhasil menanamkan semangat persatuan dan nasionalisme kepada bangsa Indonesia.
Nilai-nilai tersebut layak diwariskan kepada pelajar.
Namun, sejarah Indonesia tidak dibangun oleh satu tokoh. Kemerdekaan merupakan hasil perjuangan kolektif banyak anak bangsa dengan latar belakang pemikiran, organisasi, dan perjuangan yang berbeda-beda.
Maka dari itu, kekhawatiran yang disampaikan Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Johari Mustawan, layak menjadi bahan pertimbangan.
Pendidikan sejarah seharusnya tidak berhenti pada pengenalan satu figur. Justru, siswa perlu memahami lahirnya Indonesia merupakan hasil kolaborasi pemikiran dan perjuangan para pendiri bangsa.
Nama-nama seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammad Yamin, HOS Tjokroaminoto, KH Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, Mohammad Hatta, hingga tokoh nasional lainnya memiliki kontribusi yang sama pentingnya dalam membentuk fondasi negara.
Pendekatan yang seimbang akan menghasilkan pemahaman sejarah yang lebih utuh.
Pelajar tidak hanya mengenal sosok pahlawan, tetapi juga memahami bangsa ini dibangun melalui musyawarah, perbedaan gagasan, semangat gotong royong, dan kerja bersama.
Apabila buku Bung Karno dijadikan materi pembelajaran, alangkah baiknya jika pemerintah juga menghadirkan bahan ajar mengenai tokoh-tokoh nasional lainnya.
Dengan demikian, pendidikan sejarah tidak berubah menjadi pemujaan terhadap satu figur, melainkan menjadi ruang belajar yang memperkenalkan keberagaman pemikiran para pendiri bangsa.
Generasi muda memang membutuhkan teladan. Namun, teladan itu akan lebih kuat ketika mereka memahami Indonesia lahir dari kebesaran banyak tokoh yang saling melengkapi, bukan dari perjuangan satu orang saja.
Editor : Redaksi