Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id – Orientasi Santri Baru (Osabar) bukan sekadar acara penyambutan. Di sebuah pondok pesantren di Probolinggo, Jawa Timur, yaitu Pesantren Nurul Jadid, kegiatan ini dirancang sebagai titik awal pembentukan arah dan tujuan hidup santri selama mondok — bahkan untuk seumur hidup.
Wakil Kepala Pesantren, Gus Mohammad Imdad Robbani, menegaskan hal itu saat membuka resmi Osabar tahun ajaran baru di hadapan ratusan santri baru dan pengurus pesantren.
Baca juga: Perumahan Graha Mutiara Taman Paiton Resmi Diluncurkan
Menurut Gus Imdad, orientasi secara bahasa berarti arah dan tujuan. Karena itu, Osabar menjadi momentum krusial bagi setiap santri baru untuk memahami untuk apa mereka datang dan apa yang ingin mereka capai selama di pesantren.
"Tujuan utama kita di pondok ini adalah untuk mengaji dan mencari ilmu karena Allah. Bukan semata-mata untuk mencari ijazah, mengejar kepintaran matematika, atau sekadar mencari kerja di masa depan," tegasnya.
Osabar tahun ini mengusung tema "Tata Niat, Bangun Tekad, Santri Hebat". Tema itu bukan sekadar slogan — melainkan panduan agar santri baru sejak hari pertama sudah memiliki pijakan yang jelas: mondok dengan niat lurus dan tekad membaja.
Gus Imdad menjelaskan, proses menuntut ilmu di pesantren tidaklah mudah. Tanpa niat yang kuat, santri mudah goyah ketika menghadapi tantangan lingkungan, termasuk pengaruh negatif dari sekitar.
Baca juga: Jurnalistik Jadi Ladang Dakwah, Humas Nurul Jadid Bincang Kehumasan Bersama Wartawan Profesional
"Pendidikan di pesantren adalah proses membentuk jiwa, bukan sekadar fisik. Sesuai dengan lagu kebangsaan kita, bangunlah jiwanya terlebih dahulu, baru bangunlah badannya," ujarnya.
Untuk menjaga semangat itu tetap hidup, Gus Imdad berpesan kepada seluruh pengurus agar tidak bosan mengingatkan santri baru meluruskan niat di setiap aktivitas — dari belajar di kelas, mengaji, salat berjamaah, hingga kerja bakti kebersihan lingkungan pesantren.
Pesantren ini menerapkan kurikulum terpadu dengan akidah dan ilmu fardu ain sebagai fondasi utama, dilengkapi ilmu modern seperti komputer, sains, dan bahasa asing (Arab, Inggris, Mandarin) sebagai bekal kompetensi di tengah masyarakat global.
Baca juga: Catatan Keras untuk Komnas Perempuan
Gus Imdad mengingatkan bahwa tidak ada ulama besar atau tokoh hebat yang lahir dari cara belajar yang santai. Ia mendorong para santri menjadi generasi yang mampu memberikan solusi bagi bangsa menuju Indonesia Emas.
"Santri hebat adalah mereka yang memiliki kapasitas untuk menjadi solusi bagi bangsa, bukan menjadi bagian dari masalah," pungkasnya. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat