Cerita Pendek

Warkop Ekspektasi Bagian 5: Jalan yang Berbeda

Reporter : Redaksi
Ilustrasi Cerita Pendek Warkop Ekpektasi

JatimUPdate.id - Nama Raya masih memenuhi pikiran Bahar Khan meski pembicaraan dengan Shoe Lee Khan telah berganti ke persoalan lain. 

Ia tidak lagi bertanya tentang perempuan it. Baginya, cerita yang baru saja didengar sudah cukup untuk membuatnya kembali mengingat masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan.

Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian V)

Shoe Lee Khan memahami perubahan raut wajah sahabatnya, ia tidak lagi membahas Raya. Pembicaraan kemudian mengalir kepada perjalanan usaha yang tengah dijalaninya. 

Ia bercerita membangun usaha tidak pernah semudah yang dibayangkan banyak orang. Di balik berdirinya beberapa stan bebek goreng yang kini dimilikinya, tersimpan berbagai kegagalan yang jarang diketahui orang. 

Ada masa ketika ia harus meminjam uang ke sana kemari demi membayar gaji karyawan, juga hari-hari ketika dagangannya nyaris tidak laku, sementara tagihan terus berdatangan tanpa mengenal belas kasihan.

"Orang hanya melihat hasil akhirnya," kata Shoe Lee Khan setelah menyeruput kopi hitamnya. 

"Padahal yang paling berat justru bertahan ketika semuanya seperti tidak berpihak kepada kita. Aku pernah berpikir menutup semua usaha ini. Untungnya aku tidak mengambil keputusan saat pikiranku sedang kacau." Bahar Khan menganggukkan kepala, ucapan itu terasa dekat dengan keadaan yang sedang dialaminya. Bukan soal usaha, melainkan tentang rumah tangga. 

Ia juga sedang berada pada keadaan ketika keputusan yang diambil saat emosi bisa berakhir dengan penyesalan.

"Aku sengaja tidak pulang dulu, aku takut kalau kembali dalam keadaan seperti tadi, yang terjadi justru pertengkaran baru," ucap Bahar Khan, sesekali melirik smartphone nya yang sejak tadi digeletakkan di atas meja.

Shoe Lee Khan memandang sahabatnya beberapa saat.

"Aku mengenal Ayu sudah cukup lama, dia memang keras kepala kalau sedang marah, tapi aku yakin, di balik sifatnya itu dia tetap memikirkanmu," Bahar Khan tersenyum hambar.

"Aku juga percaya begitu, hanya saja, akhir-akhir ini kami lebih sering berbeda cara memandang sesuatu. Aku sadar perbedaan itu wajar, yang membuatku sedih bukan perbedaannya. Melainkan ketika penjelasanku tidak lagi dipercaya," Kalimat itu membuat Shoe Lee Khan terdiam.

Ia tidak segera memberikan jawaban, dari sudut pandangnya, persoalan rumah tangga bukan perkara siapa yang lebih pandai berbicara. Sebab kepercayaan yang mulai retak sering kali tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata-kata.

Namun beberapa saat kemudian Shoo Lee Khan berkata pelan.

"Kalau boleh memberi saran, jangan mengambil keputusan apa pun malam ini. Biarkan waktu menenangkan kalian berdua, kadang diam jauh lebih berguna daripada memaksakan penjelasan," Bahar Khan mengangguk.

Nasihat itu tidak jauh berbeda dengan apa yang selama ini ia yakini. Ia memang lebih memilih menepi ketika kemarahan sedang menguasai seseorang. 

Bukan karena takut menghadapi persoalan, melainkan karena ia percaya setiap kata yang keluar saat emosi memuncak sering kali meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada persoalan itu sendiri.

Malam terus berjalan, warung kopi mulai sepi. Satu per satu pelanggan meninggalkan tempat itu. 

Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 4: Perempuan Bernama Raya

Pemilik warung sibuk merapikan kursi yang kosong, sementara suara jangkrik mulai terdengar dari balik semak di pinggir jalan.

Bahar Khan kembali melirik telepon genggamnya, tak ada lagi panggilan masuk. Namun beberapa pesan baru kembali muncul dari Ayu Chen. Ia membacanya perlahan, tidak ada lagi nada marah seperti sebelumnya.

Ayu hanya menanyakan apakah Bahar Khan sudah makan dan memintanya berhati-hati di jalan jika masih berada di luar rumah.

Bahar Khan mengembuskan napas panjang. Amarah memang sering datang lebih cepat daripada penyesalan.

Ia tidak segera membalas pesan itu. Bukan karena ingin mengabaikan Ayu Chen, melainkan karena ia ingin bertemu langsung ketika keadaan sudah lebih tenang.

Baginya, ada kalanya sebuah permintaan maaf lebih bermakna ketika diucapkan sambil saling menatap, bukan melalui deretan huruf di layar telepon.

"Aku pulang dulu," ucap Bahar Khan sambil berdiri.

"Semoga besok semuanya membaik," Shoe Lee Khan ikut bangkit dari kursinya.

"Amin," jawab Bahar Khan.

Baca juga: Mahkota Para Bayangan (Bagian IV) 

Mereka berjabat tangan, tidak banyak kata yang terucap, persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun membuat keduanya mengerti tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan nasihat panjang.

Bahar Khan mengenakan helmnya, lalu menyalakan motor tua yang setia menemaninya ke mana pun pergi.

Udara dini hari terasa lebih dingin, jalanan mulai lengang, lampu-lampu kota memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang sedikit basah oleh embun.

Dalam perjalanan pulang, pikirannya kembali melayang kepada Ayu Chen. Ia tidak pernah membayangkan perempuan yang dahulu begitu ia perjuangkan kini justru menjadi orang yang paling sering berseberangan.

Namun di balik semua itu, Bahar Khan masih menyimpan satu keyakinan, selama hati belum benar-benar tertutup, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang retak. Ia hanya berharap kesempatan itu belum terlambat.

Sementara itu, di rumah, Ayu Chen masih belum memejamkan mata, lampu ruang tamu tetap menyala.

Di atas meja, secangkir teh yang dibuatnya sejak beberapa jam lalu telah dingin tanpa sempat disentuh.

Ia memandang ke arah pintu rumah yang masih tertutup rapat. Untuk pertama kalinya malam itu, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

Apakah rasa curiga yang memenuhi pikirannya benar-benar lahir dari kenyataan, atau hanya dari ketakutan yang selama ini ia pelihara sendiri.

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru