Mahkota Para Bayangan (Bagian VI)

Reporter : Redaksi
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan

JatimUPdate.id - Pekan berikutnya, suhu politik mulai berubah, beberapa media daring secara bersamaan menerbitkan artikel dengan narasi yang hampir serupa. 

Tidak ada tuduhan yang tegas, serta bukti yang benar-benar kuat. Namun setiap judul dirancang untuk menimbulkan pertanyaan di benak pembaca.

Baca juga: Analisis Lirik “Goresan Pelangi” 7 Kurcaci: Keindahan yang Berakhir Menjadi Luka

"Benarkah Legislator Muda Sedang Dikelilingi Kelompok Berkepentingan?"

"Sosok Perempuan Misterius Kerap Mendampingi Tokoh Politik Muda."

"Publik Mulai Mempertanyakan Kedekatan yang Tak Pernah Dijelaskan."

Semuanya memakai kalimat yang menggantung, tidak menuduh. Tetapi cukup untuk menanamkan keraguan.

Dalam hitungan jam, potongan-potongan berita itu mulai menyebar ke berbagai media sosial. 

Akun-akun anonim saling mengutip, memperbesar isu, lalu menambahkan cerita yang sama sekali tidak pernah terjadi.

Sebagian orang mulai percaya, ada yang memilih menunggu. Namun bagi para pelaku operasi informasi, keraguan merupakan kemenangan pertama.

Adrian membaca beberapa berita itu tanpa banyak bereaksi. Ia meletakkan telepon genggamnya di atas meja, lalu kembali menandatangani beberapa berkas yang telah menumpuk sejak pagi.

Rendra yang sejak tadi berdiri di depan meja akhirnya tak mampu menahan diri.

"Pak, ini sudah tidak bisa dianggap biasa. Mereka menyerang Bapak sedikit demi sedikit, jika dibiarkan masyarakat akan menganggap diamnya Bapak sebagai pengakuan," katanya, Adrian cuma menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku tahu," jawabnya pelan.

"Lalu kenapa belum ada klarifikasi?" tanya Rendra penasaran.

"Karena mereka sedang memancing emosiku," Rendra terdiam sejenak, lalu ia kembali bertanya 

"Maksud Bapak?"

"Kalau aku terburu-buru membantah semua isu, mereka akan membuat isu yang baru. Kalau aku marah, mereka akan mengatakan aku panik. Permainan seperti ini bukan soal benar atau salah. Mereka sedang menguji seberapa jauh aku mampu mengendalikan diri." Rendra mengangguk pelan.

Adrian kemudian menatap sekretarisnya dengan tenang, ia mulai memahami lawan yang dihadapinya bukan cuma pesaing politik, mereka sedang memainkan persepsi.

                            ***

Di sebuah restoran yang menghadap ke sungai, Elena duduk sendirian, secangkir kopi di depannya sudah dingin. Pandangan matanya tertuju pada layar tablet yang menampilkan puluhan berita tentang Adrian.

Ia mengenali pola itu, artikel pertama muncul di media kecil, beberapa jam kemudian dikutip media lain.

Setelah itu akun-akun anonim mulai memperbesar narasi, kemudian muncul tokoh-tokoh yang berpura-pura netral dan berkata, "Publik berhak mengetahui kebenaran."

Semuanya berjalan sesuai pola operasi pembentukan opini. Masalahnya, pola itu tidak pernah ia jalankan, berarti terdapat pihak lain yang bergerak, yang bahkan tidak memberinya informasi.

Tak berselang lama telepon genggam Elena bergetar, nama Damar muncul di layar.

"Aku harap kamu membaca berita hari ini," kata Damar tanpa basa-basi.

"Sudah," jawab Elena singkat.

"Itu baru pembuka," sergah Damar.

"Siapa yang memulainya?" Elena coba mencecar.

Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 7: Retakan yang Tak Terlihat

"Pertanyaan itu tidak penting." jawab Damar enteng, sambil terkekeh.

"Bagi saya penting," tegas Elena, mendengar suara Elena mulai jengkel, Damar kembali tertawa kecil.

"Kamu dibayar untuk bekerja, Elena. Bukan untuk mengetahui seluruh permainan," Elena menarik napas panjang.

"Saya menerima tugas untuk mendekati Adrian. Bukan menjalankan pembunuhan karakter," tukas Elena.

"Jangan naif," Suara Damar berubah lebih tajam.

"Dalam politik, karakter sasaran pertama, setelah itu baru jabatannya," sambungan telepon terputus, Elena memandang layar yang telah gelap.

Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kendali atas operasi yang sedang dijalankannya. 

                            ***

Menjelang malam, Adrian memutuskan pulang lebih awal. Di parkiran gedung parlemen, ia menghentikan langkah ketika melihat seorang petugas kebersihan sedang kesulitan mendorong troli yang rodanya macet.

Tanpa banyak bicara, Adrian membantu memperbaiki roda troli itu, peristiwa itu tidak menarik perhatian siapa pun.Setidaknya begitu yang ia kira.

Namun, di balik kaca sebuah mobil yang terparkir sekitar lima puluh meter dari lokasi, lensa kamera kembali bekerja.

Klik.

Klik.

Klik.

Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 6: Akad yang Sunyi

Setiap gerakan Adrian diabadikan. Kendati begitu ini bukan untuk menunjukkan sisi baiknya. Foto-foto itu akan dipilih, dipotong, lalu disusun sesuai narasi yang telah ditentukan.

Dalam permainan persepsi, satu gambar dapat memiliki puluhan cerita.

                            ***

Malam semakin larut, Elena kembali memeriksa seluruh catatan yang dimilikinya. Semakin banyak ia membaca, semakin jelas ada sesuatu yang disembunyikan Damar. Bukan hanya tentang Adrian, tetapi juga tentang dirinya.

Ia membuka sebuah map tua yang selama bertahun-tahun tidak pernah disentuh.

Di dalamnya terdapat daftar nama beberapa operator yang pernah bekerja bersamanya. Satu per satu ia mencoret nama-nama yang masih hidup.

Tiba-tiba jemarinya berhenti, tiga nama. Ketiganya pernah menangani operasi politik, mereka menghilang tanpa jejak, dan anehnya sebelum menghilang, mereka semua sempat melaporkan menemukan selembar kartu remi di lokasi operasi.

Elena menutup map itu perlahan, dulu ia menganggap semua itu hanya kebetulan. Kini ia tidak lagi yakin.

Di waktu yang hampir bersamaan, seseorang memasukkan sebuah amplop cokelat ke bawah pintu apartemen Elena. Tanpa suara, jejak.

Ketika Elena membukanya, isi amplop itu hanya dua benda, sebuah foto, dan selembar kartu remi.

Foto itu memperlihatkan Adrian sedang berdiri di depan makam ayahnya, beberapa tahun lalu. Di bagian belakang foto tertulis dengan tinta hitam

"Kalau ingin menghancurkan seseorang, jangan serang kekuatannya. Cari luka yang belum pernah sembuh," Elena memejamkan mata, ia pun mengerti.

Menurutnya permainan ini bukan lagi tentang menjatuhkan seorang legislator. Seseorang sedang menyusun serangan yang jauh lebih kejam, bukan terhadap jabatan Adrian, melainkan terhadap jiwanya.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru