Oleh Abdul Rohman Sukardi
Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.
Jakarta, JatimUPdate.id - Masa depan Gaza sering dipahami secara sederhana sebagai pertarungan antara Israel dan Iran. Setidaknya dianggap berkelindan erat dan sulit dipisahkan.
Padahal, realitas politik Timur Tengah jauh lebih kompleks. Memahami hubungan Iran dengan Hamas dan Palestinian Islamic Jihad (PIJ) menjadi kunci untuk melihat apakah Gaza dapat keluar dari pusaran konflik berkepanjangan.
Iran membangun jaringan pengaruh regional melalui apa yang dikenal sebagai Axis of Resistance. Mencakup Hezbollah di Lebanon, sejumlah milisi Syiah di Irak, Houthi di Yaman, serta dukungan kepada Hamas dan PIJ di Palestina.
Motifnya bukan semata penyebaran ideologi Syiah. Melainkan perpaduan antara ideologi Revolusi Islam 1979, kepentingan keamanan nasional, dan ambisi geopolitik untuk membangun strategic depth (kedalaman strategis) menghadapi Israel dan Amerika Serikat.
Dengan memelihara jaringan sekutu di luar wilayahnya, Iran berupaya meningkatkan daya tangkal tanpa harus terlibat langsung dalam setiap konflik.
Namun, menyebut Hamas dan PIJ sekadar "perpanjangan tangan Iran" merupakan penyederhanaan yang kurang tepat. Dalam perspektif hubungan internasional, hubungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai aliansi berbasis kepentingan (alliance of interests) daripada hubungan kendali penuh.
Teori Balance of Threat dari Stephen M. Walt menjelaskan bahwa aktor politik cenderung membentuk aliansi karena menghadapi ancaman yang sama. Bukan semata karena kesamaan ideologi atau identitas.
Dalam perspektif realisme, aliansi semacam ini bersifat dinamis. Ketika sumber ancaman berubah atau muncul alternatif yang lebih menguntungkan, orientasi aliansi pun dapat bergeser.
Baca juga: Partai-partai Masa Depan
Hamas merupakan organisasi Sunni yang berakar pada tradisi Ikhwanul Muslimin. Tujuan utamanya adalah memperjuangkan kepentingan nasional Palestina.
Iran mendukung Hamas karena keduanya memiliki kepentingan strategis yang bertemu. Terutama dalam menghadapi Israel.
Bukti bahwa Hamas tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Teheran terlihat ketika organisasi tersebut menolak mendukung rezim Bashar al-Assad pada awal perang Suriah. Keputusan itu sempat merenggangkan hubungan Hamas dan Iran selama beberapa tahun.
PIJ memang memiliki hubungan yang lebih erat dengan Iran. Ketergantungannya terhadap dukungan politik dan militer dari Teheran relatif lebih besar dibanding Hamas. Meski demikian, PIJ tetap merupakan organisasi Palestina yang memiliki tujuan utamanya sendiri.
Dengan demikian, baik Hamas maupun PIJ bukan sekadar instrumen Iran. Melainkan aktor yang menjalin kerja sama karena adanya irisan kepentingan.
Fakta bahwa Hamas dan PIJ merupakan organisasi Sunni, sementara Iran adalah negara Syiah, menunjukkan bahwa politik Timur Tengah tidak dapat dipahami semata melalui lensa konflik mazhab. Dalam banyak kasus, kepentingan geopolitik terbukti lebih menentukan arah aliansi dibanding identitas keagamaan.
Baca juga: Menakar Fajar: Refleksi Transisi 2026
Karena itu, masa depan Gaza tidak harus selamanya berada dalam orbit agenda Iran. Jika negara-negara Arab mampu menghadirkan alternatif yang lebih kredibel melalui rekonstruksi, jaminan keamanan, pemerintahan Palestina yang efektif, dan proses politik yang nyata. Ketergantungan Hamas terhadap Iran dapat berkurang secara bertahap.
Inilah makna strategis berbagai inisiatif perdamaian yang dipelopori negara-negara mayoritas Muslim. Bukan sekadar menghentikan perang, tetapi menciptakan tatanan baru yang memberi rakyat Palestina pilihan di luar logika konflik.
Selama rivalitas Iran dengan Israel dan Amerika Serikat terus berlangsung, kawasan akan tetap berisiko terjebak dalam konflik berkepanjangan. Namun, Gaza tidak harus selamanya menjadi arena perebutan pengaruh tersebut.
Dengan dukungan negara-negara Muslim dan pemerintahan Palestina yang kredibel, Gaza memiliki peluang membangun agenda politiknya sendiri yang berorientasi pada rekonstruksi, kesejahteraan, dan perdamaian.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com).
Editor : Redaksi