Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 01/05/2026

Partai-partai Masa Depan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh Abdul Rohman Sukardi

Pengamat Sosial Politik

 


Jakarta, JatimUPdate.id - Sejak Reformasi 1999, sistem kepartaian Indonesia menunjukkan pola siklus elektoral tanpa dominasi permanen. Data pemilu legislatif memperlihatkan fluktuasi tajam. 

PDI Perjuangan meraih sekitar 33,7% suara pada 1999, lalu turun ke 18,5% (2004) dan sekitar 14% (2009), sebelum kembali naik ke 18,9% (2014) dan 19,3% (2019), kemudian melemah ke kisaran 16–17% pada 2024. Sebaliknya, Partai Golkar menunjukkan stabilitas: dari sekitar 22% (1999), 21,6% (2004), turun ke 14–15% (2009–2019), dan tetap dua digit pada 2024. 

Ini menegaskan dua pola utama: lonjakan berbasis figur dan ketahanan berbasis struktur.

Dalam perspektif teori partai politik, pola ini sejalan dengan pembedaan antara personalistic party dan institutionalized party. Partai berbasis figur cenderung mengalami volatilitas tinggi karena bergantung pada daya tarik individu. Sementara partai terinstitusionalisasi bertahan melalui organisasi dan jaringan.

Data Indonesia menguatkan hal ini. Partai Demokrat melonjak dari sekitar 7% (2004) menjadi 20,8% (2009), lalu turun ke 10,2% (2014), 7,8% (2019), dan sekitar 7% pada 2024 setelah meredupnya pengaruh Susilo Bambang Yudhoyono.

Pola serupa terlihat pada Partai Gerindra yang naik dari sekitar 4,5% (2009) ke 11,8% (2014) dan 12–13% (2019–2024) seiring figur Prabowo Subianto, serta Partai NasDem yang tumbuh cepat sejak 2014. 

Ketiganya menunjukkan akselerasi tinggi. Tetapi rentan terhadap penurunan ketika ketokohan melemah.

Sebaliknya, partai berbasis sosial dan kaderisasi menunjukkan stabilitas. PKB bergerak dari 12,6% (1999), turun pada 2004–2009, lalu kembali naik ke kisaran 9–12% pada 2014–2024. PKS meningkat dari sekitar 1–2% (1999) menjadi 7–8�n relatif stabil, sementara PAN bertahan di kisaran 6–7%. 

Dalam kerangka teori party institutionalization, basis sosial dan kaderisasi menciptakan loyalitas pemilih yang lebih tahan terhadap perubahan konteks politik.

Dengan ambang batas parlemen 4%, sistem politik Indonesia semakin menyaring partai. Peta masa depan (pasca kepemimpinan Presiden Prabowo) dapat dibagi dalam tiga lapisan. 

Papan atas berpotensi ditempati Partai Golkar sebagai partai paling stabil secara struktural. Papan tengah diisi oleh PDI Perjuangan (pasca era Megawati Soekarnoputri) dan PKB. 

Pasca Mega, PDIP berpotensi turun menjadi kekuatan menengah relatif ke bawah. PKB dapat naik ke papan tengah atas jika mampu memperluas inklusivitas dan memperkuat kaderisasi. Bukan hanya rumah politik kader PMII. Tapi rumah politik warga NU dari semua elemen.

Lapisan berikutnya dihuni oleh PKS dan PAN yang relatif stabil karena basisnya segmented. Sementara itu, Demokrat, Gerindra, dan NasDem menghadapi risiko fluktuasi. Bahkan potensi penurunan tajam seiring meredupnya ketokohan jika tidak bertransformasi menjadi partai berbasis struktur.

Kesimpulannya, masa depan partai politik Indonesia ditentukan tingkat institusionalisasi. Semakin kuat organisasi dan basis sosial, semakin besar peluang bertahan. 

Sebaliknya, partai yang bertumpu pada figur akan terus berada dalam siklus naik saat tokoh kuat, dan turun ketika tokoh meredup. Seperti roller coaster.  
 


Jakarta, ARS ([email protected]). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.