Banyuwangi, JatimUPdate.id, – Universitas Islam Cordoba Banyuwangi kembali menegaskan kiprahnya di kancah internasional dengan sukses menyelenggarakan International Course & Experiential Learning: Islamic Justice bertajuk "Access to Justice in Southeast Asia 2026" di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan hasil kolaborasi Universitas Islam Cordoba Banyuwangi bersama The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) Universitas Jember, Fakultas Hukum Universitas Jember, serta didukung Pemerintah Kabupaten Banyuwangi itu menghadirkan delegasi dari 12 negara, yakni Indonesia, Amerika Serikat, Filipina, Pakistan, India, Prancis, Jepang, Vietnam, Australia, Malaysia, Korea Selatan, dan Kanada.
Baca juga: Universitas Islam Cordoba Gelar International Course 2026 di Banyuwangi
Mengusung tema "Building Bridges Through Justice, Dialogue, and Humanity", forum internasional tersebut menjadi ruang dialog akademik yang mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi hukum, tokoh agama, dan pemerhati hak asasi manusia untuk membahas isu-isu strategis mengenai akses terhadap keadilan, hak asasi manusia, hukum Islam, multikulturalisme, serta pembangunan masyarakat yang inklusif di kawasan Asia Tenggara.
Acara pembukaan berlangsung khidmat dengan dihadiri lebih dari 150 peserta, terdiri atas 52 delegasi CHRM2, 40 pimpinan dan dosen Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, mahasiswa Universitas Islam Cordoba Banyuwangi dan Pondok Pesantren Ad Dzikra, tokoh agama, insan pers, serta tamu undangan dari berbagai institusi.
Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Abdullah Azwar Anas, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan Lakpesdam PCNU Banyuwangi, pimpinan pondok pesantren, serta rektor dan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai daerah sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan diplomasi akademik Indonesia.
Dalam sambutannya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus berkomitmen mewujudkan pembangunan yang berpihak kepada masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia.
Menurutnya, penghormatan terhadap HAM tidak hanya diwujudkan melalui regulasi, tetapi juga melalui berbagai program yang memberikan akses setara terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, pelayanan publik yang inklusif, serta penguatan peran perempuan, anak, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.
"Banyuwangi terus berupaya menghadirkan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Nilai-nilai hak asasi manusia harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan sehingga seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik," ujar Ipuk.
Ia juga mengapresiasi Universitas Islam Cordoba Banyuwangi bersama CHRM2 Universitas Jember dan Fakultas Hukum Universitas Jember yang telah memilih Banyuwangi sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan internasional tersebut.
Menurut Ipuk, forum ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan Banyuwangi kepada komunitas internasional sekaligus menunjukkan praktik pembangunan daerah yang mengedepankan toleransi, keberagaman, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Prof. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan yang berhasil menghadirkan peserta dari berbagai belahan dunia.
Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai tonggak penting dalam perjalanan Universitas Islam Cordoba Banyuwangi menuju perguruan tinggi yang aktif membangun jejaring akademik internasional.
Baca juga: Mahasiswa UNEJ Ciptakan Dirty Ledger, Game Edukasi Forensik Pertama di Indonesia
"Kami sangat bersyukur kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Kehadiran para delegasi dari 12 negara merupakan kehormatan besar bagi Universitas Islam Cordoba Banyuwangi. Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Bupati Ipuk Fiestiandani, Bapak Abdullah Azwar Anas, serta Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang telah memberikan dukungan luar biasa dan menyambut seluruh peserta internasional dengan sangat hangat. Semoga kegiatan ini menjadi awal dari semakin kuatnya kolaborasi akademik Indonesia dengan dunia internasional," ujar Prof. Agus.
Ia menambahkan, Universitas Islam Cordoba Banyuwangi akan terus memperluas kerja sama internasional melalui penelitian kolaboratif, publikasi ilmiah bereputasi, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta berbagai program akademik yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat global.
Direktur The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) Universitas Jember, Prof. Dr. Khanif Al Rifaie, S.H., LL.M., Ph.D., mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti rangkaian International Course, sebanyak 26 peserta internasional dari 12 negara telah mengikuti program Experiential Learning dengan mengunjungi sejumlah destinasi unggulan Banyuwangi, termasuk Kawah Ijen.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan kesan mendalam bagi seluruh peserta internasional. Mereka tidak hanya menikmati panorama alam Banyuwangi, tetapi juga merasakan keramahan masyarakat, kekayaan budaya lokal, serta kehidupan sosial yang harmonis.
"Sebanyak 26 peserta internasional yang berasal dari 12 negara telah mengunjungi Kawah Ijen dan beberapa destinasi lainnya di Banyuwangi. Mereka sangat menikmati perjalanan tersebut dan menyampaikan bahwa Banyuwangi merupakan daerah yang indah, masyarakatnya ramah, budayanya kaya, dan memiliki potensi luar biasa untuk menjadi tujuan pembelajaran internasional," ungkap Prof. Khanif.
Ia menegaskan bahwa pendekatan Experiential Learning menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai hak asasi manusia dan keadilan, tetapi juga menyaksikan secara langsung praktik kehidupan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai keberagaman, toleransi, dan kemanusiaan.
Pada sesi kuliah utama, Dr. Imam Nahe'i dari Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo memaparkan konsep keadilan dalam perspektif Islam berdasarkan pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Ia menjelaskan bahwa seluruh syariat Islam dibangun di atas empat prinsip utama, yakni keadilan, kasih sayang, kemaslahatan, dan kebijaksanaan. Karena itu, setiap kebijakan maupun praktik hukum yang mengabaikan nilai-nilai tersebut tidak lagi mencerminkan tujuan utama syariat Islam.
Menurutnya, keadilan tidak boleh dimaknai sebatas penegakan hukum, tetapi harus menjadi nilai yang hidup dalam penyelenggaraan pemerintahan, pendidikan, pelayanan publik, kehidupan sosial, hingga hubungan antarbangsa.
Melalui penyelenggaraan Access to Justice in Southeast Asia 2026, Universitas Islam Cordoba Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus membangun jejaring akademik global. Forum ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai kolaborasi strategis, mulai dari riset bersama, publikasi ilmiah bereputasi internasional, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan yang mendukung penguatan akses terhadap keadilan di kawasan Asia Tenggara.
Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini semakin menegaskan posisi Universitas Islam Cordoba Banyuwangi sebagai perguruan tinggi yang mampu menghadirkan forum akademik bertaraf internasional sekaligus menjadi jembatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan komunitas global dalam membangun masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Editor : Yuris. T. Hidayat