Tiga Kopi Kalibaru Banyuwangi Tembus 10 Besar, Satu Raih Juara III di Jogja Coffee Week 2026

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Penyerahan piagam diberikan kepada para peraih Jawara Coffee Competition (JCW) 2026 dalam rangkaian Jogja Coffee Week 2026. Salah satunya, Ali Mursyid Azisi dari Kalibaru, Banyuwangi, meraih Juara III
Penyerahan piagam diberikan kepada para peraih Jawara Coffee Competition (JCW) 2026 dalam rangkaian Jogja Coffee Week 2026. Salah satunya, Ali Mursyid Azisi dari Kalibaru, Banyuwangi, meraih Juara III

Banyuwangi, JatimUPdate.id, – Kopi Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menunjukkan kualitasnya di tingkat nasional. Tiga kopi asal Kecamatan Kalibaru berhasil menembus jajaran 10 besar Jawara Coffee Competition (JCW) 2026, dengan salah satunya meraih Juara III kategori Robusta.

Prestasi tersebut diraih dalam rangkaian Jogja Coffee Week (JCW) 2026 yang berlangsung pada 4–6 September 2026. Capaian ini sekaligus membuka peluang bagi kopi Kalibaru untuk diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas melalui sesi lelang kopi.

Salah satu prestasi terbaik diraih Ali Mursyid Azisi. Kopi robusta asal kawasan Gunung Kendit, Desa Malangsari, Kecamatan Kalibaru, yang dipresentasikannya berhasil meraih peringkat ketiga dengan total skor 252,75 dan cup score 84,250.

Kopi tersebut diolah menggunakan metode natural klasik dan menjadi salah satu dari lima kopi terbaik yang memperoleh kesempatan mengikuti sesi lelang dalam rangkaian Jogja Coffee Week 2026.

"Ini membuktikan bahwa kualitas biji kopi hasil olahan petani lokal dari pegunungan Kalibaru memiliki daya saing yang diperhitungkan di tingkat nasional," kata Ali dalam keterangannya, Senin (8/9/2026).

Tiga Kopi Kalibaru Masuk 10 Besar

Selain Ali, dua perwakilan lainnya juga berhasil mencatatkan prestasi dalam kompetisi tersebut.

Pada kategori Liberika, Muchammad Shodiq menempati peringkat keempat dengan total skor 251,50 dan cup score 83,833.

Biji kopi yang diproses menggunakan metode natural anaerobik tersebut turut memperkuat kiprah kopi Kalibaru dalam kompetisi kopi tingkat nasional.

Sementara itu, Ahmad Jaelani menempati peringkat kesembilan kategori Robusta. Kopi dari lereng Gunung Raung itu memperoleh total skor 248,25 dengan cup score 82,750 setelah diolah menggunakan metode natural klasik.

Masuknya tiga kopi dari Kalibaru ke jajaran 10 besar menunjukkan bahwa kopi yang dihasilkan petani di kawasan tersebut mampu bersaing dalam penilaian kualitas di tingkat nasional.

Bukan Sekadar Kompetisi

Bagi pelaku kopi di Kalibaru, kompetisi cupping tidak hanya menjadi ajang untuk mengejar peringkat. Penilaian melalui proses cupping juga menjadi sarana untuk mengukur kualitas sekaligus memperkenalkan karakter kopi lokal kepada calon pembeli.

Ali menilai, pengakuan terhadap kualitas kopi melalui skor cupping dapat memberikan dampak terhadap posisi tawar petani di pasar.

"Dengan adanya pengakuan mutu melalui skor cupping, kami berharap posisi tawar biji kopi dari Kalibaru meningkat dan pada akhirnya dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani," ujarnya.

Menurutnya, semakin baik kualitas kopi dan semakin luas pengakuan pasar, semakin besar pula peluang petani memperoleh nilai jual yang lebih baik dari hasil budidayanya.

Berpeluang Masuk Pasar Lebih Luas

Peserta yang berhasil masuk lima besar pada kategori Robusta, Arabika, dan Liberika memperoleh kesempatan mengikuti sesi lelang kopi dalam rangkaian Jogja Coffee Week 2026.

Kesempatan tersebut menjadi pintu bagi kopi-kopi terbaik untuk diperkenalkan kepada berbagai pelaku industri, mulai dari pengolah kopi, roaster, pemilik kedai kopi, hingga calon pembeli dari dalam maupun luar negeri.

Bagi kopi Kalibaru, keberhasilan tiga wakilnya menembus 10 besar menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring pasar. Terlebih, satu kopi berhasil menempati posisi tiga besar dan memperoleh kesempatan mengikuti lelang.

Capaian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai prestasi dalam kompetisi, tetapi dapat berlanjut menjadi peluang pasar baru yang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai ekonomi kopi dan kesejahteraan petani di Kalibaru serta Banyuwangi.

Dengan kualitas yang semakin mendapat pengakuan, kopi dari kawasan pegunungan Kalibaru kini memiliki modal lebih kuat untuk bersaing dan dikenal di pasar kopi yang lebih luas. (ries/yh)