JatimUPdate.id - Beberapa tahun telah berlalu sejak Bahar Khan dan Ayu Chen berpisah. Waktu membawa keduanya ke jalan masing-masing, mereka tidak lagi hidup dalam satu rumah, tidak lagi berbagi rutinitas seperti dahulu, dan tidak pula saling mengetahui setiap langkah yang mereka tempuh.
Namun perpisahan tidak serta-merta menghapus kenangan, Ayu Chen beberapa kali mencoba menjalani kehidupan baru. Ia bertemu dengan banyak orang dan mengenal berbagai karakter lelaki. Ada yang baik, perhatian, juga memiliki kehidupan lebih mapan.
Baca juga: Analisis Lirik “Galau” Mel Shandy: Ketika Kenangan Bikin Hati Terjebak dalam Kebimbangan
Tetapi semakin lama, ia justru semakin sering membandingkan mereka dengan Bahar Khan. Sebab tidak ada yang memiliki kesabaran seperti lelaki itu. Mereka tak ada yang mampu menghadapi kemarahannya tanpa membalas dengan kemarahan, serta tak menemukan yang berkali-kali memilih mengalah ketika hubungan mereka berada di ujung pertengkaran.
Dulu, semua itu dianggap Ayu Chen sebagai sesuatu yang biasa. Namun setelah kehilangan barulah ia menyadari kesabaran seseorang tidak selalu mudah ditemukan untuk kedua kalinya.
Kesadaran itu kemudian membawanya kembali kepada Bahar Khan, bukan sekali, beberapa kali Ayu Chen datang menemui lelaki itu. Setiap pertemuan selalu memiliki maksud yang sama, mengajak Bahar Khan membuka kembali rumah tangga yang telah mereka akhiri.
Bahar Khan cuma mendengarkan, tidak pernah mengusir Ayu Chen, mengungkit masa lalu dengan nada menyalahkan. Namun jawabannya tetap sama, ia tidak ingin rujuk.
Pada awalnya Ayu Chen mengira penolakan itu hanya bentuk kekecewaan Bahar Khan. Ia percaya itu, apabila dirinya terus membujuk, hati lelaki itu akan luluh. Makanya ia kembali datang, membicarakan masa lalu, mengenang hari-hari ketika mereka masih bersama.
Ayu Chen mengungkapkan penyesalan atas keputusan yang pernah diambilnya, Bahar Khan tetap mendengarkan semuanya.
Ada satu masa ketika bujukan Ayu Chen yang datang berkali-kali membuat pikirannya goyah. Untuk sesaat ia sempat bertanya kepada dirinya sendiri, apakah rumah tangga itu masih mungkin dibangun kembali.
Sebab bagaimanapun, Ayu Chen pernah menjadi bagian dalam hidupnya, ada begitu banyak kenangan yang tidak mudah dihapus.
Namun setelah mempertimbangkannya dalam-dalam, Bahar Khan kembali pada keputusan semula.
Ia tidak ingin mengulang perjalanan yang telah mereka lalui, bukan karena membenci Ayu Chen, bukan pula karena ingin menghukum perempuan itu atas keputusan masa lalu.
Ia hanya merasa ketika "sesuatu" ketika sudah ditinggalkan, tidak perlu dimasuki kembali.
Bagi Bahar Khan, hidup mempunyai jalan sendiri, ia tidak terbiasa kembali kepada sesuatu yang telah ia tinggalkan, sekalipun itu kelak menawarkan emas, harta, kedudukan, atau berbagai bentuk keuntungan.
Prinsip itu telah lama menjadi bagian dari dirinya, dan kali ini, prinsip tersebut berlaku pula dalam urusan hati.
"Aku tidak pernah menyesal pernah hidup bersamamu," ucap Bahar Khan suatu ketika ketika Ayu kembali membicarakan rujuk.
"Aku juga tidak membencimu, tetapi ketika dulu kamu memilih berpisah, aku sudah mencoba mengajakmu kembali. Bukan sekali, melainkan beberapa kali, saat pintu hatiku masih terbuka untuk rujuk," beber Bahar Khan, Ayu Chen cuma diam.
"Setelah kamu tetap memilih pergi, aku belajar menutupnya, sekarang kalau aku membukanya kembali hanya karena kamu datang lagi, aku khawatir kita akan mengulang sesuatu yang dulu sudah kita putuskan," papar Bahar Khan.
Baca juga: Warkop Ekspektasi Bagian 10: Luka yang Tertinggal
Tidak ada nada keras dalam suara Bahar Khan, justru ketenangan itu yang membuat Ayu Chen semakin memahami kali ini penolakannya bukan karena emosi.
Bahar Khan telah benar-benar menerima masa lalu, kendati begitu, ia tidak pernah menutup hubungan mereka sebagai manusia.
Ayu Chen masih boleh menemuinya, jika ingin mengajaknya minum kopi, Bahar Khan tidak keberatan.
Jika ingin makan bersama, ia juga bersedia. Bahkan ketika suatu waktu Ayu Chen mengajaknya berlibur untuk melepas penat, Bahar Khan tidak menolaknya.
Ia masih bisa tertawa bersama, berbincang panjang, mengenang masa lalu tanpa harus saling menyakiti. Hanya satu yang tidak akan diberikan Bahar Khan, kesempatan untuk kembali menjadi pasangan.
Hubungan mereka akhirnya menemukan bentuk yang berbeda, bukan lagi suami dan istri, bukan pula dua orang yang saling bermusuhan.
Mereka hanya menjadi dua manusia yang pernah berjalan bersama, kemudian memilih jalan masing-masing, tetapi masih mampu duduk dalam satu meja tanpa membawa dendam.
Ayu Chen perlahan menerima kenyataan itu, barangkali itulah bentuk hubungan yang paling mungkin mereka miliki setelah semuanya berakhir, sebatas teman, tidak terikat oleh apa pun, dan memiliki janji untuk kembali, serta tidak pula mempunyai kewajiban untuk saling menunggu.
Pada suatu sore, Bahar Khan kembali duduk di Warkop Ekspektasi, di hadapannya terletak secangkir kopi, sementara Ayu Chen berada di kursi yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.
Baca juga: Analisis Lirik “Takdir” Mel Shandy: Ketika Cinta Harus Kalah oleh Jalan yang Dipilih Takdir
Mereka berbicara mengenai banyak hal, pekerjaan, kehidupan, orang-orang yang pernah mereka kenal, akan tetapi tidak ada pembicaraan mengenai pernikahan, dan permintaan untuk kembali.
Bahar Khan sesekali tersenyum, Ayu Chen pun demikian, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keduanya dapat menikmati kebersamaan tanpa membawa harapan yang berlebihan.
Senja perlahan turun, Bahar Khan menyesap kopi terakhirnya, ia kemudian memandang jalanan yang mulai dipenuhi lampu kendaraan. Dalam pemikirannya, hidup memang tidak selalu membawa seseorang ke tempat yang pernah ia impikan.
Kendati begitu, bukan berarti perjalanan yang gagal harus disesali sepanjang hidup, ada yang cukup dikenang, dimaafkan, dan ada yang memang harus dibiarkan menjadi masa lalu.
Bahar Khan telah memilih jalannya, ia tidak kembali, bukan karena pintu hatinya dipenuhi kebencian, melainkan ia telah belajar meninggalkan sesuatu berarti berani menerima konsekuensinya. Bahkan jika yang ditinggalkan itu pernah menjanjikan cinta, harta, kedudukan, dan seluruh kemewahan dunia.
Ayu Chen pun akhirnya memahami, ia boleh datang kapan saja, mengajak Bahar Khan ngopi, makan. Bahkan mengajaknya menikmati perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi. Akan tetapi tidak untuk kembali menjadi suami istri.
Sebab hubungan mereka saat ini hanya sebatas dua orang yang pernah saling mencintai, melukai, kehilangan, lalu memilih berdamai dengan masa lalu.
Warkop Ekspektasi tetap berdiri seperti dahulu, kopi tetap disajikan dalam cangkir yang sama. Hanya kisah di antara dua manusia itu yang telah berubah, dan kali ini tidak ada lagi yang perlu ditunggu.
Editor : Redaksi