Baca juga: Soko Guru Peradaban: Memerdekakan Jiwa di Era Kecerdasan Buatan
Oleh Dr. Agus Andi Subroto, STP., M.M.
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia
Surabaya, JatimUPdate.id - Enam tahun lalu, sebuah tulisan berjudul Memberi Terang pada Pikiran lahir dari pemantik sederhana: sebuah unggahan di beranda Facebook.
Kala itu, informasi masih serupa tamu yang mengetuk pintu; ada waktu untuk menyeduh teh, mempersilakannya duduk, lalu merenungkannya sebelum merajutnya menjadi tulisan.
Hari ini berbeda.
Informasi tak lagi mengetuk. Ia mendobrak pintu, jendela, bahkan menyelinap lewat lubang kunci. Algoritma video pendek, notifikasi grup percakapan, media sosial, hingga kecerdasan artifisial membuat informasi hadir hampir tanpa jeda.
APJII mencatat penetrasi internet Indonesia pada 2026 telah mencapai 81,72 persen, atau sekitar 235 juta pengguna. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia menggambarkan masyarakat yang hidup dalam ruang informasi yang nyaris tak pernah berhenti berdenyut.
Persoalan kita hari ini bukan lagi kelaparan informasi, melainkan obesitas kognitif.
Pikiran menjadi terlalu ramai.
Satu berita belum selesai dipahami, berita lain datang. Satu pendapat belum selesai direnungkan, pendapat berikutnya muncul. Sesuatu yang viral mudah dianggap penting, sementara sesuatu yang ramai kerap dianggap benar.
Padahal, keduanya belum tentu sama.
Di sinilah gagasan sensemaking Karl E. Weick menjadi relevan. Manusia tidak sekadar menerima informasi, tetapi berusaha menafsirkan situasi dan membangun makna agar dapat menentukan tindakan.
Dalam dunia yang penuh informasi, kemampuan memberi makna menjadi semakin penting.
Baca juga: Pokja Bunda PAUD Bondowoso Dorong Guru Manfaatkan AI, Bukan Gantikan Peran Pendidik
Literasi pun seharusnya tidak berhenti pada kemampuan membaca. Literasi hari ini adalah kecakapan memilih apa yang layak dipercaya, keberanian mempertanyakan apa yang meragukan, dan kejernihan dalam memberi makna pada apa yang dialami.
Tidak semua perdebatan perlu dimasuki.
Tidak semua tren viral perlu dikomentari.
Tidak semua informasi harus dipercaya.
Sebab riuh tidak selalu bermakna, dan yang ramai tidak selalu benar.
Karena itu, pikiran yang terang bukan pikiran yang mengetahui segala sesuatu. Pikiran yang terang justru tahu kapan menyerap, kapan bertanya, dan kapan berhenti.
Barangkali kita membutuhkan apa yang bisa disebut sebagai literasi keheningan: kemampuan memberi jarak dari kebisingan agar pikiran kembali mampu mendengar dirinya sendiri.
Baca juga: Dedikasi Tanpa Batas Esensi Etika Seorang Pendidik
Enam tahun lalu, tulisan itu mengajak memberi terang pada pikiran.
Hari ini pesannya mungkin perlu sedikit bergeser.
Di tengah lautan cahaya yang terus menyala dari layar, tantangan kita bukan lagi sekadar menyalakan cahaya, tetapi memilih cahaya mana yang benar-benar menunjukkan jalan.
Sebab tidak semua cahaya menerangi.
Sebagian hanya menyilaukan.
Editor : Redaksi