Surabaya,JatimUPdate.id - Sehari sebelum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, nama KH Imam Jazuli mulai mendapat perhatian dalam bursa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2026–2031. Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, itu dinilai bisa menjadi titik temu di tengah persaingan sejumlah kandidat.
Nama Imam Jazuli muncul bersama KH Yahya Cholil Staquf, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, KH Abdusalam Shohib atau Gus Salam, dan Gus Rozin. Masing-masing memiliki latar belakang dan basis dukungan yang berbeda.
Baca juga: Dinkes Surabaya Bantah Limbah Medis di Sidoarjo Milik RSUD Eka Chandrarini
Perhatian terhadap Imam Jazuli bukan hanya karena usianya yang relatif muda. Sejumlah tokoh menilai ia memiliki gagasan tentang masa depan pesantren dan NU serta pengalaman mengelola lembaga pendidikan.
Gus Ipang Wahid mengatakan NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga tradisi sekaligus membaca perubahan. Menurut dia, tantangan NU pada abad kedua tidak lagi berhenti pada persoalan internal organisasi dan keumatan.
“Peta jalan abad kedua NU dan aksi pesantren transformatif dari Kiai Imam Jazuli sangat penting untuk dijadikan cetak biru kemajuan Nahdlatul Ulama di masa depan,” kata Gus Ipang, Rabu (26/8).
Cicit pendiri NU KH Hasyim Asy'ari itu menilai pemimpin pesantren kini dituntut memahami pendidikan, teknologi, ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, dan jejaring global. Tradisi, kata dia, tidak harus berhadapan dengan perubahan.
Dalam pandangan Gus Ipang, Imam Jazuli mencoba menempatkan tradisi pesantren sebagai modal untuk melakukan pembaruan. Pendekatan itu dinilai relevan dengan kebutuhan NU memasuki abad kedua.
Baca juga: Final Soekarno Cup Jadi Momentum Gotong Royong untuk Korban Gempa NTT
Penilaian serupa disampaikan Kiai Miftah. Menurut dia, NU memerlukan pemimpin yang dapat menjaga warisan para pendiri organisasi sekaligus melakukan perubahan.
Imam Jazuli, kata Kiai Miftah, memiliki kemampuan mempertemukan tradisi dan modernitas. Maka dari itu, ia dinilai dapat menjadi salah satu figur yang menjembatani kelompok-kelompok yang berbeda dalam Muktamar.
“Saya tidak ragu untuk mengatakan, mari kita bersatu mendorong Kiai Imjaz memimpin PBNU ke depan,” kata pengasuh Pondok Pesantren Oraj Aji itu.
Kiai Miftah melihat tantangan NU pada abad kedua semakin luas. Selain persoalan keumatan, NU akan berhadapan dengan transformasi digital, perubahan ekonomi, perkembangan dunia, dan diplomasi internasional.
Baca juga: Kemandirian Fiskal Surabaya Tak Bisa Cuma Dijawab dengan Optimisme
Imam Jazuli juga dikenal sebagai kiai yang bergerak di bidang kewirausahaan. Dari sudut pandang dia, kemandirian ekonomi dapat menjadi salah satu cara memperkuat pesantren dan menopang khidmah kepada umat.
Namun Muktamar bukan hanya soal memenangkan pemilihan. Setelah pemungutan suara selesai, ketua umum terpilih harus menghadapi pekerjaan yang lebih sulit, menyatukan kembali kelompok yang berbeda pilihan.
Imam Jazuli dinilai memiliki ruang untuk menjadi penghubung. Usianya yang relatif muda memungkinkan komunikasi dengan generasi muda NU, sementara latar belakang pesantren membuatnya tetap berada dalam tradisi yang selama ini menjadi fondasi organisasi. (*)
Editor : Yuris. T. Hidayat