Lawang, Malang, JatimUPdate.id— Di penghujung Agustus, ketika bendera merah putih masih berkibar di tiap sudut kampung, kota, hingga lobi hotel, Lawang memilih merayakan kemerdekaan dengan cara yang berbeda. Bukan hanya lomba dan upacara.
Di Oak Lawang Hotel & Convention, Sabtu malam itu digelar OAKsperience: pertunjukan Wayang Ringgit Purwo berjudul *"Drupadi Wanito Pinilih"*. Sebuah lakon tentang perempuan yang menerima takdir, ruang, dan waktu, lalu mengubahnya menjadi bhakti.
Acara ini sekaligus menjadi rangkaian berkelanjutan dari penetapan *Satgas Peduli Air*, yang digagas sebagai jawaban atas kegelisahan bersama: bagaimana air tetap ada untuk anak cucu kita.
Malam itu, pendopo Oak Lawang menjadi titik temu. Ada banyak nama, banyak langkah, tapi satu arah.
Hadir Dodik Purwoko, Pendiri sekaligus Ketua Umum Dewan Majelis Nasional Formasy Praja Nusantara, didampingi Yoyok Yuliono* Ketua Dewan Majelis Daerah FPN Kota Batu. Duduk bersanding dengan Ambasador OAK Lawang, Ki Argo Setyo, Ki Tohari dan para sesepuh PEPADI, Kaweruh Batin Tulis Papan Kasunyatan, Paguyuban BATIK KITAB BATIK Singosari, Satgas Peduli Mata Air Nusantara, Satgas Basis DELING, Ki Fanani Besalen Tumapel Singosari, Yayasan Salam Satu Jiwa, PPMAL, Komunitas Kopi Peradaban Gunung Arjuno, Paguyuban Komunitas Sungai Indonesia, hingga jejaring jurnalistik KAIROS.
Mereka berkumpul di "Episentrum 1000 Lawang", sebuah laboratorium gagasan: Eko Bio Culture Tourism Support System. Tempat di mana pariwisata tidak lagi sekadar menjual pemandangan, tetapi merawat budaya dan ekologi.
Dalam sambutannya, Dodik Purwoko menautkan lakon Drupadi dengan tugas kebangsaan hari ini.
"Drupadi menerima nasib atas waktu dan ruang sebagai manusia. Ia tidak lagi menjadi sosok, tetapi titipan pesan moral: bhakti untuk negeri dan pengabdian kepada kehidupan," ujarnya.
Bagi FPN, pesan itu sederhana. Bernegara adalah soal etika. Menjadi warga negara adalah soal hukum. Dan keduanya akan rapuh jika kita abai pada air.
"Mengabaikan tata kelola air sama artinya melumpuhkan peradaban," tegasnya.
Di momentum itu, FPN juga melantik *Guntur Bisowarno* dari Bammbo Spirit Nusantara sebagai anggota Divisi Humas Dewan Majelis Nasional. Tugasnya jelas: mengawal dan mengkolaborasikan berbagai elemen — kampus, komunitas, ormas — untuk program *"menjaga dan memulihkan sumber daya air dan konservasi air"* di kawasan hutan KPH Pasuruan.
Langkah itu akan dikuatkan bersama jejaring di Pasuruan Raya: *Romsul Hasbawi* Ketua DMD FPN Pasuruan Raya, *Sutikno* Ketua LSM Laskar Merah Putih Pasuruan Raya, *Gio* Kabiro Media, dan Edy GM GRIB Pasuruan Raya. Tujuannya satu: mitigasi krisis air.
Apresiasi juga disampaikan *Asep Kusdinar*, Kepala Bakorwil III Malang. Baginya, kolaborasi seperti di Oak Lawang adalah contoh nyata sinergi membangun. Bukan hanya untuk kemeriahan Agustus, tetapi untuk kerja-kerja panjang di Pasuruan dan Jawa Timur.
Malam itu wayang kulit selesai. Gamelan berhenti. Tapi gagasannya belum.
Karena kemerdekaan ke-81 ini, barangkali, bukan hanya soal bebas dari penjajah. Melainkan bebas dari ancaman kehausan. Dan itu, seperti Drupadi, menuntut bhakti yang tenang, terus-menerus, dan berpihak pada kehidupan. (rilis)
Editor : Redaksi