Mengenang Airlangga Pribadi Kusman ; Merawat Gagasan, Menjaga Percakapan Intelektual

Reporter : Deki Umamun Rois
Pusdek turut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya Airlangga Pribadi Kusman

 

Oleh Asep Suriaman, S. Psi 

Baca juga: Sang Penjaga Api Bung Karno Telah Berpulang: Mengenang Airlangga Pribadi Kusman

Direktur PUSDEK
Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan Publik, Alumni dan Aktivis PMII

 

Malang, JatimUPdate.id - Ada orang-orang yang kehadirannya meninggalkan kesan. Ada pula yang kepergiannya meninggalkan ruang untuk berpikir lebih jauh. Airlangga Pribadi Kusman adalah salah satu sosok yang patut dikenang bukan semata karena perjalanan hidupnya, melainkan karena gagasan dan percakapan intelektual yang pernah ia hadirkan.

Dalam dunia akademik dan kehidupan publik, gagasan memiliki perjalanan yang panjang. Ia tidak selalu selesai bersama orang yang melahirkannya. Gagasan dapat terus tumbuh, menemukan konteks baru, diperdebatkan, diuji, bahkan dikembangkan oleh mereka yang datang kemudian.

Karena itu, mengenang bung Airlangga seyogianya tidak berhenti pada ungkapan kehilangan. Mengenang juga berarti merawat apa yang baik dari gagasan yang pernah ia tinggalkan. Merawat gagasan bukan berarti menempatkannya sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa kritik. Sebaliknya, penghormatan yang paling bermakna terhadap seorang intelektual justru terletak pada keberanian untuk melanjutkan percakapan yang pernah ia mulai.

Baca juga: Dekade-Dekade Terakhir Dinasti Politik

Membaca kembali pemikirannya. Mendiskusikannya dalam konteks zaman yang terus berubah. Menguji relevansinya terhadap persoalan-persoalan hari ini. Dan, bila diperlukan, mengembangkannya melalui pemikiran-pemikiran baru. Dengan cara itulah gagasan tetap hidup. Kehidupan demokrasi kita membutuhkan ruang-ruang semacam itu: ruang untuk bertanya, untuk berbeda pandangan, untuk berdialog dengan terbuka, dan untuk menjaga agar ilmu pengetahuan tetap memiliki hubungan yang dekat dengan persoalan masyarakat.

Di tengah perubahan sosial dan politik yang berlangsung begitu cepat, tradisi intelektual yang kritis sekaligus beretika menjadi semakin berharga. Bukan untuk mempertajam perbedaan, melainkan untuk membantu kita memahami persoalan secara lebih jernih dan menemukan kemungkinan-kemungkinan jalan keluar yang lebih baik.

Di sanalah kenangan terhadap Arlangga memperoleh maknanya. Bukan dengan mengabadikan sosoknya dalam kata-kata, tetapi dengan menjaga agar percakapan intelektual yang pernah ia bangun tidak berhenti. Mari kita merawat gagasan dengan membaca dan mendiskusikannya. Mari menjaga tradisi bertanya dan berpikir kritis. Mari membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk mengenal, menguji, dan mengembangkan pemikiran yang pernah diwariskan. Sebab warisan intelektual yang paling berharga bukanlah sekadar nama yang dikenang, melainkan gagasan yang terus memberi makna bagi kehidupan bersama.

Baca juga: Seni Berpidato Tanpa Teks: Karisma, Tantangan, dan Cara Menguasainya

Airlangga Pribadi Kusman telah menjadi bagian dari perjalanan intelektual itu. Kini, giliran kita untuk menjaga percakapannya tetap hidup.

Selamat jalan, bung Airlangga. Namamu kami kenang. Gagasanmu kami rawat. Percakapan intelektualmu kami lanjutkan. Semoga apa yang pernah engkau pikirkan dan perjuangkan menemukan kehidupan baru pada generasi-generasi yang datang setelahmu.

 

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru