Oleh Rosdiansyah
Baca juga: Airlangga Pribadi Kusman: Ketika Intelektual Memilih Berdiri di Sisi Republik
Peneliti di Surabaya, Jurnalis Radio dan Media Cetak era 1990-an
Surabaya, JatimUPdate.id - Kabar duka itu datang tiba-tiba di Rabu (9/9/2026) siang hari, saat aku sedang membaca sebuah buku di rumah. Aku sama sekali tak menyangka Angga begitu cepat pergi selamanya. Kepergian mendadak tanpa tanda-tanda apapun. Tak terdengar sakit, tak pernah mengeluh. Setiap kali bertemu, Angga selalu ceria. Banyak cerita, doyan bercanda.
Meski belakangan, sejak 2025, ia serius menjalani amanah yang diberikan kepadanya sebagai kepala program magister Fisip Unair. Keseriusan yang menyita waktunya, namun tak menghalangi untuk menuntaskan riset atau literature review yang hasilnya menjadi artikel atau buku. Ia kuat berjam-jam duduk di depan layar laptop. Itu kebiasaan sejak ia masih mahasiswa dulu.
Spektrum wawasan Angga bukan cuma bersumber dari ratusan buku atau artikel ilmiah yang sudah dibacanya. Perluasan spektrum juga berasal dari upaya menyimak narasumber kompeten yang ditemui. Angga betah berlama-lama menyimak penjelasan narasumber, apalagi dari seorang pelaku sejarah. Suatu ketika di bulan Juli 1999, aku mengajak Angga untuk menemui Mas Dahlan (Dahlan Ranuwihardjo, Ketua Umum PB HMI periode 1951-1953) di sebuah rumah di kawasan Manyar, Surabaya. Itu rumah keluarga Soehirman Djamal (Pak Tjuk), adik Bu Mien Dahlan (RA Endang Suharmini binti Abdul Djamal).
Sebulan sebelumnya, melalui saluran telepon, Bu Mien (istri Mas Dahlan) sudah menjadwalkan aku agar bisa bertemu khusus dengan Mas Dahlan. Aku mengenal Mas Dahlan pertama kali saat acara ''Peta Politik'' (Petik) tahun 1988 di Asrama Sunan Gunung Jati, Jatinegara, Jakarta. Ini acara rutin semacam upgrading wajib penghuni asrama. Mas Dahlan pemateri utama acara tersebut, selain juga Bang Husni Thamrin sebagai pemateri kedua. Asrama itu sebelumnya rumah milik Pak Prawoto Mangkusasmito, lalu diwakafkan ke Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) di Jakarta. Dan YAPI mengubah rumah itu menjadi asrama untuk mahasiswa.
Saat malam di acara Petik itu, Mas Dahlan begitu prima menjelaskan pentingnya menyadari kehadiran muslim dalam kehidupan bangsa. Mas Dahlan pelaku sejarah masa Revolusi Indonesia usai Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Mas Dahlan yang saat itu merupakan pemuda terpelajar terlibat aktif dalam gerakan perjuangan di Jawa Tengah. Ia menjadi bagian dari konsolidasi Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang dibentuk pada akhir 1945 untuk menggalang kekuatan pemuda dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Saat menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Yogyakarta, Mas Dahlan turut memobilisasi mahasiswa dalam menentang Agresi Militer Belanda I (1947) dan II (1948). Para mahasiswa pada era revolusi tersebut terintegrasi dalam unit-unit perjuangan bersenjata seperti Corps Mahasiswa (CM) dan Tentara Pelajar. Usai penandatanganan Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949 dan penyerahan kedaulatan, peran Mas Dahlan bergeser dari perjuangan fisik ke arah pelembagaan gerakan intelektual, kepemimpinan pemuda, serta konsolidasi ketatanegaraan.
Bagi Mas Dahlan, sintesis identitas keislaman dan keindonesiaan harus saling menguatkan. Menurutnya, seorang kader muslim yang ideal (Insan Pejuang Paripurna) adalah sosok yang memiliki kedalaman iman sekaligus komitmen nasionalisme yang kuat untuk membangun dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Uniknya, di masa Orde Lama, kedekatan Mas Dahlan pada Soekarno tidak menjadikan beliau mengkultuskan Soekarno.
Mas Dahlan tetap memperlihatkan pemikiran kritisnya terhadap Soekarno yang cenderung mengakomodasi PKI pada dekade '60an. Dihadapan sekitar 60 peserta acara ''Petik'' yang digelar dua hari dua malam di tahun 1988 itu, Mas Dahlan bercerita beda antara tujuan PKI yang menjadikan Marxisme-Leninisme sebagai pondasi kebangsaan. Sedangkan pondasi kebangsaan Indonesia sudah disepakati bersama, yakni Pancasila. Walau tokoh-tokoh PKI, seperti DN Aidit dan Njoto, mengulas Pancasila menurut PKI. Namun, ulasan-ulasan itu hanyalah strategi meredam kecurigaan masyarakat.
Baca juga: Airlangga Pribadi Kusman, HMI, Dan Soekarnoisme
Sebagai seorang nasionalis tulen, Mas Dahlan membingkai jawaban-jawaban terhadap persoalan keindonesiaan pada dekade '80an dengan memperlihatkan pemikiran serta sikap nasionalistik. Ketika seorang peserta acara Petik bertanya tentang sikap Mas Dahlan terhadap Soeharto, jawaban Mas Dahlan justru mengulas bagaimana Soeharto memperlakukan Soekarno di akhir masa jabatan Soekarno. Soeharto tak hendak konfrontatif terhadap Soekarno. Disitu Soeharto memperlihatkan rasa hormat pada Soekarno sekaligus Soeharto memperhitungkan reaksi balik yang bisa muncul dari golongan Soekarnois yang kala akhir dekade '60an masih berjumlah cukup besar, andai Soekarno diperlakukan tak manusiawi.
Ketika bertemu kembali dengan Mas Dahlan di rumah Pak Tjuk, sekali lagi Mas Dahlan mengulas tentang keindonesiaan. Aku dan Angga menyimak seksama. Kami berdiskusi juga seputar isu-isu aktual usai Soeharto mengundurkan diri dan bagaimana menyikapinya. Saat itu, Angga yang sudah menginjak semester akhir di Fisip Unair, ikut mencatat. Kemudian terjadi dialog intensif antara Angga dengan Mas Dahlan terkait nasionalisme dan Soekarnoisme. Mas Dahlan dengan telaten menanggapi pertanyaan-pertanyaan Angga. Terutama pertanyaan terkait bagaimana Soekarno menjalankan pemerintahannya dulu dan sikap umat Islam terhadap salah satu pendiri bangsa itu.
Sebagai saksi sejarah, Mas Dahlan menjelaskan hubungan Soekarno dengan umat Islam secara umum sangat baik. Soekarno bersikap realistis bahwa mayoritas warganegara Indonesia adalah muslim. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga melibatkan banyak muslim, baik di medan laga maupun di meja perundingan. Namun, Soekarno juga bersikap terbuka kepada non-muslim. Semua warganegara berada dalam kesetaraan dan hidup harmonis saling percaya satu sama lain untuk membangun bangsa. Uraian Mas Dahlan ini segera kembali mengingatkanku pada saat Mas Dahlan juga mengulas hal yang sama di ruang depan acara Petik 11 tahun sebelumnya di asrama.
Diskusi di rumah Pak Tjuk sampai larut malam itu pun berakhir, Angga terlihat antusias menyalami Mas Dahlan. Tak diragukan lagi, ngobrol gayeng bareng Mas Dahlan pada malam itu sangat membekas kuat dalam benak dan sanubari Angga pada bulan-bulan berikutnya. Di sela-sela aku sedang sibuk mencermati perkembangan konflik Ambon di akhir tahun 1999, aku ketemu Angga di Fisip Unair. Ia membawa buku-buku tentang Soekarno dan seputar nasionalisme. Ia menjadi lebih serius mengkaji Soekarno, nasionalisme dan marhaenisme.
Namun sesungguhnya juga ada ketertarikan Angga pada perkembangan situasi lapangan pasca reformasi Mei 1998. Terutama situasi lapangan yang berkaitan pada isu-isu politik serta kiprah para aktor politik. Angga menjadi saksi sejarah penghadangan Amien Rais di Kota Pasuruan pada Juni 1998. Saat itu, kabar rencana penghadangan sudah tersebar pada awal Juni.
Pada 14 Juni 1998, Amien Rais bersama rombongannya dijadwalkan menghadiri acara tabligh akbar dan konsolidasi reformasi di Pasuruan. Sebelum ke Kota Pasuruan, Amien Rais rencananya bertandang dulu ke acara Muhammadiyah di kawasan Pucang. Aku, Angga dan Saelan sudah menunggu di kawasan itu. Ternyata, Pak Amien batal ke Pucang. Beliau berangkat dari rumah Pak Sugeng langsung menuju ke Kota Pasuruan.
Baca juga: Sang Penjaga Api Bung Karno Telah Berpulang: Mengenang Airlangga Pribadi Kusman
Lalu, Angga mengajak aku dan Saelan untuk meluncur bareng ke Kota Pasuruan. Selama di perjalanan, Angga menyetir mobilnya. Begitu tiba di Kota Pasuruan, suasana mencekam. Ada gerombolan penghadang di depan kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan. Untungnya, aksi penghadangan berlangsung surut setelah aparat keamanan perlahan membubarkan massa jelang siang. Kami memberitahu Pak Sugeng yang masih dalam perjalanan tentang situasi di lapangan. Alhamdulillah, Pak Sugeng lantas putar balik ke Surabaya. Dalam pandangan Angga saat itu, penghadangan terhadap Amien Rais itu sangat janggal, sebab massa penghadang bukan massa politis.
Sembari menyetir mobil balik ke Surabaya, Angga menyatakan heran kenapa massa beringas di Pasuruan yang jauh dari hiruk-pikuk politik bisa begitu membenci Amien Rais. Belakangan, pada Agustus 1998, Angga memberitahu aku dan Saelan, bahwa ada orang-orang tertentu di Surabaya yang diduga kuat menggerakkan massa penghadangan Amien Rais di Pasuruan. Entah Angga memperoleh informasi penting itu darimana, yang jelas Amien Rais memang tidak disukai sejumlah pihak kala itu. Bagi Angga, Amien Rais termasuk simbol perlawanan terhadap Soeharto, dan perlawanan itu bukan berarti Amien Rais tak nasionalis. Justru Amien Rais menunjukkan kecintaannya pada bangsa ini melalui cara melawan hegemoni Soeharto dan kroni-kroninya.
Ketika melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia (UI) Jakarta pada tahun 2005, Angga lantas juga bergabung ke Soegang Sarjadi Syndicate (SSS) sebagai peneliti di Wisma Kodel di kawasan Kuningan. Di lembaga ini, Angga semakin intens menyelami wacana nasionalisme dan Soekarnoisme. Ia menggali dari banyak pemikir nasionalisme dan mendiskusikannya dengan Sukardi Rinakit (Mas Kardi) di SSS. Ia kian memperluas jejaring pergaulan dengan para tokoh nasionalis di berbagai daerah. Hasil perenungannya kemudian menjadi artikel-artikel bermutu yang rutin dimuat di sebuah harian sohor di Jakarta.
Pelan-pelan, Angga mulai dikenal sebagai kolumnis sekaligus dosen. Gaya tulisannya memang unik, selalu mencantumkan judul buku sebagai referensi. Ketika aku menanyakan kenapa harus ada judul buku yang tercantum dalam artikel. Dengan enteng ia menjawab, biar artikelnya bisa divalidasi ke buku-buku yang dirujuk. Ia memang kutu buku sejak masih mahasiswa. Kadang uang sakunya habis untuk memborong buku-buku terbaru. Dan ia betah berlama-lama membaca buku, ajaibnya selalu ingat isi buku yang telah dibacanya.
Ia bersahabat dengan siapapun. Selain berkawan karib dengan para mantan aktivis reformasi 1998 di Surabaya, Angga juga bersahabat dekat dengan aktivis lintas kota, lintas keilmuan, lintas agama. Bahkan ia juga bersahabat baik dengan Jalil Latuconsina, penanda-tangan Petisi 50 dari Surabaya. Dalam beberapa kesempatan di Surabaya, Angga kerap ngobrol gayeng dengan Jalil. Dari Jalil, Angga mengetahui cara membaca situasi lapangan. Sebaliknya, dari Angga, Jalil bisa mengetahui beberapa isi buku yang menarik.
Sebagai intelektual publik, Angga selalu peka terhadap situasi politik di tanah air. Kepekaan itu membuatnya senantiasa ingin menemukan jawaban atas persoalan-persoalan mutakhir. Kepekaan itu pula yang pada gilirannya melahirkan kehormatan sekaligus perlawanan terhadap penindasan. Bak bait dalam Iliad karya Homer, sejarawan Yunani, perlawanan adalah perbuatan agung yang akan dikisahkan diantara manusia kelak. Selamat jalan adindaku, Airlangga Pribadi Kusman.
Editor : Redaksi