Surabaya,JatimUPdate.id - Pakar politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, mengatakan pemecatan Achmad Hidayat sebagai kader PDIP bukan karena partai tersebut gentar usai bertemu Presiden RI ke-7 Joko Widodo.
"Apakah pertemuan dengan Jokowi itu menimbulkan ketakutan bagi PDIP, saya kira kurang tepat ya. Kalau dikatakan PDIP itu takut hanya karena seorang kader bertemu dengan Jokow," kata Bimo kepada Jatimupdate, Selasa (15/7).
Baca juga: Tiga Pelajar SMAN Surabaya Bersinar di International Student Summit Malaysia
Sebab kata Bimo pertemuan personal kader dengan mantan presiden tidak serta merta menjadi ancaman bagi partai.
Justru dari sudut pandang Bimo, pemecatan itu dipicu lantaran Achmad Hidayat memiliki posisi dan jaringan politik di kota Pahlawan.
"Tapi persoalannya menjadi berbeda ketika pertemuan itu dilakukan oleh kader yang memiliki posisi dan jaringan politik di Surabaya," tutur Bimo.
Bimo mengindikasikan pemecatan Achmad Hidayat ditengarai permintaan rehabilitasi keanggotaan Jokowi di PDIP.
Dampaknya, tambah Bimo, PDIP menganggap pertemuan tersebut bukan cuma silaturahmi tapi menjadi simbol politik.
"Jadi menurut yang sensitif sebenarnya bukan pertemuannya, tapi makna politik di balik pertemuan tersebut," tukas Bimo.
Menurut Bimo PDIP sebagai partai kader memiliki kepentingan menjaga loyalitas dan disiplin organisasi.
Sehingga kasus Achmad Hidayat lebih tepat dilihat sebagai persoalan kontrol organisasi dan batas loyalitas politik.
"Saya melihat kasusnya Mas Achmad ini lebih sebagai persoalan kontrol organisasi dan juga batas loyalitas politik, bukan semata-mata soal Jokowi," beber Ken Bimo Sultoni.
Sebagai informasi, DPP PDIP secara resmi memecat Achmad Hidayat, mantan Wakil Sekretaris DPC PDIP Surabaya, dari keanggotaan partai. Keputusan itu tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 105/KPTS/DPP/IX/2026 dengan alasan sederet pelanggaran kode etik internal.
Baca juga: PSI Surabaya Gelar Maulid Nabi, Yuga Singgung Tudingan Anti-Muslim
“Memberikan sanksi organisasi berupa Pemecatan kepada Sdr Achmad Hidayat dari Keanggotaan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,” bunyi penggalan surat keputusan tersebut.
Saat dikonfirmasi wartawan, Achmad membenarkan pemecatan dirinya. Ia mengatakan keputusan tersebut berkaitan dengan kunjungannya ke rumah Jokowi yang kemudian diunggah ke media sosial.
“Betul. Saya ke rumah Jokowi itu kurang lebih bulan Juli. Hanya silaturahim, lalu saya posting di Instagram. Nah, tidak lama setelah itu, bulan Agustus ada usulan pemecatan dari DPC Kota Surabaya ke DPP, sehingga saya dipanggil oleh DPP,” ujar Achmad. (Roy/Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat