Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Di panggung republik yang riuh oleh seminar keberlanjutan dan spanduk kedaulatan, ia hadir bukan sebagai orator yang pandai berpuisi, melainkan sebagai eksekutor yang memegang kunci inggris. Ketika orang lain sibuk berdebat soal pasal-pasal konstitusi dan etika lingkungan, ia cukup menatap peta topografi, menandai kawasan hutan yang siap diubah menjadi kawasan industri, lalu menelepon para pemilik modal di seberang lautan.
Ia adalah Sang Komprador—sosok person in duty yang tak pernah kehabisan portofolio. Jabatan resminya mungkin bersambung-sambung seperti gerbong kereta api kilat, namun peran sesungguhnya sangat sederhana: menjadi jembatan paling kokoh antara oligarki domestik dan raksasa kapital global. Jika investasi tertahan oleh birokrasi yang lamban atau benturan regulasi daerah, cukup serahkan padanya. Dalam semalam, amdal bisa kelar, izin bisa meluncur, dan Proyek Strategis Nasional melaju tanpa celah untuk diinterupsi.
Bagi Sang Komprador, idealisme adalah beban bobot mati yang merusak efisiensi. Alam—dengan segala keanekaragaman hayatinya—hanyalah hamparan raw material yang belum dimonetisasi. Nikel di perut bumi, bauksit di lereng bukit, hingga air laut untuk pendingin smelter, semuanya adalah angka-angka statistik dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Ia tak bicara soal keadilan antargenerasi; ia bicara tentang target kuartal dan realisasi investasi tahunan.
Relasi yang ia bangun dengan oligarki begitu intim sekaligus fungsional. Oligarki butuh kepastian hukum dan jaminan keamanan modal; Sang Komprador menyediakan karpet merah beserta pengawalan ketatnya.
Ketika rakyat di pinggiran kawasan industri mengeluhkan polusi, hilangnya ruang hidup, atau air tanah yang berubah warna, ia cukup menyodorkan narasi tunggal yang ampuh: "Ini semua demi hilirisasi dan kemajuan bangsa." Sebuah kalimat magis yang seketika membungkam segala jenis kritik.
Ia memosisikan diri sebagai sosok yang tak tergantikan. Dari urusan energi 9 hingga urusan pangan, bayang-bayangnya selalu hadir di titik temu antara kebijakan publik dan kepentingan privat. Ia adalah orkestrator utama dalam simfoni pembangunan yang bertempo cepat, meski instrumen yang dimainkan sering kali memekakkan telinga masyarakat lokal.
Kelak, ketika deposit tambang habis terkuras dan yang tersisa hanyalah kolam-kolam raksasa berisi limbah, cerita tentang Sang Komprador mungkin akan dicatat dalam dua versi. Dalam buku laporan tahunan investor, ia akan dikenang sebagai pahlawan efisiensi dan penggerak utama modernisasi.
Namun di lembaran sejarah rakyat kecil, ia akan dicatat sebagai sosok yang dengan senyum dingin menyerahkan kedaulatan tanah air kepada penawar harga tertinggi.
Namun, pertanyaan mendasar yang tersisa di balik keriuhan ini: apakah sistem komprador memang telah mencengkeram dan berurat berakar di negeri ini? Lalu, siapakah sebenarnya dia—atau mereka—yang dengan begitu cermat menjalankan peran tersebut di balik topeng pelayanan publik? Publik tentu tak lagi buta untuk sekadar menerka-nerka siapa dalang dan pelaksana di balik panggung megah ini.
Sejalan dengan bergulirnya waktu, ketika tirai narasi "pembangunan" makin terkoyak dan dampaknya kian nyata dirasakan di ruang hidup sehari-hari, kesadaran itu tak lagi bisa dibendung. Dan di titik itulah, perlawanan rakyat tidak akan redup, melainkan tumbuh makin nyaring dan keras.
Editor : Redaksi