Surabaya,JatimUPdate.id – Legislator Partai NasDem, sekaligus anggota Komisi D DPRD Surabaya Imam Syafi’i memberikan bantuan seragam sekolah dan olahraga kepada seorang siswi SMK di kawasan Mojoklanggru Lor, Kelurahan Mojo, Kecamatan Gubeng, Jum'at (18/9).
Bantuan itu diberikan setelah Imam mendapat informasi mengenai kondisi keluarga siswi yang kesulitan memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah.
Baca juga: Ajeng Wira Wati Dukung Pemkot Surabaya Gandeng Kampus Latih Guru Inklusi
Imam mengatakan persoalan tersebut bermula setelah ia mengunggah pengalamannya saat berkunjung ke SMKN 6 Surabaya.
Dalam kunjungan itu, ia menemukan seorang siswa masih mengenakan seragam SMP untuk bersekolah.
Unggahan tersebut kemudian mendapat respons dari sejumlah warganet. Salah satunya Naila, yang menceritakan kondisi adiknya yang juga mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan seragam sekolah.
Menurut Imam, sebagian seragam lama masih dapat digunakan karena berasal dari sekolah yang sama.
Namun, ada perlengkapan yang harus dibeli karena sudah mengalami perubahan, seperti seragam olahraga satu setel dan atribut sekolah.
“Jadi kami membantu supaya tidak minder atau sekolah itu sama seperti teman-temannya,” kata Imam.
Ia menilai persoalan perlengkapan sekolah menunjukkan bahwa pendidikan SMA sederajat yang sudah gratis belum otomatis menghilangkan beban biaya bagi keluarga kurang mampu. Seragam sekolah saja, kata dia, bisa membutuhkan biaya Rp3 juta hingga Rp4 juta.
“Untuk seragam aja bisa 3 sampai 4 juta. Bayangkan itu setiap tahun,” sergah Imam.
Beban keluarga juga dapat bertambah dengan kebutuhan lain, termasuk iuran komite di sejumlah sekolah.
Untuk siswa SMK, menurut Imam, terdapat pula kebutuhan biaya praktik yang perlu diperhitungkan.
Imam kemudian menyoroti perubahan skema bantuan pendidikan Pemuda Tangguh untuk jenjang SMA sederajat.
Sebelumnya, penerima bantuan memperoleh Rp200 ribu per bulan. Saat ini nominal bantuan disebut meningkat menjadi Rp350 ribu per siswa per bulan, tetapi mekanismenya berbeda.
“Sekarang memang ditingkatkan bantuannya, yaitu Rp350.000 per siswa per bulan, tapi itu langsung ditransfer ke sekolah untuk membantu SPP-nya,” kata dia.
Menurut Imam, bantuan tersebut memiliki skema berbeda antara sekolah swasta dan negeri. Siswa sekolah swasta memperoleh bantuan untuk SPP, sedangkan siswa sekolah negeri mendapatkan bantuan berupa seragam dan perlengkapan sekolah.
Kasus siswi SMK tersebut, kata Imam, juga menunjukkan persoalan lain dalam penentuan penerima bantuan pemerintah, yakni penggunaan desil.
Baca juga: Ketua Bawaslu Ungkap Potensi 55 Kursi DPRD Surabaya, Dapil Bisa Berubah
Keluarga siswi itu tercatat berada pada desil 6 sampai 10 sehingga dianggap tidak masuk kelompok penerima bantuan sosial.
Padahal, kondisi ekonomi keluarga tersebut menurut Imam menunjukkan keadaan yang berbeda. Ayah siswi bekerja sebagai sopir pribadi dengan penghasilan sekitar Rp2,5 juta per bulan, tetapi pekerjaan itu bergantung pada ada tidaknya pekerjaan.
Ibunya bekerja di laundry dengan penghasilan Rp60 ribu per hari dan tidak memperoleh penghasilan ketika tidak masuk kerja.
Kakaknya juga sudah bekerja dengan penghasilan bersih sekitar Rp2,5 juta per bulan. Penghasilan tersebut masih harus digunakan untuk kebutuhan makan dan kos karena rumah keluarga tidak cukup untuk dihuni lima orang.
“Kalau kenyataannya miskin, ya harus dibantu,” ujar Imam.
Maka dari itu, Imam meminta pemerintah tidak menjadikan desil sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan penerima bantuan.
Ia merujuk pada pernyataan Wali Kota Surabaya yang menyebut desil bukan satu-satunya pertimbangan dalam pemberian bantuan.
“Karena itu kami menagih, seluruh warga Surabaya yang kurang mampu akan menagih pernyataan Wali Kota itu,” katanya.
Baca juga: Dapil Surabaya Berpotensi Bertambah, Golkar Mulai Menata Caleg
Imam mengatakan keluarga yang secara administrasi masuk desil di atas 5 tetapi secara substantif berada dalam kondisi tidak mampu semestinya dapat diverifikasi kembali.
Ia mengusulkan survei ulang terhadap kondisi keluarga atau perubahan kriteria penerima bantuan.
“Kalau kemudian ketika administrasi mereka tidak termasuk kelompok itu, atau desilnya tinggi, ya itu kita minta supaya disurvei ulang, atau kriterianya yang diubah,” kata Imam.
Orang tua penerima bantuan, Maestina, mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan Imam Syafi’i.
Ia mengatakan bantuan tersebut meringankan beban keluarga yang belum mampu membeli seluruh perlengkapan sekolah anaknya.
“Saya sangat senang sekali menerima bantuan dari Mas Imam, karena saya masih belum bisa beliin. Alhamdulillah ada yang masih bantu,” ucapnya.
Maestina mengatakan sejumlah perlengkapan sekolah hingga kini masih menggunakan milik kakaknya. Kebutuhan lainnya dibeli secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan ekonomi keluarga.
“Iya, ini masih pakai punyanya kakaknya. Terus tadi saya beliin satu-satu, saya nyicil. Tapi yang lainnya belum bisa beliin sampai sekarang,” ungkapnya. (Roy/Mmt)
Editor : Miftahul Rachman