Ajeng Wira Wati Dukung Pemkot Surabaya Gandeng Kampus Latih Guru Inklusi

avatar Ibrahim
  • URL berhasil dicopy
Ajeng Wira Wati, dok Jatimupdate.id
Ajeng Wira Wati, dok Jatimupdate.id

Surabaya,JatimUPdate.id - Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ajeng Wira Wati, merespons positif langkah Pemerintah Kota Surabaya menggandeng perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas guru dalam menangani pendidikan inklusi. 

Menurut dia, penguatan sumber daya manusia bagian penting agar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Surabaya mampu memberikan ruang belajar yang setara bagi seluruh siswa.

"Termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK)," kata Ajeng, kepada Jatimupdate, Jum'at (18/9).

Ajeng mengatakan sekolah inklusif seyogianya menjadi target seluruh SD dan SMP di Surabaya. 

Sehingga persoalan keterpenuhan sumber daya manusia tidak dijadikan alasan sebagai kendala dalam pelaksanaan pendidikan inklusi.

“Sekolah inklusif harus menjadi target bagi seluruh SD dan SMP di Surabaya. Keterpenuhan SDM tidak boleh menjadi kendala lagi,” kata Ajeng.

Dia mendukung upaya pemenuhan guru inklusi melalui kerja sama dengan universitas. 

Menurut Ajeng, kolaborasi tersebut merupakan salah satu cara untuk menyiapkan tenaga pendamping yang memiliki pemahaman memadai mengenai penanganan pendidikan inklusi.

Ajeng juga menilai pemahaman tentang inklusi tidak cukup hanya diberikan kepada guru yang secara khusus menangani ABK. 

Setiap guru, kata dia, perlu memiliki bekal mengenai cara menangani pendidikan inklusi karena sekolah negeri di jenjang SD dan SMP harus ramah terhadap siswa dengan kebutuhan yang beragam.

“Perlu setiap guru dibekali pemahaman penanganan inklusi,” papar Ajeng.

Dari sudut pandangnya, guru memiliki peran dalam membangun empati terhadap siswa disabilitas. 

Sikap tersebut tambah Ajeng dibutuhkan agar anak-anak dapat mengikuti proses belajar bersama tanpa merasa dibedakan karena kondisi yang mereka miliki.

“Guru tetap sebagai inisiator empati kepada anak disabilitas agar setiap murid bisa belajar normal bersama walaupun ada teman yang istimewa,” katanya.

Selain persoalan guru inklusi, Ajeng juga mendorong penambahan satu Rumah Anak Prestasi (RAP) di Surabaya. 

Dia meminta agar RAP kembali dibuka satu lokasi sehingga jumlah fasilitas tersebut menjadi lima.

“Dan mendorong RAP dibuka satu lagi, supaya ada lima RAP di Surabaya,” demikian Ajeng Wira Wati.

Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani mengatakan, pemkot melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya telah memfasilitasi tenaga pendidik yang mendampingi siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler.

Akan tetapi, ia menyampaikan, hal ini belum sepenuhnya berjalan maksimal, karena terbatasnya sumber daya manusia (SDM). 

Pemkot kata dia, mengupayakan agar siswa berkebutuhan khusus tetap mendapatkan pendidikan yang setara. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi. 

“Karena (anak) inklusi itu kan harus mendapatkan perhatian khusus, dan kami belum terlalu masif memberikan guru spesial di setiap sekolah. Karena memang tidak gampang untuk mencari guru spesial itu, terbatas SDM-nya, kita bekerjasama dengan banyak pihak salah satunya kampus yang ada jurusan inklusi,” kata Rini. (Roy/Mmt)