Trauma Kapal Laut 2002, Tiket Pesawat Mahal, Jatuh Hatinya Pada Layanan KM Dharma Kartika V

Reporter : M Aris Effendi

Gili Mas-Lombok Barat, JatimUPdate.id - Sepasang suami istri berprofesi guru dari Waingapu-Kabupaten Sumba Timur, Mujaman dan Rukmawati yang merupakan warga perantauan asal Saronggi, Sumenep Madura menyatakan kenyamanan dan jatuh hatinya terhadap layanan KM Dharma Kartika V, padahal sebelumnya Rukmawati sejak 2002 mengalami trauma berat akibat saat berlayar Tanjung Perak-Waingapu mengalami insiden di laut dimana kapalnya sempat mati mesin berjam-jam di perairan Sumbawa.

Baca juga: Komentar Pengguna Layanan KM Dharma Kartika V

Mujaman, Pensiunan Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Waingapu Sumba Timur menyatakan dirinya dan istrinya memberanikan diri untuk kembali naik kapal laut dari Waingapu menuju Tanjung Perak-Surabaya setalah dirinya dan istri serta dua orang anaknya pada 2002 pernah mengalami insiden laut, mesin kapal laut tiba-tiba mati saat malam dan berlangsung berjam-jam, posisi kapal sempat terombang-ambing di lautan.

"Peristiwa laut itu membuat Istri Saya [Rukmawati] menjadi trauma untuk naik kapal laut lagi karena suasananya saat itu lumayan mencekam. Alhamdulillah, dengan adanya KM Dharma Kartika V yang sudah berlayar sejak Februari 2024, saya dan istri berani untuk kembali naik kapal laut setelah dapat informasi kelayakan dan kenyamanan kapal dari teman yang sudah menaikinya," kata Mujaman didampingi Rukmawati saat diwawancarai Redaksi JatimUPdate.id di layanan Charger HP Gratis KM Dharma Kartika V pada Senin (29/07/2024).

Rukmawati, Guru SDN Taimanu Kec. Kenatan Kab. Sumba Timur mengakui bila dirinya habis peristiwa insiden laut akibat mesin kapal mati berjam-jam itu, dirinya mengalami trauma berat untuk kembali naik kapal laut sejak 2002.

"Sejak 2002 tidak lagi mau naik kapal laut, karena masih trauma berat. Selanjutnya kami kalau pulang ke Madura mesti naik pesawat dan resikonya mesti menyiapkan dana yang lumayan mahal. Ongkos tiket pesawat 1 orang bisa mencapai kisaran Rp3juta - Rp3,5juta artinya mesti nabung dulu bila akan mudik ke Jawa Timur," kata Rukmawati pada kesempatan sama.

Rukmawati menambahkan dirinya akhirnya mendapatkan info dari sejumlah kolega bila sejak Februari 2024, PT Dharma Lautan Utama, operator angkutan Laut dan Penyeberangan yang berkantor pusat di Jl Kanginan Surabaya itu telah mengoperasikan sebuah kapal laut dengan daya tampung besar beroperasi menjadi moda laut dari Surabaya dengan Warga Nusa Tengara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

"Setelah sempat ragu, tapi terpaksa mesti mendesak ke Jawa Timur karena ada Rapat Keluarga di Gresik sedangkan keuangan sedang terbatas, kalau maksa naik pesawat biayanya mahal. Akhirnya pilihan naik kapal laut dan untungnya ada KM Dharma Kartika V. Kami dapat tiket berdua kelas III, Waingapu-Surabaya Rp535.000 per penumpang, ini sudah dapat tempat tidur ber-12 dalam 1 kamar dengan jatah makan 5 kali. Alhamdulillah rasa trauma kapal laut saya hilang ketika merasakan kenyamanan fasilitas layanan armada PT DLU ini," tegas Rukmawati.

Mujaman menambahkan bahwa dengan armada Tol Laut serta SisterShip PT DLU telah memicu semangat belajar bagi kalangan remaja Sumba Timur yang akan melanjutkan sekolah atau kuliah di Jawa.

"Dari beberapa kekuarga sudah mulai banyak yang merencanakan melanjutkan sekolah dan kuliah di Jawa. Tingkat melanjutkan kuliah di perguruan tinggi bermutu untuk warga Sumba Timur akan semakin meningkat tajam," kata Mujaman.

Dari data informasi yang dihimpun JatimUPdate.id bahwa Pasangan Mujaman dan Rukmawati ini merupakan keturunan 2 pejuang kemerdekaan asal Sumenep yang dibuang saat era penjajahan Jepang. Keduanya merupakan cicit dari Abu Bakar dan Akhyar yang diasingkan di pulau Sumba.

Baca juga: Sensasi Potong Rambut di atas lautan, Layanan Gratis KM Dharma Kartika V Bagi Para Supir

Akhyar meninggal dunia saat peristiwa pengeboman penjajah di Waingapu, sedangkan sahabatnya Abu Bakar masih tetap hidup dan Abu Bakar disinyalir merupakan pria yang mengibarkan bendera Merah Putih untuk pertama kali di Bumi Sumba Timur.

Sejumlah dokumen penting tentang jejak perjuangan Abu Bakar dan Akhyar sempat diminta pihak pemerintah dan dikirimkan ke Jakarta, meski kemudian tidak ada kelanjutannya.

"Mbah Buyut Abu Bakar sempat akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Waingapu, tetapi karena wasiat sebelum meninggal menginginkan dimakamkan di pemakaman umum dan pesen terakhir itu yang diikuti oleh keluarga," kata Mujaman.

Jembatan Penghubung NTT-Jawa

Yulius Bobo, warga Waingapu Sumba Timur yang sempat diwawancarai JatimUPdate.id menyatakan bahwa keberadaan KM Dharma Kartika V sangat membantu warga NTT untuk mobilitas transportasi baik orang maupun kendaraan ke Jawa.

Keterangan Gambar: Yulius Bobo dan Jatimupdate.id

Baca juga: Pulang UKW NTT, Kru JatimUPdate.id Berlayar Dengan KM Dharma Kartika V

"KM Dharma Kartika V ini telah menjadi jembatan penghubung warga NTT dengan Jawa. Saat ini saya membawa mobil untuk kembali ke Jakarta setelah ada aktivitas di Sumba Timur. Kami merasa sangat terbantu sekali dengan adanya armada tol laut milik PT DLU ini," kata Yulius Bobo kepada JatimUPdate.id di deck atas KM Dharma Kartika V pada Senin (29/07/2024).

Yulius Bobo sendiri kini meneguhkan diri untuk bergerak dibidang pemberdayaan warga NTT khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan agar NTT bisa perlahan menjadi lumbung pangan nasional.

"Dimasa tua ini berbuat untuk tanah kelahiran menjadi utama, pemberdayaan warga NTT menjadi konsen saya kedepan," kata mantan Anggota DPR RI periode 1999-2004 serta pernah menjadi Stafsus Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal 2004-2009 di era menterinya Saifullah Yusuf itu.

Yulius sepakat bahwa masa depan Indonesia khususnya Indonesia Timur adalah kebangkitan sektor pertanian dan perikanan terpadu dan modern.

"Membangun semangat aja dulu agar warga NTT mau kembali bertani menekuni sektor pertanian adalah langkah awal menuju kemandirian pangan di Nusa Tenggara. NTB dan NTT mesti bergerak untuk kembali to basic yaitu pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan yang telah lama dirintis nenek moyang yang kini mulai ditinggalkan. Intinya kembali ke alam, holtikultura, agricultura," tegas Yulius Bobo menyakinkan bahwa NTT bisa semakin maju sejahtera. (Rio/Aris/YH)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru