Perjalanan yang Mengajarkan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Oleh: Hijrah Saputra

Pengamat Sosial

 

 

Bondowoso, JatimUPdate.id - Hari itu saya ditunjuk untuk mendampingi jamaah dalam pengurusan pembatalan sekaligus pergantian jamaah haji yang meninggal.

Saya memang pernah lama hidup di Jakarta. Namun, bagi orang kampung seperti kami, pergi ke sana butuh keberanian tersendiri. Ada rasa ragu, ada canggung, dan butuh keberanian.

Saat itu, pengurusan masih terpusat di Jakarta. Tidak seperti sekarang yang sudah bisa diselesaikan di daerah masing-masing.

Ini pengalaman pertama saya mendampingi. Dan ternyata menjadi yang terakhir, karena setelah itu aturan berubah.

Yang digantikan adalah seorang ibu kepada putrinya. Karena sang ibu telah wafat, hak keberangkatan dapat dialihkan kepada ahli warisnya.

Putrinya bersedia. Tapi ia punya satu keinginan sederhana,“kalau bisa, saya berangkat sama suami.”

Keinginan sederhana, tapi jalannya tidak sederhana.

Akhirnya, sang suami mendaftar. Ia harus menunggu sekitar dua tahun sesuai jadwal keberangkatan, agar bisa berangkat bersama. Mereka berpikir lama, menimbang banyak hal, sebelum akhirnya berkata pelan,“kita jalani saja.”
Dan kami pun berangkat dengan harapan.

Bandara Banyuwangi pagi itu masih sederhana, tapi punya keindahan yang tidak dibuat-buat. Ada kolam, ada air mancur, ada ketenangan.
Untuk mencairkan suasana, saya berseloroh,“sini Pak, saya foto. Kalau bukan Sulaiman, tidak bisa sampai sini.”

Sejenak saya teringat kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis; tentang istana dengan lantai bening yang disangka kolam.

Beliau tersenyum, lalu menimpali,“memang nama saya Sulaiman, Pak.”
Kami tertawa. Ketegangan pecah.

Di ruang tunggu, saya bertanya,“sudah berapa kali ke Jakarta, Pak?”
Beliau dan istrinya saling pandang, lalu menggeleng.“Belum pernah.”

Di momen itu, saya teringat sosok Benyamin Sueb—dalam film-filmnya, ia sering digambarkan sebagai orang kampung yang datang ke Jakarta: lugu, kikuk, tapi jujur.

Bedanya, ini bukan film.Tidak ada yang dibuat-buat. Tidak ada yang berpura-pura lucu.Yang ada hanya keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dijalani.

Di dalam pesawat, saya membantu mereka memasang sabuk pengaman.
“Begini, Pak… dikaitkan, lalu ditarik.”
Beliau mencoba perlahan. Istrinya memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Di situ saya sadar—yang sedang saya dampingi bukan sekadar perjalanan, tetapi keberanian yang sedang belajar berjalan.Hal kecil bagi sebagian orang, tapi bagi mereka, ini langkah besar.

Jakarta menyambut dengan macetnya.
Saya berkata pelan,“sepertinya tidak bisa selesai hari ini, Pak. Kita istirahat dulu.”

Kami menginap di penginapan sederhana dekat Masjid Istiqlal.
Pagi hari, sebelum subuh, kami berjalan ke masjid. Setelah shalat, kami menuju Monas. Berjalan santai, berfoto, dan tertawa kecil.

Saya berkata sembari guyon,“Coba cubit pipinya, Bu… siapa tahu ini mimpi.” ehem.. Ehem.. 
Mereka tertawa. Tawa yang sederhana, tapi terasa panjang maknanya.

Pengurusan berjalan lancar. Ada sedikit kendala, tapi bisa dilalui.
Saya sempat melihat orang lain harus pulang karena dokumen tidak lengkap.

Di situ saya belajar, bahwa tidak semua yang berangkat akan sampai. Dan tidak semua yang sampai, perjalanannya mudah.

Pulangnya justru lebih berat. Kami naik kereta bisnis. Tidak ada jaket. Hanya selimut tipis.
Malam itu dingin terasa lebih tajam dari biasanya.
“Dingin ya, Pak…”“Iya… tapi tidak apa-apa.” Jawaban yang sederhana. Tapi terasa dalam.

Saya melihat mereka tetap tenang. Tidak mengeluh. Tidak menyalahkan keadaan. Seolah-olah dingin itu bukan masalah, selama tujuan tidak berubah.

Perjalanan belum selesai.
Kami tidak mendapat tiket lanjutan. Kami menuju terminal. Bus patas tidak ada. Tinggal bus ekonomi. Jendela terbuka. Udara panas masuk tanpa bisa ditolak.

Saya teringat perjalanan berangkat kami yang sejuk dan nyaman. Kini, kami duduk dalam panas, berkeringat, dan diam. Tapi tidak ada keluhan.

Di situlah saya benar-benar paham.
Bahwa hidup tidak hanya tentang memilih jalan yang selalu nyaman, tetapi tentang tetap berjalan, bahkan ketika jalan itu tidak kita pilih.

Perjalanan ini mungkin biasa saja bagi sebagian orang.
Namun bagi mereka, ini adalah langkah yang tidak pernah direncanakan—dan tetap dijalani dengan keteguhan.

Dan bagi saya, ini tidak berhenti pada mendampingi. Saya pulang membawa pelajaran yang tidak saya dapatkan di mana pun:
yang membuat seseorang sampai tujuan, bukan karena jalannya mudah,tetapi karena ia tidak berhenti melangkah.

Seperti yang dijelaskan oleh Karl Weick dalam karyanya Sensemaking in Organizations (1995), manusia sering kali tidak langsung memahami apa yang sedang ia jalani. Ia baru memberi makna setelah peristiwa itu berlalu.

Dan perjalanan ini, baru benar-benar saya pahami… justru setelah semuanya selesai.

Dua tahun kemudian, mereka benar-benar berangkat.
Suatu hari, mereka datang ke kantor dan menyapa saya lebih dulu. Kami saling tersenyum, mengingat perjalanan lama yang pernah kami lalui bersama.

Tidak ada lagi rasa canggung seperti dulu. Tidak ada lagi cerita tentang pertama kali naik pesawat.
Hanya senyum yang menyimpan kenangan.Saya teringat candaan lama itu.

Kali ini, mereka tidak saling mencubit pipi.

Karena mereka tahu—ini bukan mimpi.

Wallahu a’lam bish-shawab.