Catatan Akhir Tahun 2025

Bima Ruci : Perjalanan Menemukan Sejati Diri

Reporter : -
Bima Ruci : Perjalanan Menemukan Sejati Diri
Hepti M. Hakim

 

Oleh Hepti M. Hakim

Baca Juga: Setelah Ani-Ani Ekonomi Gelap, Moral Abu-Abu, dan Negara yang Cuek (Bagian 2)

Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Sosial Politik, Alumni Fisip Universitas Jember

 

 

Bandung, JatimUPdate.id - Di antara ribuan cerita epik dalam khazanah pewayangan Jawa, kisah Bima Ruci selalu memiliki tempat istimewa. Bukan hanya karena keberanian dan kekuatannya yang tak tertandingi, melainkan juga karena makna spiritual yang mendalam di balik perjalanannya.

Kisah ini adalah cermin bagi setiap manusia yang mencari kebenaran, sebuah odyssey batin untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya.

Kisah Bima Ruci adalah bagian dari Mahabarata, tepatnya ketika Pandawa, lima bersaudara putra Pandu, masih dalam masa pengasingan.

Dikisahkan, suatu hari Bima, sang ksatria perkasa dengan gada Rujakpolah, mendapatkan perintah aneh dari gurunya, Begawan Drona. Drona menyuruh Bima untuk mencari ‘tirta pawitra’ atau ‘air kehidupan’ yang konon berada di dasar samudra. Perintah ini sebenarnya adalah siasat licik Kurawa, yang ingin menjebloskan Bima ke dalam bahaya dan membunuhnya.

Namun, Bima yang dikenal sebagai sosok yang teguh pada prinsip dan patuh pada guru, sedikit pun tidak curiga. Dengan tekad yang bulat, ia menembus hutan rimba, mendaki gunung, dan melintasi lautan.

Perjalanannya dipenuhi dengan rintangan. Ia harus melawan dua raksasa penjaga hutan, Rukmuka dan Rukmakala, yang merupakan penjelmaan Dewa Indra dan Bayu. Bima berhasil mengalahkan mereka, menunjukkan bahwa ia adalah ksatria pilihan yang tak bisa ditaklukkan begitu saja.

Setelah mengalahkan para penjaga, Bima akhirnya sampai di tepi samudra. Tanpa ragu, ia menceburkan diri.

Di tengah ombak yang ganas, muncul seekor naga raksasa bernama Nila Udra. Naga ini mencoba menelan Bima. Namun dengan kesaktiannya, Bima berhasil merobek perut naga dari dalam.

Perjuangan Bima di dalam samudra adalah metafora dari perjuangan manusia melawan hawa nafsu dan ego yang begitu besar. Samudra yang luas dan penuh misteri melambangkan ketidakpastian hidup, sementara naga raksasa adalah rintangan-rintangan batin yang harus ditaklukkan.

Di dasar samudra itulah, Bima bertemu dengan sosok kerdil yang menyerupai dirinya, yang disebut Dewa Ruci.

Baca Juga: Ani-Ani Ibu Kota : Tubuh, Uang, dan Moral yang Pura-Pura Tertidur

Bima Ruci adalah sebuah paradoks.

Sosoknya sangat kecil, namun memancarkan aura kebijaksanaan yang tak terhingga. Ketika Bima bertanya tentang keberadaan ‘tirta pawitra’, Dewa Ruci justru memberikan pertanyaan yang lebih dalam.

Ia menyuruh Bima masuk ke dalam tubuhnya. Awalnya Bima menolak, menganggap tidak mungkin tubuhnya yang besar bisa masuk ke dalam tubuh sosok sekecil itu. Namun Dewa Ruci meyakinkan Bima bahwa dunia ini lebih kecil dari tubuhnya.

Dengan ragu-ragu Bima akhirnya mematuhi perintah Dewa Ruci. Dan di situlah, keajaiban terjadi. Bima tidak masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci secara fisik, melainkan secara spiritual.

Di dalam ‘tubuh’ Dewa Ruci, Bima menyaksikan keindahan alam semesta yang tak terlukiskan. Ia melihat surga, neraka, alam semesta, dan segala isinya. Ia melihat kehidupan dan kematian, kebahagiaan dan penderitaan, yang semuanya terangkai dalam satu kesatuan. Pengalaman ini membuka mata Bima akan hakikat sejati kehidupan.

Dewa Ruci lantas memberikan wejangan kepada Bima. Ia menjelaskan bahwa ‘tirta pawitra’ bukanlah air suci yang bisa ditemukan secara fisik, melainkan adalah ilmu sejati yang ada di dalam diri manusia sendiri.

Tirta pawitra adalah anugerah Tuhan, sebuah cerminan dari kesucian jiwa yang harus dijaga. Dewa Ruci menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari otot yang kuat atau gada yang perkasa, melainkan dari hati yang bersih dan pikiran yang jernih.

Untuk menemukan kebahagiaan sejati, manusia tidak perlu mencari ke luar dirinya, melainkan harus menoleh ke dalam.

Kisah Bima Ruci adalah sebuah alegori yang mengajarkan kita tentang perjalanan spiritual, yang sering kali disebut dengan istilah ‘manunggaling kawula gusti’ atau penyatuan antara hamba dan Tuhan.

Bima adalah perwakilan dari ‘kawula’ (hamba), yang dalam perjalanannya menaklukkan ego dan hawa nafsu (naga raksasa) untuk akhirnya bertemu dengan ‘gusti’ (Sang Utusan Tuhan, jiwa) yang digambarkan sebagai Dewa Ruci.

Lebih dari sekadar cerita petualangan, Bima Ruci adalah sebuah panduan moral dan spiritual. Ia mengingatkan kita bahwa rintangan terbesar dalam hidup bukanlah musuh dari luar, melainkan diri kita sendiri.

Bima Ruci mengajarkan kita untuk tidak mudah tertipu oleh hal-hal yang bersifat materi, melainkan untuk mencari kekayaan spiritual yang tak lekang oleh waktu.

Ia adalah kisah yang mengajak kita merenung, bahwa pada akhirnya, kebenaran yang paling murni ada di dalam hati kita sendiri, menunggu untuk ditemukan.

Dan untuk menemukannya, kita harus berani melakukan perjalanan, tidak hanya melintasi samudra, tetapi juga menembus kedalaman jiwa kita sendiri. (red)

Editor : Redaksi