Serial Urip Iku Urup, Surabaya, (25/01/026)

Cetak Biru dan Keletihan yang Tak Kunjung Usai

Reporter : -
Cetak Biru dan Keletihan yang Tak Kunjung Usai

Oleh : Dr. Agus Andi Subroto

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan

Baca Juga: Ani-Ani Ibu Kota : Tubuh, Uang, dan Moral yang Pura-Pura Tertidur


Surabaya, JatimUPdate.id - Dunia hari ini bergerak dengan kecepatan yang nyaris tidak masuk akal. Di layar gawai dan ruang-ruang kantor, kita menyaksikan parade pencapaian yang silih berganti: target terlampaui, jabatan bertambah, dan tepuk tangan terdengar riuh. Namun, di balik hingar-bingar perayaan itu, terselip sebuah paradoks sunyi.

Banyak manusia diam-diam menyimpan tanya yang menggantung di langit-langit kamar: mengapa rasa lelah ini tidak kunjung pergi, bahkan setelah semua yang didambakan telah tergenggam?

Keletihan semacam ini bukanlah sekadar urusan otot yang pegal atau kurang tidur. Ia adalah kelelahan eksistensial—sebuah residu dari hidup yang dijalani tanpa keselarasan batin. Keadaan ini memaksa kita menengok kembali pada satu hal mendasar yang kerap terabaikan: cetak biru (blue print) kehidupan.

Cetak biru ini bukanlah sekadar daftar resolusi tahunan, bukan pula ambisi sosial yang dipajang demi validasi publik. Ia lebih menyerupai "DNA eksistensial"—sebuah struktur purba yang bersemayam dalam diri, yang menentukan bagaimana seseorang memberi makna, memilih jalan juang, dan bertahan di tengah badai.

Ia tidak hadir lewat pemilihan rasional di atas kertas, melainkan mewujud melalui panggilan batin yang persisten, kegelisahan yang khas, dan ketertarikan yang tak lekang oleh musim.

Sayangnya, meski setiap manusia terlahir dengan cetak biru ini, keberanian untuk membacanya adalah perkara lain. Kita kerap terseret arus besar standardisasi kesuksesan.

Ketakutan akan ketidakpastian membuat banyak orang memilih jalan yang "aman" namun asing bagi jiwanya sendiri. Akibatnya, hidup tidak lagi dijalani sebagai sebuah panggilan (calling), melainkan sekadar respons reaktif terhadap tuntutan zaman.

Ketika cetak biru ini diingkari, jiwa mengirimkan sinyal-sinyal yang sering kali salah diterjemahkan. Arah hidup menjadi labil, semangat timbul tenggelam, dan prestasi—sebesar apa pun—terasa kopong.

Baca Juga: Cetak Biru Manusia Nusantara

Lebih jauh lagi, ketidakhadiran kepuasan batin ini sering memicu sinisme terhadap orang lain. Keteguhan orang lain dianggap sebagai arogansi, padahal mungkin, yang terusik bukanlah logika kita, melainkan kegelisahan batin kita sendiri yang belum tuntas.

Kita perlu memahami bahwa profesi, jabatan, dan peran sosial hanyalah "wadah". Wadah bukanlah identitas, ia hanyalah medium tempat cetak biru itu diekspresikan.

Konflik batin yang hebat sering kali terjadi bukan karena seseorang tidak kompeten, melainkan karena ia memaksakan jiwanya masuk ke dalam wadah yang terlalu sempit atau bentuknya tidak selaras dengan isinya. Banyak orang yang "berhasil" di mata sosial, namun "gagal" secara eksistensial karena salah menempatkan diri di ruang tumbuh yang keliru.

Cetak biru kehidupan tidak bekerja dengan cara menghukum. Namun, alam memiliki mekanismenya sendiri untuk melakukan koreksi.

Jika diabaikan terlalu lama, ia akan menjelma menjadi kejenuhan kronis, rasa hampa, atau krisis paruh baya. Ini bukan hukuman, melainkan alarm agar manusia berhenti sejenak dan menata ulang kompas hidupnya.

Menyelaraskan diri dengan cetak biru bukan jaminan hidup akan menjadi mudah tanpa hambatan. Tantangan dan beban tanggung jawab akan tetap ada.

Namun, ada perbedaan kualitatif yang mendasar: kerja keras tidak lagi terasa menguras sukma, dan pengorbanan tidak terasa sia-sia. Ada sensasi "pulang" di tengah peluh—sebuah ketenangan yang lahir bukan dari pujian orang lain, melainkan dari kepastian bahwa kita sedang berjalan di jalur yang otentik.

Pada akhirnya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh seberapa tinggi kita mendaki, melainkan seberapa jujur kita melangkah.

Panggung dunia menawarkan ribuan peran, tetapi tugas manusia hanyalah menemukan satu peran yang selaras dengan struktur batinnya. Di titik itulah perlombaan berhenti, dan kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ketenangan lahir saat kita berhenti berupaya menjadi orang lain, dan berani menjadi diri sendiri. (red)


Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Surabaya, 24 Januari 2026

Editor : Redaksi