Di Sidoarjo Wabah PMK Merebak 10 Kecamatan, 9 Ekor Mati

Reporter : -
Di Sidoarjo Wabah PMK Merebak 10 Kecamatan, 9 Ekor Mati
Apel Siaga Tanggap Cepat Penanganan PMK yang dilaksanakan di Kantor Kecamatan Sukodono, Kamis (23/1).

 

Sidoarjo, JatimUPdate.id - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus bergerak cepat untuk mengatasi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang melanda di Sidoarjo.

Baca Juga: Animo Warga Jatim Berkurban Sangat Tinggi, Berkah Bagi Peternak di Tengah Wabah PMK

Di Sidoarjo tercatat ada 10 Kecamatan yang terdampak wabah, di antaranya Kecamatan Sukodono, Wonoayu, Taman, Candi, Porong, Tarik, Balongbendo, Waru, Gedangan dan Jabon.

Dari populasi hewan rentan penyakit PMK pada sapi potong sebanyak 5.150 ekor, sapi perah sebanyak 1.149 ekor, kambing 32.895 ekor, dan domba 15.743 ekor.

Plt Bupati Sidoarjo Subandi mengungkapkan, bahwa penyakit yang sangat menular ini telah menyebabkan kerugian besar di sektor perdagangan ternak.

Dengan total 147 ekor ternak yang terinfeksi, 17 ekor dipotong paksa, dan 9 ekor mati.

Baca Juga: Idul Adha, Polres Nganjuk Maksimalkan Penyekatan Hewan Ternak Guna Cegah PMK

"Sebagai langkah preventif, Pemkab Sidoarjo dan Pemprov Jatim telah mengalokasikan vaksin PMK untuk mencegah penyebaran lebih luas," ucap Subandi dalam Apel Siaga Tanggap Cepat Penanganan PMK yang dilaksanakan di Kantor Kecamatan Sukodono, Kamis (23/1).

Kata Subandi, vaksinasi dimulai pada 20-25 Januari 2025, dengan sasaran ternak yang rentan, seperti sapi potong, kambing, dan domba.

Selain vaksinasi, pengendalian juga dilakukan melalui desinfeksi kandang.

Baca Juga: Cegah Penyebaran Virus PMK di Jember, TNI Polri Optimalkan Peran Bhabinkamtibmas dan Babinsa

"Pemberian obat-obatan dan vitamin secara gratis kepada ternak, serta edukasi bagi peternak tentang cara pencegahan penyakit," ujar Subandi.

Lebih Lanjut, Subandi menambahkan langkah koordinasi intensif, dilakukan dengan membentuk tim penanganan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Universitas Airlangga (Unair), Universitas Wijaya Kusuma (UWK), Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), hingga TNI dan Polri.

"Tim yang dibentuk bertugas memantau bertujuan untuk memeriksa kesehatan ternak," tukasnya. (ih/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat