Mudik: Antara Tradisi, Spiritualitas, dan Penggerak Ekonomi Rakyat

Reporter : -
Mudik: Antara Tradisi, Spiritualitas, dan Penggerak Ekonomi Rakyat
Penampakan kepadatan ruas tol saat arus mudik 2025 (Foto Kompas.com)

 

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo

Baca Juga: Spiritualitas Menjelang Perpisahan Ramadan 1446H

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Mudik bukan sekadar perjalanan tahunan yang dilakukan oleh jutaan orang untuk pulang ke kampung halaman.

Di balik hiruk-pikuk perjalanan panjang dan kemacetan yang sering kali melelahkan, terdapat makna yang lebih dalam.

Mudik adalah ritual yang menyatukan aspek sosial, spiritual, dan ekonomi dalam satu rangkaian tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.

Secara sosial, mudik menjadi momentum untuk memperkuat kembali hubungan kekeluargaan yang mungkin renggang akibat kesibukan hidup di kota. Bagi banyak perantau, mudik bukan sekadar pulang, tetapi juga sebuah upaya untuk menjalin kembali silaturahmi dengan orang tua, sanak saudara, dan tetangga.

Ini adalah waktu yang berharga untuk berbagi cerita, mengenang masa lalu, serta merajut kembali ikatan yang sempat merenggang.

Di sisi spiritual, mudik memiliki makna religius yang kuat. Dalam konteks umat Islam di Indonesia, mudik sering kali dikaitkan dengan perayaan Idul Fitri, yang menjadi momen penyucian diri dan rekonsiliasi sosial.

Bertemu keluarga dan meminta maaf kepada orang tua serta sanak saudara adalah bagian dari nilai-nilai keagamaan yang terus dijaga dalam tradisi mudik.

Namun, mudik tidak hanya menyentuh aspek sosial dan spiritual. Lebih dari itu, mudik memiliki dampak ekonomi yang signifikan.

Saat jutaan orang pulang kampung, terjadi perputaran uang yang luar biasa besar di daerah-daerah yang biasanya mengalami stagnasi ekonomi di luar musim mudik.

Para pemudik membawa serta rezeki dari kota ke kampung halaman, baik dalam bentuk uang tunai, barang-barang kebutuhan, maupun investasi dalam bisnis lokal.

Fenomena ini memberikan dorongan besar bagi sektor usaha kecil dan menengah (UKM). Pasar tradisional, toko kelontong, transportasi lokal, hingga sektor kuliner mengalami lonjakan permintaan selama musim mudik.

Banyak pelaku usaha kecil yang mengandalkan momen ini untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan hari-hari biasa.

Selain itu, mudik juga mendorong pembangunan infrastruktur di daerah. Pemerintah dan berbagai pihak terkait kerap meningkatkan fasilitas jalan, sarana transportasi, dan layanan publik lainnya demi mendukung kelancaran arus mudik.

Baca Juga: Wamen Viva Yoga: Idul Fitri Momentum Untuk Membangkitkan Nilai Persatuan, Kekeluargaan, dan Kemanusi

Ini secara tidak langsung meningkatkan kualitas infrastruktur dan layanan di daerah-daerah yang menjadi tujuan utama pemudik.

Di sektor jasa, mulai dari penyewaan kendaraan, agen perjalanan, hingga layanan pengiriman barang, semua mengalami peningkatan aktivitas.

Banyak orang yang memilih untuk mengirim paket lebih dulu sebelum mudik, menciptakan peluang bagi bisnis jasa ekspedisi untuk meraih keuntungan.

Tak hanya di sektor formal, para pekerja informal seperti pedagang asongan, tukang ojek, hingga pekerja lepas lainnya juga mendapat manfaat dari lonjakan aktivitas selama musim mudik.

Ini membuktikan bahwa tradisi mudik tidak hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga penggerak ekonomi rakyat.

Namun, tantangan tetap ada. Kemacetan parah, risiko kecelakaan, serta harga tiket transportasi yang melambung tinggi menjadi persoalan yang kerap dihadapi pemudik.

Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang lebih baik, baik dari sisi kebijakan transportasi maupun kesiapan masyarakat itu sendiri dalam menghadapi musim mudik.

Baca Juga: Menhub Pastikan Kesiapan Arus Balik Mudik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni

Selain itu, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa dampak ekonomi dari mudik tidak hanya bersifat musiman, tetapi juga dapat berkelanjutan.

Salah satunya dengan mendorong investasi di daerah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing ekonomi lokal agar masyarakat tidak hanya bergantung pada momen mudik.

Di sisi lain, pemudik juga dapat berperan dalam membangun kampung halaman mereka. Dengan membawa ilmu, pengalaman, serta modal dari kota, mereka memiliki potensi untuk mengembangkan usaha di daerah, menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengurangi ketergantungan pada urbanisasi sebagai satu-satunya jalan menuju kesejahteraan.

Pada akhirnya, mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Ini adalah bagian dari siklus kehidupan yang menyatukan nilai-nilai sosial, spiritual, dan ekonomi dalam satu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan.

Bagi perantau, mudik adalah kesempatan untuk kembali ke akar mereka, memperbaharui hubungan, serta memberikan kontribusi nyata bagi kampung halaman.

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk melihat mudik tidak hanya sebagai tradisi tahunan yang melelahkan, tetapi juga sebagai momentum yang dapat dimanfaatkan untuk penguatan ekonomi dan pembangunan sosial yang lebih luas.

Dengan pemahaman ini, mudik dapat menjadi lebih dari sekadar ritual pulang kampung, melainkan juga sebuah gerakan ekonomi yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi banyak orang. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat