Kupatan
Oleh Dewi Sekarayu Tjandawulan
Siswa Kelas X SMA Kemala Taruna Bhayangkara
Banyumas, JatimUPdate.id - Seperti tahun-tahun sebelumnya, lebaran kali ini kami mudik ke kampung ayah saya di Banyumas Jawa Tengah.
Di sana kami salat ied di alun-alun Banyumas yang hanya berbatas jalan dan pagar dengan Masjid Agung Nur Sulaiman, salah satu masjid bersejarah dan tertua di Banyumas yang dibangun tahun 1755 M pada masa kepemimpinan Adipati Yoedanegara II.
Kami senantiasa memilih mengawali berlebaran di Banyumas baru kemudian pada hari kedua atau ketiga kembali ke kampung halaman Ibu saya yang juga tempat kami tinggal di Kota Kediri, Jawa Timur.
Pertama, kami mudik dari Kediri menuju Banyumas dengan jalur berlawanan dengan arus mudik pada umumnya, sehingga kami bisa menghindari kemacetan panjang di jalan. Saat balik pun demikian.
Kedua, kami tak ingin melewatkan tradisi pasca lebaran yang masih terawat di tempat kami tinggal, yakni tradisi “kupatan”.
Kupatan adalah salah satu tradisi islam yang berkembang di Jawa khususnya di pesisir utara Jawa Tengah dan sebagian besar Jawa Timur, di tempat-tempat di mana walisongo melakukan syiar.
Sebuah pesta makan ketupat bersama dimana masing-masing keluarga saling menghantarkan ketupat (ater-ater) yang disandingkan dengan lauk opor dan sayur lodeh.
Bahkan di Durenan Trenggalek, Jawa Timur tradisi ini telah menjadi festival tahunan, yakni kupatan masal yang dikemas dalam bentuk arak-arakan yang diikuti ratusan masyarakat.
Mereka membawa tumpeng raksasa yang berisi ketupat dan sayur mayur menuju Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan.
Di sana, pengasuh pondok memberikan doa keselamatan untuk para santri dan seluruh masyarakat.
Tradisi kupatan berkembang pada masa Kerajaan Demak di abad 16 M, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai model dakwah islam dengan akulturasi budaya lokal.
Ngaku Lepat dan Laku Papat
Dalam budaya Jawa yang penuh simbolisme, tradisi kupatan biasanya diadakan seminggu setelah idul fitri sebagai penanda berakhirnya puasa sunah 6 hari di bulan syawal. Kenapa ketupat atau kupat, bukan lontong atau nasi?
Dalam akronim Jawa ketupat atau kupat ngaku lepat (mengakui kesalahan) bisa juga dimaknai sebagai laku papat (empat tindakan).
Empat tindakan spiritul untuk pencucian diri. Keempat tindakan tersebut yakni lebaran, luberan, leburan dan laburan.
Lebaran dari kata lebar atau telah selesai, yakni selesai dalam menjalani ibadah puasa dan diperbolehkan untuk menikmati makanan.
Luberan berarti meluber, yaitu simbol agar melakukan sedekah dengan ikhlas bagaikan air yang berlimpah meluber dari wadahnya. Oleh karena itu tradisi membagikan sedekah menjadi kebiasaan umat Islam di Indonesia.
Leburan berarti lebur atau melebur. Maksudnya adalah agar saling memaafkan uuntuk melebur osa-dosa yang telah dilakukan.
Laburan berarti bersih putih berasal dari kata labur atau mengecat dengan kapur.
Harapan setelah melakukan Leburan agar selalu menjaga kebersihan hati yang suci. Manusia dituntut agar selalu menjaga prilaku dan jangan mengotori hati yang telah suci.
Ketupat atau kupat merupakan makanan dari beras yang dibungkus janur yg dianyam khusus.
Janur adalah transliterasi dari bahasa arab ja'a nur yang berarti telah datang cahaya.
Kerumitan pada anyaman ketupat melambangkan kerumitan hidup dan banyaknya kesalahan yg dilakukan manusia. Namun jika dijalin dengan benar (iman) maka akan me jadi kesatuan yang kokoh dan bermanfaat.
Beras sebagai isi ketupat merupakan simbol dari kemakmuran dan kesatuan.sebagai makanan pokok beras merupakan simbol rezeki dan keberkahan dari Tuhan.
Butiran beras yang tadinya bercerai berai setelah dimasak menjadi satu kesatuan yang padat. Hal ini melambangkan silaturahmi dan persaudaraan yg tidak mudah tercerai berai.
Bergesernya Makna Tradisi Kupatan.
Dalam pandangan Clifford Geertz, tradisi kupatan merupakan contoh nyata bagaimana agama menyatu dengan kebudayaan lokal.
Tradisi ini menunjukan bagaimana ajaran islam tentang sedekah dan silaturahmi dibungkus dengan ritual lokal agar dapat lebih diterima dan dijalankan oleh masyarakat.
Agama dalam pandangan Geertz adalah sistem simbol yang melahirkan motivasi kuat untuk menjaga tatanan sosial agar tetap stabil.
Kupatan adalah sarana orang Jawa untuk keseimbangan laku spiritual dan laku sosial guna menjaga kondisi harmoni kolektif.
Seiring perkembangan teknologi yang semakin modern. Tradisi kupatan telah mengalami pergeseran makna, dari tradisi budaya yang simbolik dan penuh makna spiritual menjadi ajang festivalisasi tahunan. Ini merupakan komodifikasi budaya dan adaptasi tradisi dalam industri modern.
Festivalisasi menjadi strategi efektif bagi pelestarian tradisi dan mengenakannya kepada generasi muda untuk menjaganya agar tidak punah.
Dalam pandangan Emile Durkheim, pergeseran ini bukanlah hilangnya tradisi melainkan adaptasi fungsi. Dari semula berfungsi untuk menandai standar kesalehan individu, menjadi alat integrsi sosial untuk mencegah disintegrasi masyarakat modern.
Pak camat makan ketupat. Lauknya sayur lodeh ikan patin.
Selamat hari raya ketupat. Mohon maaf lahir batin. (red)
Editor : Redaksi