RM Margono Layak Sandang Gelar Bapak Perbankan Nasional.
RM Margono : 'Didikan Santri' Penggagas BNI 1946 Yang Layak Jadi Pahlawan Nasional
Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id.
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Ketika membicarakan tokoh-tokoh nasional yang berkontribusi dalam membangun Indonesia, nama RM Margono Djojohadikusumo sering kali terlupakan.
Baca Juga: SRC Apresiasi Hasil Rapat Komisi III DPR–Kapolri Terkait Revisi UU Polri
Padahal, beliau adalah seorang arsitek ekonomi bangsa, pencetus sistem perbankan nasional, dan tokoh yang menginspirasi dunia koperasi.
Sebagai pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) pada tahun 1946, RM Margono telah meletakkan dasar bagi sistem keuangan negara dan perbankan nasional yang bertahan hingga saat ini.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa sosok ini juga memiliki latar belakang santri dan pemikiran yang berbasis pada nilai-nilai keislaman.
Lahir pada 16 Mei 1894, di Desa Bodas Karangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, RM Margono menempuh pendidikan di sekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas, sebuah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Belanda di Banyumas, mulai tahun 1900 hingga 1907.
Dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA; sekolah pegawai negeri) di Magelang hingga tahun 1911
Namun, sebelum itu, beliau berada dalam didikan ayahandanya, Hendrokusumo yang seorang Santri mengingat beliau mengenyam pendidikan pesantren. Dalam didikan seorang santri itulah RM Margono kecil dibesarkan dengan tradisi keagamaan yang kuat.
Pemahaman Islam yang kuat membentuk pola pikir ekonominya yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga kesejahteraan sosial.
RM Margono memiliki visi ekonomi yang berpihak pada rakyat. Ia menyadari bahwa Indonesia yang baru merdeka membutuhkan lembaga keuangan nasional yang mampu menopang perekonomian negara.
Dengan pemikiran tersebut, ia menggagas berdirinya BNI, yang kala itu dikenal sebagai "Bank Negara Indonesia 1946."
Lembaga ini tidak hanya menjadi bank pertama yang didirikan oleh bangsa sendiri, tetapi juga berperan penting dalam pembiayaan pembangunan nasional pasca-kemerdekaan.
Secara khusus Guru Besar Ekonomi dan Perbankan Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Abdul Mongid menyatakan bahwa ide RM Margono dalam mendesak pemerintah RI yang baru merdeka itu agar segera memiliki badan perbankan sendiri.
"Desakan ide itu, oleh RM Margono disampaikan kepada sahabatnya yang menjabat Wakil Presiden RI yaitu Bung Hatta [Drs Moh. Hatta] agar segera disampaikan ke Bung Karno [Ir Soekarno/Prasiden RI] agar ide itu bisa terwujud. Akhirnya RM Margono diberi surat perintah untuk membentuk bank milik pemerintah RI. Ide pendirian bank milik pemerintah itu [BNI 1946] merupakan perwujudan kedaulatan moneter," terang Abdul Mongid saat menjadi narasumber pada FGD RM Margono yang di inisiasi Sygma Research and Consulting di Aula PWI Jatim pada Jumat (25/10/2025) lalu.
Abdul Mongid menyatakan jejak tapak pengabdian RM Margono diberbagai bidang sangat banyak baik ekonomi, politik, diplomasi, sosial kemasyarakatan.
"Sosok RM Margono sangatlah lengkap jejak pengabdiannya, apalagi kini Cucu Kesayangannya telah jadi Presiden ke-8 RI, Prabowo Soebianto. Kebanggaan Seorang Kakek tercermin dari kesuksesan cucu-cucunya. RM Margono telah mendapatkan hal itu," ungkap Abdul Mongid.
Pada kesempatan sama, Guru Besar Bidang Sejarah yang juga Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Prof Dr Purnawan Basundoro menyatakan selain dibidang ekonomi, jejak tapak pengabdian RM Margono juga ada di sektor ketahanan pangan, sektor politik dan hukum, sektor sosial kemasyarakatan dan diplomasi.
"RM Margonolah yang menginisiasi dan mendirikan Yayasan Mohammad Hatta untuk dedikasi sahabat karibnya itu. RM Margono terlibat dalam urusan ketahanan pangan Puri Mangkunegaran meski dengan diam-diam saat dirinya jadi pegawai Pemerintah Hindia Belanda. Jadi wajar bila beliau jadi BPUPKI karena jadi utusan khusus Puri Mangkunegaran," kata Prof Purnawan di FGD RM Margono yang di gelar Sygma Research and Consulting itu.
Prof Purnawan yang juga putra asli Banyumas dimana RM Margono dimakamkan itu menyoroti peran RM Margono Djojohadikusumo dan putranya Soemitro Djojohadikusumo yang bersama-sama jadi delegasi resmi pemerintah RI dalam perundingan Konferensi Meja Bundar 1949 lalu.
"Mungkin baru di KMB itu ada delegasi RI yang berisikan ayah dan putranya yaitu RM Margono dan Soemitro yang itu ada foto dokumentasinya sangat iconik sekali. Meski demikian RM Margono pernah mengalami kesedihan besar kala 2 putranya Kapten Soebianto dan Taruna Sujono gugur dalam pertempuran Lengkong bersama Mayor Daan Moogot," ungkapnya.
Selain mendirikan BNI, RM Margono dalam lintasan sejarah juga memiliki andil besar dalam pengembangan koperasi di Indonesia.
RM Margono percaya bahwa koperasi adalah bentuk ekonomi yang paling sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang berbasis gotong royong, yang diset up secara khusus sebagai wadah perlawanan bidang ekonomi kaum pribumi era kolonial.
Koperasi bersama Pondok Pesantren diakui sejumlah pihak adalah wadah perlawanan kaum pribumi paling otentik dalam proses meraih kemerdekaan.
Khusus untuk gagasan menginisiasi pembentukan koperasi sebagai wadah perjuangan ekonomi kaum pribumi di era kolonial, RM Margono Djojohadikusumo secara khusus menuliskan pengalaman empiriknya sebagai Inspektur Koperasi era kolonial Belanda dalam karya tulis 10 Tahun Koperasi 1930-1940, yang disalin oleh HB Yasin dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1941.
Hebatnya buku 10 Tahun Koperasi karya RM Margono ini kemudian menjadi Handbook bagi para mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia hingga 1960 an.
Dalam berbagai sidang perumusan ekonomi nasional, Margono selalu menekankan pentingnya koperasi sebagai jalan menuju kemandirian ekonomi rakyat.
Tidak hanya sebagai ekonom, Margono juga berperan dalam ranah politik dan pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA), lembaga yang memberikan masukan strategis kepada pemerintah dalam perumusan kebijakan negara.
Peran ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya berkecimpung di sektor ekonomi, tetapi juga memberikan sumbangsih pemikiran dalam tata kelola negara.
Sebagai santri, Margono memiliki prinsip bahwa kekuatan ekonomi harus berpijak pada etika dan moral.
RM Margono yang dimakamkan di Makam Keluarga Dawuhan itu acap kali mengkritik keras praktik kapitalisme yang eksploitatif dan berusaha menawarkan sistem ekonomi yang lebih adil.
Pemikirannya sejalan dengan konsep ekonomi Islam yang mengutamakan keseimbangan dan keadilan dalam distribusi kekayaan.
Perjuangan Margono tidak hanya di bidang ekonomi. Dalam masa revolusi fisik, BNI yang ia dirikan turut berperan dalam menopang keuangan perjuangan.
Bank ini menjadi tulang punggung pembiayaan bagi pemerintahan yang baru lahir dan membutuhkan dukungan finansial untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi dan militer dari Belanda.
Baca Juga: Pemilu Tidak Langsung Dinilai Berpotensi Perkuat Perlindungan Lingkungan
BNI kala itu juga berperan sebagai Bank Sirkulasi dan Bank Central yang memiliki kewenangan mencetak mata uang RI.
Sejarah mencatat, ORI alias Oeang Repoeblik Indonesia edisi pertamanya dicetak oleh BNI 1946 sekaligus meneguhkan posisinya selaku Bank Central negara.
Sayangnya, meskipun jasanya begitu besar, nama RM Margono jarang disebut dalam diskusi tentang tokoh nasional.
Banyak yang lebih mengenal cucunya, Prabowo Subianto, daripada sosok kakeknya yang telah berjuang membangun fondasi ekonomi bangsa.
Ini adalah sebuah ironi yang seharusnya dikoreksi oleh para sejarawan dan pemangku kebijakan.
Mengingat peran dan dedikasinya, Margono sangat layak untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Kriteria untuk menjadi pahlawan mencakup kontribusi besar terhadap negara, keberanian dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, serta dampak jangka panjang dari perjuangannya.
RM Margono memenuhi semua kriteria ini dengan keunggulan yang tak terbantahkan.
Indonesia membutuhkan sosok inspiratif seperti Margono untuk dijadikan teladan bagi generasi muda.
Di tengah krisis kepemimpinan dan korupsi yang masih menjadi masalah, keteladanan Margono dalam membangun ekonomi berbasis moralitas dan kesejahteraan rakyat harus diangkat ke permukaan.
Proses pengajuan Margono sebagai Pahlawan Nasional tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah dan akademisi.
Dokumentasi sejarah mengenai perannya dalam ekonomi nasional harus diperkuat, sehingga tidak ada lagi keraguan tentang kelayakannya untuk mendapat penghargaan tertinggi dari negara.
Sebagai bangsa yang menghargai jasa para pendahulu, sudah seharusnya kita tidak melupakan tokoh seperti RM Margono.
Penghargaan terhadapnya bukan hanya sekadar simbolis, tetapi juga menjadi pengingat bahwa membangun bangsa membutuhkan pemikiran yang visioner dan tindakan nyata.
Peringatan terhadap jasa Margono juga bisa diwujudkan dalam bentuk lebih konkret, seperti memasukkan namanya dalam kurikulum sejarah nasional atau mendirikan monumen penghormatan.
Ini penting agar generasi mendatang tidak hanya mengenal nama-nama yang sering disebut, tetapi juga memahami siapa saja yang benar-benar berkontribusi bagi negeri ini.
Jika kita menelaah lebih jauh, banyak negara lain yang dengan bangga mengabadikan nama tokoh-tokoh ekonomi mereka dalam sejarah nasional.
Indonesia harus belajar dari mereka agar tidak melupakan para arsitek ekonomi yang telah berjuang dengan gigih di masa sulit.
Baca Juga: Kades Eli Susianto Pastikan TPS3R-nya Mampu Reduksi 80 Persen Timbulan Sampah Harian Warga
Dalam perjalanan bangsa ini, kita membutuhkan lebih banyak tokoh seperti Margono Djojohadikusumo.
Ia tidak hanya cerdas dan berani, tetapi juga memiliki komitmen kuat terhadap keadilan sosial. Warisannya masih hidup dalam sistem ekonomi yang kita nikmati saat ini, meskipun namanya jarang disebut.
Penghargaan kepada Margono bukan sekadar tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan. Dengan meneladani semangatnya, kita dapat menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan berpihak pada rakyat, sebagaimana yang ia cita-citakan.
Margono Djojohadikusumo adalah santri yang menjadi ekonom, pemikir yang menjadi pejuang, dan nasionalis yang mendedikasikan hidupnya untuk bangsa. Sudah saatnya kita mengakui jasanya dan memberikan penghormatan yang layak.
RM Margono bukan hanya penggagas BNI atau pionir koperasi, tetapi juga sosok yang pantas menyandang gelar Pahlawan Nasional.
Meski demikian bukan berarti pengajuan proses gelar Pahlawan Nasional RM Margono akan berjalan dengan mudah, ini butuh bukan hanya keseriusan tapi dukungan banyak pihak.
Ini mesti dilakukan mengingat publik akan sangat skeptis akibat era ini Cucu Kesayanngan RM Margono menjadi Presiden RI Ke-8 Prabowo Subianto, sehingga banyak pihak malah menganggap pengajuan gelar pahlawan di era Prabowo Subianto menjabat Presiden akan sangat susah terwujud akibat ada conflic of interest yang sangat mudah diketahui publik.
Secara khusus Komisaris Sygma Research and Consulting yang juga pengurus PWI Jatim, Yuristiarso Hidayat saat menjadi moderator FGD RM Margono di Aula PWI Jatim, Oktober 2024 menyakini proses pengajuan gelar untuk RM Margono itu semakin sulit saat Cucu RM Margono menjabat Presiden.
"Keberadaan Pak Prabowo jadi Presiden RI malah menjadi handycap tersendiri, ada tradisi ewuh pakewuh yang tentunya Di-Ugemi oleh Presiden RI kedelapan itu. Beliau tidak akan gegabah," kata Yuris yang juga Tenaga Ahli Kemendesa di Kabupaten Gresik saat menjadi moderator FGD RM Margono di PWI Jatim itu.
Sygma Research, kata Yuris, mengakui membawa figur sebesar RM Margono butuh Kolaborasi dengan Sinergi dengan sejumlah pihak.
"Sygma Research sejak awal menyadari bahwa Figur RM Margono mesti dibumikan dan dipublikasikan agar dikenal oleh publik nasional, agar jejak tapak perjuangannya semakin diketahui publik dan jadi inspirasi generasi muda Indonesia. Sygma akan melakukan roadshow ke sejumlah lokasi di Indonesia khususnya di kota dimana beliau pernah hidup untuk membuat kajian riset agar figur berselimut misteri ini semakin tersingkap sosok utuhnya," ungkap alumnus FISIP Universitas Jember itu.
Disisi lain, CEO Sygma Research and Consulting, Ken Bimo Sultoni menyatakan pihaknya sangat terbuka untuk sinergi dan Kolaborasi dengan berbagai pihak untuk kerja-kerja ilmiah serta pengajuan gelar pahlawan bagi RM Margono.
"Sygma Research sendiri kini sedang menginisiasi dan menggagas agar sosok RM Margono bisa dianugrahi Gelar Bapak Perbankan Nasional. Ide ini juga telah Sygma diskusikan dengan Pengurus SerulingMas sebagai komunitas warga Banyumas dan sekitarnya yang punya legal positisioning kuat dimana RM Margono berasal," ungkap Ken Bimo saat prosesi MOU SerulingMas dengan Sygma Research and Consulting dalam kerja-kerja strategis bagi pengajuan RM Margono meraih gelar pahlawan di Banyumas, Rabu (02/04/2025).
Bagaimanapun, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.
Sudah waktunya Margono mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah Indonesia.
Mari kita perjuangkan bersama agar jasanya tidak hanya diingat, tetapi juga dihormati sebagai bagian dari warisan kebangsaan yang tak ternilai. (pm/mmt)
Editor : Miftahul Rachman