In Memorial Pepe Mujica, Presiden Uruguay (2010-2015).

Selamat jalan, Pepe Mujica

Reporter : -
Selamat jalan, Pepe Mujica
Jose Pepe Mujica

Montevideo, Uruguay, JatimUPdate.id : Sebuah artikel opini berbasis histori seorang tokoh pergerakan Uruguay, Jose Pepe Mujica, yang menjalani kehidupannya secara konsisten, dari seorang pemberontak, hingga mengantarkannya menjadi seorang Presiden Uruguay pada 2010-2015. 

Jose Pepe Mujica digambarkan seorang pribadi yang sangat sederhana, naik jadi presiden dengan harta apa adanya, turun dari presiden tetap dengan harta yang dulu dimilikinya, kalau di Indonesia, LHKP nya tetap tidak berubah.

Baca Juga: Konfrontasi Ratu Lebah

Catatan Redaksi JatimUPdate.id mengutip dari laman wikipedia menyebutkan José Alberto Mujica Cordano (pengucapan bahasa Spanyol) [xose alβerto muxika korðano], dikenal juga sebagai El Pepe (20 Mei 1935 – 13 Mei 2025) adalah Presiden Uruguay periode 2010 - 2015. Ia mulai menjabat sebagai Presiden Uruguay dari tanggal 1 Maret 2010.

Mujica dijuluki sebagai "kepala negara paling miskin di dunia" karena gaya hidupnya yang sederhana serta kebiasaannya menyumbangkan sekitar 90 persen dari gaji bulanannya sebesar US$12.000 kepada badan amal yang membantu masyarakat miskin dan pengusaha kecil. Ia adalah pengkritik vokal terhadap kapitalisme yang berfokus pada penimbunan harta benda yang tidak berkontribusi terhadap kebahagiaan manusia.

Pandangan filosofisnya menuai pujian dari media dan jurnalis; Times Higher Education menyebutnya sebagai "presiden filsuf" pada tahun 2015, yang berasal dari konsep filsuf-raja yang dicetuskan oleh Plato.

Secara khusus artikel opini dibawah ini diperoleh Redaksi JatimUpdate.id dari postingan Yanti Kerlip di grup WA Gerakan Membangun Desa, pada Jumat Siang (16/05/2025) pada pukul 14.48 WIB.

Diketahui Yanti Kerlip mendapatkan artikel berjudul  Selamat jalan, Pepe Mujica, dari laman FB. Jaques LeBroune.

Selanjutnya marilah disimak bersama artikel profil Presiden Uruguay yang bersahaja yang pada 13 Mei 2025 baru saja wafat akibat serangan penyakit kanker yang telah dideritanya sejak 2024 lalu.

Artikel Opini


Selamat jalan, Pepe Mujica

Pada 1969, Mannise, seorang remaja perempuan anak hakim terkenal, hanya berdua dengan adiknya di apartemen mewah keluarganya di kota Montevideo. Tiba-tiba seorang pria bertopeng keluar dari lift dan menodongkan pistol.

“Balik badan, tetap diam, dan angkat tanganmu,” kata pria muda itu dalam suara pelan.

Dalam sekelebat, Mannise sadar, pria muda di balik punggungnya itu adalah gerilyawan Tupamaros, gerilyawan kiri yang paling ditakuti orang kaya dan koruptor, tetapi sangat dicintai kaum miskin. Ia pun menjadi tenang.

Adik perempuan Mannise, Beatrize, yang menderita polio dan terpaksa duduk di kursi roda, hanya bisa diam menyaksikan kejadian itu.

“Tenang aja, viejita, kamu nggak akan kenapa-kenapa. Ini nggak ada urusannya sama kamu,” kata sang pemuda.

Tak berlama-lama, gerilyawan Tupamaros pergi dengan beberapa lembar dokumen dan pistol. Ayah tiri Mannise, José Pedro Púrpura, dikenal sebagai hakim korup yang akrab dengan kelompok sayap kanan dan punya koleksi pistol.

Sebetulnya, Mannise tak begitu ambil pusing dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Hanya saja, yang membuatnya kesal: mesin ketik, yang selalu menemaninya mengerjakan PR, ikut raib.

Besoknya, teleponnya berdering. Dari ujung telpon, suara yang sama dengan pria muda yang menodongnya menyampaikan pesan: mesin ketiknya bisa diambil di lobi sebuah gedung dekat rumahnya. Mannise pun senang.

Tahun 2009, dalam pemilu Uruguay, Mannise mencoblos gambar pria yang pernah menodongnya dengan pistol. Pria muda itu, yang kelak ia ketahui bernama “Jose Pepe Mujica”, menjadi Calon Presiden Uruguay dari partai kiri Frente Amplio.

Ketika media dan banyak orang mempertanyakan pilihan politik, mengapa ia mau memilih orang yang dulu pernah menodongnya dengan pistol, Mannise menjawab singkat: “Orang mungkin mengira saya bakal dendam sama Mujica. Tapi dia satu-satunya politisi yang benar-benar menjalani hidup sesuai omongannya.”

Inilah kisa Jose Pepe Mujica. Tokoh yang lahir pada 20 Mei 1935 punya jalan hidup yang menarik, luar biasa, dan patut dikenang dalam sejarah politik dunia.

Pada tahun 1960-an, sebagai anak muda yang resah dengan situasi negerinya sekaligus terinspirasi revolusi Kuba, ia bergabung dengan kelompok gerilyawan kiri bernama Gerakan Pembebasan Nasional -Tupamaros (MLN-Tupamaros).

Dalam perjuangannya, Tupamaros menempuh taktik gerilya kota. Aksi-aksi mereka terbilang populis. Mereka merampok truk pengangkut makanan dan membagi-bagikannya kepada rakyat miskin. Selain itu, mereka pernah menculik pengusaha dan memaksanya mematuhi tuntutan buruh. Media-media melabeli mereka: “gerilyawan Robin Hood”.

Pada 1970-an, dalam sebuah penyergapan oleh tentara, Mujica dan kawan-kawannya tertangkap. Dalam tembak-menembak, Mujica terkena enam peluru dan nyaris kehilangan nyawanya. Beruntung, seorang dokter bedah, yang bersimpati pada perjuangan Tupamaros, menyelamatkan nyawanya.

Ia kemudian dibawa ke penjara Punta Carretas. Namun, cerita heroik kembali tercipta di sini. Seperti cerita dalam film The Shawshank Redemption (1994), Mujica dan kawan-kawannya berhasil kabur dari penjara setelah menggali lubang di bawah penjara yang mengarah pada ruang tamu sebuah rumah di dekat penjara.

Sayang, tak lama menghirup udara bebas, ia kembali ditangkap. Namun, seolah tak mengenal rasa takut, ia kembali berhasil kabur dari penjara melalui lubang yang dihubungkan dengan terowongan penjara. Namun, lagi-lagi, ia kembali ditangkap.

Baca Juga: Paradoks Kekuasaan

Gara-gara aksi bandelnya, ia ditaruh dalam penjara isolasi selama 14 tahun. Ia baru bebas pada 1985. Namun, penjara isolasi yang menyeramkan, dan membiasa membuat gila bagi mereka yang tidak kuat secara mental, tak membuat nyali dan semangat perjuangan Mujica surut.

Tak lama setelah keluar dari penjara, ia langsung mendirikan alat politik baru: Gerakan Partisipasi Kerakyatan atau Movimiento de Participación Popular (MPP). Gerakan politik ini berhaluan marxis dan bertekad memenangkan ruang politik elektoral.

Tahun 1994, MPP dan lusinan organisasi kiri lainnya menghidupkan kembali front politik yang sempat hiatus: Frente Amplio. Yang menarik, selain sebagai front kiri luas, Frente Amplio benar-benar memelihara mekanisme demokrasi secara internal.

Begitu pemilu bebas dimulai, Frente Amplio langsung ambil bagian, baik pemilu nasional maupun Pilkada. Hasilnya: mereka menang di Pilkada Montevideo. Tabaré Vázquez, dokter yang kelak jadi Presiden Uruguay, terpilih sebagai Walikota. Saat berkuasa di Montevideo, Frente Amplio berusaha membuat birokrasi yang responsif dengan mendorong demokrasi partisipatoris. Selain itu, Frente Amplio juga dianggap sukses mengurus pedagang kaki lima, pemulung, dan penghuni liar (pemukiman kumuh).

Saat Frente Amplio bereksperimen politik, Mujica membersamainya, bahkan menjadi pemimpin sekaligus ideolog partai. Ia beberapa kali menjadi senator mewakili Frente Amplio.

Tahun 2004, Frente Amplio membuat gempa politik: mereka memenangi Pemilu dan mengakhiri dominasi dua partai kanan di Uruguay. Tabaré Vázquez, yang pernah menjadi Walikota Montevideo, terpilih sebagai Presidn. Mujica ditunjuk sebagai Menteri Peternakan, Perikanan, dan Pertanian.

Tahun 2009, Mujica diusung oleh Frente Amplio sebagai calon Presiden dan menang. Ia resmi mulai bekerja sebagai Presiden pada 2010. Begitu menjabat, Mujica langsung gaspol untuk memberantas kemiskinan. Belanja sosial naik dari 60,9 persen menjadi 75,5 persen dari 2010 hingga 2014.

Dalam film dokumenter yang tayang di Netflix, El Pepe, a Supreme Life, kita menyaksikan keseharian Mujica yang sangat sederhana. Dia Presiden tanpa asisten rumah tangga: ia mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumahnya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Presiden, ia bertani. Ia mengolah sendiri lahan pertanian di dekat rumahnya: mencangkul, mengemudikan traktor, menyiram tanaman, menyemprot, dan memanen.

Di tempat tinggal Mujica tidak ada Paspampres. Pada hari kerja, ia berangkat ke Istana Kepresidenan dengan menyetir sendiri mobil tua, mobil Volkswagen Beetle tahun 1987, tanpa iring-iringan pasukan pengawal. Tidak ada nina-ninu. Kalau ada lampu merah, ia berhenti. Di Uruguay, tak cerita iringan pejabat menerobos lampu merah atau masuk ke jalur busway.

Mujica, seorang marxis yang bangga menyebut diri sebagai Republiken, ingin mengembalikan makna Republik ke khittahnya. Dalam republik, kepentingan umum lah yang diutamakan. Pejabat publik, termasuk Presiden, hanyalah pelayan kepentingan umum. Ia dipilih untuk bekerja untuk rakyat. Gaya hidupnya tak boleh berbeda dengan rakyat kebanyakan.

Dan sebagai marxis tulen, Mujica menghayati Marxisme hingga dalam gaya hidupnya. Baginya, sebagai seorang marxis ataupun sosialis, yang selalu memperjuangkan kesetaraan dan keadilan sosial, tak elok hidup bermewah-mewahan. Menurutnya, bermewah-mewahan itu gaya hidup kapitalistik.

Berbeda dengan pejabat di banyak negeri, yang ketika menjabat kekayaannya itu bertambah berkali-kali lipat, Mujica meninggalkan kursi Kepresidenan persis ketika ia memulainya. Hartanya tak bertambah sepeser pun.

Baca Juga: Dari Zero-Day ke Solo-Day

Selama menjabat, hampir 90 persen gajinya yang hanya sebesar 12.000 USD per bulan (sekitar Rp 190 juta, kurs Rp 16.000/USD) disumbangkan untuk membiayai program sosial dan UMKM.

Hartanya tetaplah rumahnya, tanah pertanian, traktor, dan satu mobil tua. Itu pun, karena tak mempunyai anak, Mujica dan istri bertekad menyumbangkan seluruh hartanya kepada yayasan yang akan bekerja untuk urusan sosial dan pendidikan.

Meski hidup sederhana dan terkesan santai, jangan remehkan kinerja pemerintahan Mujica.

Selama pemerintahannya, angka kemiskinan berkurang dari 12,7 persen 9,7 persen, sementara kemiskinan ekstrem dari 4,7 persen menjadi 0,3 persen. Uruguay adalah negara termakmur di Amerika selatan, dengan PDB per kapita sebesar 21,677 USD (tertinggi di Amerika selatan).

Kualitas SDM dan institusi politik Uruguay juga cukup sehat. Skor HDI-nya cukup tinggi, 0.830, peringkat ke-52 dunia dan peringkat ke-3 Amerika selatan. Korupsi di Uruguay sangat rendah. Skor untuk indeks korupsinya 74 dan peringkat ke-16 dunia. Skor indeks demokrasi Uruguay juga sangat tinggi: 8.66 (full democracy) dan peringkat ke-15 dunia.

Pada 2015, José Pepe Mujica mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden Uruguay setelah menjabat selama satu periode (2010-2015). Setelah dia tak lagi menjadi Presiden, ia tak berusaha membayang-bayangi Presiden penerusnya sekalipun itu kawan separtainya.

Acara serah-terima jabatan berlangsung sangat sederhana di Plaza Independencia, salah satu alun-alun terbesar dan bersejarah di kota Montevideo, Ibukota Uruguay. Di bawah terik matahari, para tamu negara duduk di kursi tanpa dipayungi tenda.

Hari itu, Mujica menyampaikan pidato terakhirnya sebagai Presiden persis dengan kata-kata Sukarno: “Jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsa.”

Pada 13 Mei 2025, Pepe Mujica yang tak kalah dalam menghadapi represi, tak pernah surut dalam berpolitik, dan tak pernah takluk oleh gaya hidup borjuis dan feodalistik, kalah oleh penyakit kanker yang merongrong tubuhnya sejak akhir April 2024. Ia berpulang dalam usia 89 tahun.

Ia kalah dalam peperangan melawan kanker, tapi tak pernah kalah dalam peperangan politik dan prinsip hidupnya. Ia manusia yang selalu tegak lurus dengan prinsip hidupnya. Ucapan dan tindakannya selalu bertemu. Ia adalah manusia politik paling langka di abad ini.

Selamat jalan, Pepe Mujica.
(FB. Jaques LeBroune)

Diakhir postingan Kerlip menulis di grup wa sebagai pesan : 

_andai ada pemimpin seperti ini di desa-desa kita tercinta_ (sof/ken/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat