Evaluasi Diri di Ujung Tahun: Menyesali, Memperbaiki, dan Melangkah Lebih Baik

Reporter : -
Evaluasi Diri di Ujung Tahun: Menyesali, Memperbaiki, dan Melangkah Lebih Baik
Ponirin Mika Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Jurnalis JatimUPdate.id 

 

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Jurnalis JatimUPdate.id 

Baca Juga: Malam Pergantian Tahun, Ketua Komisi A: Refleksi Diri, Bangun kebersamaan

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Setiap manusia diberi oleh Allah waktu yang terus bergulir tanpa bisa dihentikan.

Dalam dinamika waktu itulah, Allah memberikan ruang bagi manusia untuk merenung, mengevaluasi, dan memperbaiki diri.

Salah satu momen penting untuk refleksi adalah akhir tahun, baik tahun Masehi maupun tahun Hijriah.

Akhir tahun bukan sekadar penanda berakhirnya satu masa, tetapi juga momen spiritual dan sosial untuk mengukur sejauh mana manusia telah mengarungi hidup dengan nilai dan arah yang benar.

Ia adalah titik singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke tahun yang baru.

Dalam pandangan Islam, waktu bukan hanya dimensi kosong, melainkan amanah. Setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban.

Sebagaimana sabda Nabi, “Tidak akan bergeser kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan…” Maka akhir tahun bisa menjadi cermin untuk melihat umur yang telah kita lewati.

Evaluasi pada akhir tahun mestinya menyentuh tiga aspek utama: perilaku personal, ucapan atau komunikasi sosial, dan kebijakan publik bagi mereka yang memiliki tanggung jawab kekuasaan. Tiga aspek ini menentukan kualitas hidup individu maupun masyarakat.

Dari sisi perilaku, manusia bisa bertanya pada dirinya sendiri: adakah perubahan positif dalam karakter? Apakah semakin sabar, jujur, rendah hati, dan dermawan? Ataukah justru menjadi pribadi yang keras, egois, dan mudah marah?

Di ranah ucapan, akhir tahun menjadi waktu yang baik untuk menilai apakah lidah ini lebih banyak membawa kebaikan atau justru menyakiti orang lain. Ucapan, baik lisan maupun tulisan (termasuk media sosial), menjadi indikator kesehatan batin manusia.

Sedangkan bagi pemangku kekuasaan, baik di level pemerintahan, organisasi, maupun lembaga pendidikan, akhir tahun adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi kebijakan yang telah diambil.

Apakah kebijakan itu menyejahterakan rakyat atau justru menambah beban?

Allah memberikan waktu tidak hanya sebagai ruang hidup, tetapi juga sebagai ladang pertaubatan.

Setiap pergantian tahun adalah kesempatan untuk menyesali dosa, memperbaiki niat, dan memulai lembaran baru. Karena tidak ada yang tahu kapan ajal akan datang.

Manusia sering lupa bahwa hidup ini singkat. Sibuk mengejar dunia, kadang lupa pada nilai-nilai kebaikan. Maka akhir tahun bisa menjadi momen untuk berhenti sejenak, memikirkan arah kehidupan, dan kembali kepada Allah dengan hati yang jernih.

Dalam tradisi pesantren dan masyarakat santri, akhir tahun biasanya disertai dengan amaliyah seperti doa akhir tahun, muhasabah, dan kajian keagamaan.

Baca Juga: Pergantian Tahun 2024, Caleg Muda PKS Ajak Masyarakat Jaga Kondusifitas kota Pahlawan

Ini menjadi praktik kolektif yang memperkuat kesadaran spiritual dalam menapaki tahun baru.

Evaluasi diri bukan berarti mencari kesalahan semata, melainkan mencari titik perbaikan.

Tidak semua yang terjadi tahun ini harus disesali, karena banyak pelajaran berharga di balik kegagalan dan kesalahan.

Bahkan para ulama mengatakan, menyesali dosa adalah bagian dari taubat. Rasulullah SAW bersabda, "Penyesalan adalah taubat." Maka akhir tahun bisa menjadi ruang batin untuk menangisi dosa, memohon ampun, dan bertekad memperbaiki diri.

Dalam konteks sosial, akhir tahun bisa digunakan untuk memperbaiki relasi dengan sesama. Minta maaf kepada orang tua, pasangan, sahabat, atau siapa pun yang mungkin pernah tersakiti.

Ini bagian dari pembersihan jiwa menuju tahun baru.

Para pemimpin pun harus mawas diri. Kekuasaan adalah amanah. Setiap kebijakan yang mereka buat akan berdampak pada banyak orang.

Maka refleksi akhir tahun penting dilakukan agar tahun depan lahir kebijakan yang lebih adil, berpihak pada rakyat kecil, dan memuliakan kemanusiaan.

Kita juga perlu mengingat bahwa waktu adalah ciptaan Allah yang penuh berkah. Dalam surah Al-‘Ashr, Allah bersumpah demi waktu.

Baca Juga: Stok Bahan Pokok di Jatim Aman dan Harga Stabil Selama Masa Nataru

Ini menunjukkan betapa berharganya waktu dalam kehidupan manusia, yang seringkali diabaikan dan disia-siakan.

Di sisi lain, momentum akhir tahun bisa menjadi saat yang tepat untuk menyusun visi baru. Evaluasi bukan hanya retrospektif, tetapi juga proyektif—berpikir ke depan.

Apa yang ingin dicapai tahun depan? Apa target spiritual, sosial, dan profesional kita?

Bagi umat Islam, tahun baru Hijriah seharusnya tidak diisi dengan hura-hura, melainkan dengan dzikir, doa, dan semangat hijrah—berpindah dari keburukan menuju kebaikan.

Akhir tahun adalah jembatan menuju awal yang lebih baik.

Evaluasi yang jujur membutuhkan keberanian. Berani mengakui kekurangan, tidak menyalahkan orang lain, dan siap berubah. Inilah esensi dari muhasabah yang sebenarnya.

Tanpa kejujuran dan kerendahan hati, evaluasi hanya akan menjadi formalitas.

Maka, mari kita isi akhir tahun ini dengan perenungan yang dalam. Luangkan waktu sejenak untuk berbicara dengan diri sendiri, berdialog dengan hati, dan bersujud dalam hening memohon bimbingan Ilahi. Karena hidup yang berkah adalah hidup yang terus diperbaiki.

Akhirnya, semoga setiap kita mampu menjadikan akhir tahun sebagai momen transformasi spiritual. Menjadi pribadi yang lebih bersyukur, lebih bermanfaat, dan lebih dekat kepada Allah. Karena hidup bukan tentang berapa lama kita hidup, tapi seberapa baik kita mengisinya. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat