Merajut Budaya Sunda melalui Komunikasi ala Bapak Aing (KDM)

Reporter : -
Merajut Budaya Sunda melalui Komunikasi ala Bapak Aing (KDM)
Akhmad Abdul Muhyi, M.I.Kom. Peneliti Sygma Research and Consulting (SRC), Jurnalis JatimUPdate.id

 

Oleh: Akhmad Abdul Muhyi, M.I.Kom.

Baca Juga: Menciptakan Kesejahteraan Rakyat, Wamen Viva Yoga Ingin Bambu Dibudidayakan di Kawasan Transmigrasi

Peneliti Sygma Research and Consulting (SRC), Jurnalis JatimUPdate.id

Jakarta, JatimUPdate.id : Di tengah ramainya pemberitaan dan informasi terkait dengan pergeseran gaya komunikasi politik di Indonesia, Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang juga dikenal sebagai Bapak Aing hadir sebagai anomali sekaligus inspirasi gaya komunikasi bagi para pejabat daerah lainnya.

Bukan sekadar politisi biasa, ia juga aktif di media sosial layaknya seorang konten kreator sampai mendapat julukan sebagai "Gubernur Konten". Meskipun julukan tersebut seperti bentuk sindiran yang dilontarkan oleh para pengkritiknya, namun KDM terlihat menerima julukan tersebut.

Dia telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam memanfaatkan media sosial, bukan sekadar saluran komunikasi publik sebagai seorang Gubernur, tetapi sebagai ruang strategis untuk membumikan kembali nilai-nilai kearifan lokal sunda. Melalui pendekatan komunikasi yang humanis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, KDM berhasil menjadikan platform digital sebagai jembatan untuk merajut kembali benang-benang budaya sunda di Jawa Barat.

Gaya komunikasi KDM sangat khas dengan pembawaan yang empatik terhadap kondisi Jawa Barat secara umum, Ia juga tak ragu turun langsung ke lapangan, mendatangi warga hingga ke pelosok desa, mendengarkan keluh kesah mereka, bahkan tak jarang membantu memecahkan masalah warganya.

Momen-momen interaksi ini tidak hanya direkam sebagai laporan formal seorang pejabat, tetapi juga dikemas menjadi konten video menarik yang kemudian disebarluaskan melalui platform media sosial yang dimilikinya.

Secara umum, masyarakat Sunda, cenderung berada dalam kategori budaya high-context, komunikasi yang dilakukan sangat bergantung pada konteks hubungan personal dan tidak diucapkan secara eksplisit, karakteristik masyarakat sunda adalah menjunjung tinggi kesantunan dengan penggunaan istilah “punten" dan "mangga". Menariknya, KDM meskipun dalam menyampaikan pesan tetap menggunakan bahasa santun, namun juga kerap kali menyisipkan elemen Low-Context Communication di dalamnya.

Dalam ilmu komunikasi, low-context, pesan disampaikan secara eksplisit, langsung, dan lugas. Setiap kata memiliki arti literal yang jelas.

Di sinilah KDM menunjukkan adaptasinya ketika ia menjelaskan sebuah kebijakan atau merespons kritik di konten-konten media sosialnya, ia seringkali menggunakan bahasa yang sangat gamblang, sederhana, dan langsung to the point, memecah informasi kompleks menjadi bagian-bagian yang mudah dicerna oleh khalayak luas.

Ia tidak mengandalkan asumsi bahwa audiens akan memahami konteks politik yang rumit, melainkan menjelaskan secara terbuka dan gamblang.

Sebagai contoh, baru-baru ini keputusan kontroversial terkait perubahan nama sebuah rumah sakit yang semula dikenal dengan nama RSUD Al-Ihsan.

Rumah sakit tersebut diganti namanya oleh KDM menjadi RSUD “Welas Asih”, istilah dalam bahasa Sunda yang bermakna “Belas Kasih”. Pergantian nama ini sontak memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Meskipun demikian, dengan gaya komunikasi khasnya KDM menjelaskan latar belakang perubahan nama Rumah Sakit tersebut untuk menjawab kritikan dari berbagai kalangan masyarakat yang sebagian menyebut dirinya anti-Islam.

Baca Juga: Kades Bertato Yuni Nugroho Alias “Hoho” Alkaf Ubah Wajah Desa, Dedi Mulyadi: Kepemimpinannya Keren

Melalui sebuah konten singkat, KDM menjawab kritikan dengan eksplisit dan langsung, menjelaskan tentang arti dan makna dari nama tersebut.

Terlepas dari latar belakang dan kasus hukum yang sebelumnya juga terjadi di RSUD Al-Ihsan, perubahan nama menjadi RSUD Welas Asih mencerminkan sikap komunikasi KDM terhadap penguatan kearifan budaya Sunda melalui nama sebuah bangunan publik di Jawa Barat.

Bukan Sekadar Personal Branding

Lebih dari sekadar personal branding, komunikasi yang dilakukan KDM turut berkontribusi pada branding Jawa Barat secara luas.

Panggilan “Bapak Aing” menjadi umum bagi semua orang, khususnya warga Jawa Barat itu sendiri, panggilan tersebut disematkan kepada Gubernur Jawa Barat tersebut mengingat kebijakan dan gaya komunikasinya yang merakyat.

Panggilan "Bapak Aing", yang secara harfiah berarti "Bapak Saya" dan cenderung bersifat sangat informal, mencerminkan bahwa KDM, meskipun memiliki posisi sebagai salah satu tokoh sentral di Jawa Barat, berhasil mendapatkan tempat istimewa sebagai sosok orang tua yang dekat dan akrab bagi seluruh warganya.

Kehadirannya tidak dirasakan sebagai pemimpin yang berjarak, melainkan sebagai figur panutan yang mengayomi.

Terlebih lagi, gaya dan substansi kebijakan KDM tidak pernah lepas dari entitas budaya Sunda. Ia dengan bangga menjunjung tinggi landasan filosofi Sunda dalam setiap langkah pembangunan Jawa Barat.

Baca Juga: KDM Jelmaan Umar bin Khattab Masa Kini

Dedikasi ini tidak hanya memperkuat citra dirinya sebagai "Bapak Aing", tetapi juga secara aktif mempromosikan nilai-nilai kasundaan sebagai identitas inti Jawa Barat di mata publik.

Sebuah diskusi Kritis

Meskipun gaya komunikasi Kang Dedi Mulyadi selalu memukau dan berhasil meraih simpati publik, komunikasi yang dibangun juga tidak luput dari diskusi dan kritik yang mendalam.

Keberhasilan KDM merangkul julukan yang tadinya bernada sindiran, "Gubernur Konten", justru menunjukkan kemampuannya dalam strategi framing pesan dengan mengambil alih narasi negatif dan mengubahnya menjadi pengakuan atas strategi komunikasi seorang Gubernur di media sosial. Meskipun demikian, di balik keberhasilan ini terdapat beberapa aspek yang patut dicermati secara kritis.

Pertama, pendekatan KDM yang cenderung populis seringkali dianggap hanya berorientasi pada pencitraan semata. Selain itu,  yang kedua, ketergantungan yang sangat kuat pada sosok Dedi Mulyadi sebagai sosok yang sentral juga membawa risiko bagi karir dan personalnya.

Ketiga, fenomena "Bapak Aing" memang mengukuhkan koneksi emosional yang luar biasa, namun ini juga berarti citra yang telah dibangun dengan susah payah melalui kedekatan emosional dapat menjadi sangat rentan.

Keempat, jika suatu saat muncul kontroversi serius yang mengikis kepercayaan publik terhadap KDM secara personal terlepas dari relevansinya dengan kebijakan pondasi yang dibangun di atas persona kuat ini bisa goyah dengan cepat. (yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat