Di Hadan Ribuan Warga - Para Sultan Keraton, Dedi Mulyadi Ungkapkan Luka Lama Yang Jarang Diketahui Publik
Cirebon, JatimUPdate.id - Suasana Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 di Kota Cirebon mendadak berubah haru saat Dedi Mulyadi menyampaikan pidato kebudayaan di Alun-alun Sangkala Buana Kasepuhan, Minggu malam (10/05/2026).
Dan di tengah pidatonya, Dedi tampak beberapa kali menghentikan ucapan karena menahan tangis.
Dalam momen itu, secara khusus Dedi mengaku pernah mendapat tekanan besar ketika mulai mengangkat budaya Sunda dan narasi Pajajaran dalam konsep pembangunan daerah sejak tahun 2003. Kala itu dirinya masih menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta.
Bahkan lebih jauh menurut Dedi, perjuangannya tidak berjalan mulus. Dedi mengaku sempat dicaci, disindir, hingga dituduh sesat karena dianggap terlalu menghidupkan simbol dan filosofi budaya Sunda dalam pemerintahan.
“Berkali-kali saya diperiksa terus-menerus. Dituduh musyrik, dibilang kembali ke zaman batu,” kata Dedi dengan suara bergetar di hadapan ribuan warga.
Meski mendapat banyak serangan, Dedi mengaku tetap memilih bertahan karena yakin budaya adalah bagian penting dari identitas masyarakat.
Dedi percaya pembangunan daerah tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan sejarah dan akar budayanya sendiri.
Pidato tersebut langsung disambut tepuk tangan panjang warga yang memadati pusat Kota Cirebon. Banyak masyarakat terlihat terdiam ketika Dedi mulai berbicara soal perjuangannya mempertahankan budaya Sunda di tengah kritik yang pernah datang kepadanya.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menegaskan bahwa Pajajaran bukan sekadar cerita masa lalu atau mitos.
Lebih dalam Dedi menyebut jejak peradaban Sunda masih hidup melalui keraton, peninggalan sejarah, hingga tradisi masyarakat yang masih bertahan sampai sekarang.
Kirab budaya malam itu sendiri berlangsung meriah. Dedi tampil menunggang kuda dengan pakaian adat serba putih sambil diiringi berbagai kesenian tradisional dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat.
Bahkan ribuan warga memenuhi jalanan demi menyaksikan langsung kirab Mahkota Binokasih yang menjadi simbol kebesaran Tatar Sunda.
Di akhir pidatonya, Dedi menegaskan bahwa pembangunan harus berjalan bersama budaya dan nilai kemanusiaan. Baginya, kemajuan daerah bukan hanya soal gedung tinggi dan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga martabat sejarah serta identitas masyarakatnya. (wb/yh)
Sumber : Subang.info
Editor : Yuris. T. Hidayat